"Tuhan menguji kita dengan sesuatu yang kita cintai, maka janganlah berlebihan mencintainya, agar saat sedih tidak berlebihan."
*
*
*
Aku terdiam menatap gelapnya dunia dibawa langit tanpa bulan dan bintang itu. Sesekali hembusan angin mampu membuat kulitku bergetar dan merinding karena dinginnya. Tanganku masih bergetar kala sesekali kutatap telapaknya seakan aku mampu membayangkan darah segar yang menetes dari tanganku. Wajahku tampak begitu pucat kala menatap porak porandanya dunia di hadapanku. Sesaat kupejamkan mataku seakan tengah menenangkan hati dan pikiranku yang kacau. Tiba-tiba seseorang berdiri di sebelahku sembari memberiku sebotol air. Kutatap sosok itu yang kini tersenyum dengan indahnya kepadaku.
"Terima kasih," ucapku pelan yang dibalas anggukan dan senyuman indah dari Zaidan.
"Aku tau rasanya," ucapnya lembut.
"Fariza di mana?" tanyaku pelan.
"Di dalam, sedang menidurkan Aisyah."
"Ga apa-apa kalau kita ngobrol berdua di sini?" tanyaku sedikit ragu.
"Kenapa tidak boleh, lagi pula kita ngobrol sebagai saudara kan?" ujar Zaidan dengan senyuman indahnya yang merekah.
Aku mengangguk memahami sebelum menunduk piluh.
"Boleh aku bercerita?" tanyanya.
"Silahkan!"
"Satu tahun yang lalu, aku menjadi volunteer di Yarussalem. Saat itu kondisi benar-benar keos sampai aku harus menggendong 2 anak tanpa dosa di tanganku. Darah seakan mewarnai kemeja putihku kala itu hingga warna putihnya sama sekali tak terlihat. Sakit Zhaf, aku mendengar isakan anak dalam gendonganku yang memanggil orang tuanya yang sudah tak bernyawa di belakang kami. Orang-orang mulai mengevakuasi mereka. Kakaknya masih bertahan hingga aku membawanya ke rumah sakit hingga akhirnya beliau juga tak tertolong, menyisahkan 1 anak kecil yang ku evakuasi yang masih berusia 7 tahun."
Air mataku kembali menetes kala mendengar cerita itu. Rasa sakit yang Zaidan ceritakan seakan mampu kurasakan. Hatiku tersayat dengan begitu dalamnya hingga meninggalkan rasa pedih.
"Ternyata hidup ini hanya dipenuhi oleh hitam dan putih, monokrom tak bewarna dan hanya menyisakan sakit yang mendalam."
"Dunia memang jahat terkadang, tapi, itu jika kamu memasrahkan segalanya pada makhluk, namun, di kala kamu menyerahkan segalanya pada Sang Pencipta. Tuhan pasti sudah merencanakan indahnya warna dalam hidupmu."
Aku menunduk pelan sebelum mataku menangkap sosok Zaidan yang berdiri dengan berjarak di sebelahku. Kutatap kembali tanganku yang masih bergetar kala membayangkan apa yang terjadi hingga seseorang memanggil namaku secara tiba-tiba.
"Zhaf," suara itu membuatku menoleh menatap sosok cantiknya yang menatapku teduh dengan mata tajamnya yang mulia.
Wajahnya tampak begitu indah dan berseri bak Cleopatra yang selama ini diceritakan. Angin menghempas khimar indahnya bersamaan dengan seutas senyuman indah yang ia tunjukkan kepadaku di antara wajah berserinya yang tanpa celah.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Storie d'Amore"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
