22: Tumor

5.8K 262 61
                                        

Farel khawatir pada kondisi Arial semalam, namun berulang kali Arial mengatakan dirinya hanya demam biasa.

Farel membuka pintu kamar Arial perlahan, jarum panjang sudah berada di angka enam tetapi Arial masih berbaring di ranjang tidak menunjukkan tanda-tanda persiapan berangkat ke sekolah.

Bibir Arial bergetar menahan dingin yang menusuk sekujur tubuhnya sampai ke tulang. Hidung Arial memerah, selimut tebal menutup sebatas mulutnya. Arial beberapa kali melenguh tidak nyaman.

"Al," Farel menyelupkan kain lembab yang sudah mengering ke dalam baskom kecil berisi air. Pasti Arial sendiri yang sudah mandiri mengompres keningnya yang sepanas cuaca di Ibukota itu.

Arial membuka matanya segaris, melihat wajah kabur Farel yang sudah siap berangkat sekolah.

"Gue ijin dulu ya," ujar Arial bergetar.

"Badan lo panas banget Al," Farel menatap iba Arial.

"G-gue kedinginan R-Rel..." Arial memejamkan matanya.

"Bentar gue ambilin selimut lagi," Farel membuka lemari Arial.

Tak berselang lama tubuh Arial kejang-kejang, bola mata Arial berputar menunjukkan hanya kornea matanya yang kelihatan.

"Al! lo kenapa?!" Farel panik menepuk pipi Arial.

"BUNDA! AL KEJANG BUNDA!" Farel berteriak memanggil Ranum yang tengah menyiapkan sarapan.

Ranum mendongak ke atas, bergegas ia menyusul Farel menuju kamar Arial. Begitu membuka pintu Ranum terkejut bukan main Arial sudah kejang-kejang serta bola matanya menghilang.

"Al kenapa Farel?"

"Badan Al panas banget, Bun! Bilang dingin mau aku ambilin selimut langsung kejang-kejang," Farel berkata panik melihat Arial tak kunjung sadar.

Ketika Ranum menyentuh pipi Arial, anak itu langsung lemas setelah mengalami kejang hampir satu menit lamanya. Namun tangan-tangan Arial masih menekuk ke belakang.

"Eugh ..." Arial melenguh, keningnya mengerut dalam.

"Kenapa Al?" Ranum mendekat duduk di pinggir kasur Arial sembari menyentuh keningnya.

"Argh!" Kedua tangan Arial naik menjambak rambutnya sendiri. Arial mengerang kesakitan.

Jambakan di tangan Arial terlihat kuat, entah bagaimana rasa sakitnya hingga Arial seolah ingin mencabut seluruh rambutnya dari akar kepala.

Jovan menyelipkan tangannya di bawah lekukan kaki serta pundak Arial. Jovan berlari membawa putra tirinya itu masuk ke dalam mobil. Ranum sudah duduk di kursi belakang lalu Jovan menaruh kepala Arial di atas pangkuan Ranum.

"Kamu sekolah saja ya, nanti Bunda kabarin kondisi Al," tutur Ranum membuka kaca jendela mobil.

"Aku pengen ikut Bun," protes Farel.

"Jangan Farel, kamu sekolah saja," Jovan menimpali.

Jovan yang menyetir mobil, ia melihat guratan risau istrinya menatap wajah Arial yang benar-benar pucat.

"Ranum," panggil Jovan.

Ranum mendongak.

"Kamu selalu ngasih dia makan kan?" tanya Jovan.

Ranum terdiam, menatap Arial sejenak kemudian menggeleng pelan.

"Aku nggak pernah nyuruh dia makan Mas,"

Jovan menghela nafas pelan. "Kasihan dia Ranum."

Air mata Ranum menetes membasahi pipi Arial. "Maafin Bunda ya, Al..."

Stepbrother✔️ [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang