Hassan bin Tsabit menggubah syair untuk Hamzah:
"Seorang warga Hasyim mencapai yang cemerlang /
Tampil ke medan laga membela kebenaran /
Gugur sebagai syahid di medan pertempuran /
Di tangan Wahsyi pembunuh bayaran."
*
*
*
Yusuf menatap langit dengan matahari yang mulai bergeser ke ufuk barat. Sesekali ia menatap sekitar sebelum dirinya dikejutkan oleh suara keras dari belakangnya yang membuatnya menoleh. Ia dengan jelas melihat seekor kuda putih gagah yang tengah berlari dengan kencangnya ke arahnya. Tampak di punggungnya terdapat pelana dengan tali yang masih mengikat tubuhnya. Namun, tak seorang pun yang menunggangi kuda tersebut. Mata Yusuf melebar saat kuda tersebut dengan kencangnya berpacu ke arahnya yang dimana jika ia tak segera bergerak kuda itu akan menabraknya. Tapi justru hal lain mampu menggetarkan hati Yusuf saat menatap kuda tersebut.
Desir pasir di padang pasir tersebut seakan menjadi sebuah makna indah dengan angin yang bersemilir diantaranya. Mata tajam Yusuf menyipit seakan ia mempertajam pengelihatannya. Ia berlari menuju sang kuda yang berlari ke arahnya dan menggapai tali di tubuhnya. Kakinya sempat terseret di pasir saat sang kuda masih berlari dengan kencangnya. Namun Yusuf tak berhenti sampai disana. Tangan kirinya menggapai tubuh sang kuda dengan tangan kanan yang masih menggenggam tali sebelum salah satu kakinya menggapai stirrup di sisi badan sang kuda, ia berusaha menyeimbangkan posisinya sebelum menaikkan diri di punggung sang kuda dan menarik talinya untuk mengendalikannya. Sang kuda sempat memberontak dan tak ingin di kendalikan.
"بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ , اَلَّا تَعْلُوا عَلَىَّ وَاْتُونِى مُسْلِمِيْنَ"
Teriaknya sembari menarik tali sang kuda. Kuda tersebut sempat bersuara sebelum berhenti dan mulai tenang saat Yusuf mengusap lehernya dengan lembut.
"Masyaallah," suara itu membuat Yusuf menoleh dan mendapati sang pria paruh baya yang kemarin ia temui tengah duduk di punggung untanya.
"Namanya Dzulfikar," tambahnya. "Dan kamu telah berhasil menaklukkannya. Tak salah jika aku menemukan sosok Hamzah bin Abdul Muthallib dalam tatapanmu."
Yusuf menghela napas pelan dengan senyuman tipisnya sebelum turun dari punggung Dzulfikar dan menatap pria paruh baya tersebut yang juga turun dari punggung untanya.
"Namaku Tamriz, aku belum memperkenalkan diri kepadamu kemarin," ungkap beliau lembut.
"Tamriz? Sepertinya saya tidak asing dengan nama itu."
Pria paruh baya bernama Tamriz itu tersenyum dengan wajah berserinya saat menatap Yusuf. "Kamu pasti murid Syeikh Ja'far Ali bin Ilyas Al-Kaff."
"Bagaimana anda tau?"
"Aku sering dipanggil dengan nama Tamriz Zeki Osmen saat di Turki."
"Tamriz Zeki Osmen?" kejut Yusuf saat menatap pria tersebut. "Masyaallah, itu berarti anda Syeikh Rasyid Al-Faruq, salah satu murid Syeikh Ja'far."
Pria tersebut kembali tersenyum hingga nampak sederet gigi putih beliau yang berseri saat Yusuf menjabat tangan beliau dan dengan santunnya bak menjabat tangan seorang ulama besar yang merupakan gurunya. Namun, bukannya merasa menggurui, Syeikh Rasyid justru menunduk dan mencium telapak tangan Yusuf pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romance"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
