"Di hadapan Tuhan, pendek kata, segala yang merupakan tujuan kita adalah nama kita yang sebenarnya."
-Rumi-
*
*
*
2 Tahun yang lalu.
"Zhaf, sebagaimana pun keras dia berjuang, nyatanya merpati ga akan pernah terbang setinggi elang."
Air mataku menetes saat mendengarnya mengatakan hal tersebut. Aku menatap pedih mata sahabatku yang kini seakan menamparku dengan kenyataan perih yang harus ku hadapi. Namun Fariza hanya tersenyum menguatkanku dan memelukku pelan.
"Ingat apa yang Allah katakan dalam kitab-Nya?"
Aku melepas pelukanku dan menatap sahabatku lekat. Ia tersenyum seakan senyuman itu mampu meneduhkan hatiku.
"Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 186:
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
Yang memiliki makna tersirat yang begitu indah."
"Aku akan berlari saat kau memanggil nama-Ku," ucapku yang dibalas senyuman lebar Fariza.
Air mataku tak lagi mampu kubendung kali ini. Aku terlalu jauh dari Tuhanku dan agamaku. Dan Fariza telah berhasil menuntunku kembali ke arah dimana aku seharusnya berada. Aku sadar akan kedholimanku yang selama ini dibutakan oleh hal-hal duniawi yang tak seharusnya kukejar. Aku terlalu jauh dari kata sempurna untuk melangitkan sebuah doa, terlalu malu kepada Sang Pencipta yang sering kali ku lupakan keberadaan-Nya. Pengejaranku pada hal-hal duniawi ini hanya membuatku semakin lalai dan melangkah menjauhi kata beriman yang sesungguhnya.
"Imam Syafi'i pernah bilang, sebesar apa pun kita bergantung pada makhluk, sebesar itu juga harus siap dikecewakan."
Aku menatap arah sumber suara itu. Laki-laki tampan dengan kemeja putih itu bersandar di pintu dengan senyum teduhnya saat menatap kami berdua. Aku berusaha menahan air mataku yang sudah hampir saja keluar saat mendengar kata-katanya.
"Zhaf, Allah memberimu sebuah ujian karena Allah ingin berbicara padamu. Allah ingin kamu mengutarakan semua isi hatimu kepada-Nya. Allah ingin kamu mengingat betapa besar cinta-Nya kepadamu. Allah ingin kamu tau bahwa hanya Dia yang selalu setia menemanimu. Allah tak ingin kamu jauh dari-Nya dan ingin kamu senantiasa mengingat-Nya," ucapan Zaidan seakan menamparku jauh dari angan indah ku penuh kedholiman duniawi.
"Allah ingin berbicara kepadamu Zhaf."
Suara lembut Fariza menenangkan hatiku yang berkecamuk karena belenggu duniawi yang hanya tampak indah dari sudut pandang kedholimanku. Namun ucapan Zaidan seakan menyeretku kembali ke jalanan berkerikil tajam dimana aku bisa melihat adanya keindahan di ujungnya. Keindahan yang bahkan lebih indah dari surga duniawi yang dikejar-kejar oleh makhluk-Nya.
Dan saat ini lah aku sadar, cita-cita tinggi yang kuperjuangkan, dan jatuh bangunnya diriku untuk menggapai ekspetasi orang lain hanya tong kosong yang tampak berat namun aslinya ringan.
***
2 tahun kemudian.
Aku termenung menatap lurus ke arah langit senja kala itu. Beberapa kali kutangkap dari mata dan memori pikiranku beberapa burung yang mulai kembali dari perburuannya. Sesekali juga kulihat padatnya suasana ibu kota yang menunjukkan hangatnya seorang ayah dan anak yang kembali berkumpul dengan keluarganya setelah terbebas dari kesibukan hariannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romance"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
