"Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata, kusimpan kasih-Mu dalam dada."
-Rumi-
*
*
*
Aku berjalan menyusuri lorong ramai rumah sakit di yang sudah seperti rumah keduaku ini. Kali ini langkahku bersebelahan dengan sahabatku, Daffa, yang tengah menjelaskan perihal vaksin meningitis yang tengah aku teliti sebelum disebarkan ke beberapa jamaah umroh nusantara. Beberapa saat aku sempat berjanjian dengan salah temanku yang lain untuk membantuku dalam penelitian ini.
"Zhafira!" sapa seseorang yang langsung menghentikan langkah kami berdua.
"Dini? Ya Allah.... Lama banget ga ketemu." tubuhku seketika langsung membaur ke pelukan sahabatku itu dengan penuh suka cita.
"Ini aku boleh join ga sih?"
"Bukan mahrom Kak!" bantah Dini ketus.
"Loh, kak Nabil?" kejutku yang menatap sosok tinggi itu di balik tubuh Dini.
"Halo teh geulis, apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, kok kak Nabil ada disini?"
Nabil sempat melirik Daffa yang kini tengah sibuk dengan beberapa catatan di tangannya dengan tajam.
"Kamu ga bilang ke Zhaf, Daf?" protes Nabil.
"Kak Nabil juga akan ngebantu kamu dalam penelitian ini," balas Daffa masih dengan nada datarnya.
"Ga berubah-berubah aja kamu Daf, pantes susah dapat jodoh," goda Nabil yang tak diberikan balasan apa pun oleh Daffa.
"Iya Zhaf, jadi aku sama kak Nabil bakal ngebantu kamu untuk melakukan penelitian, jadi minggu depan ketika kamu berangkat, kamu ga perlu khawatir masalah vaksin. Ada kami berdua," Jelas Dini.
"Bener tuh teh geulis, aman deh kalau sama kita mah."
"Makasih kalian berdua," balasku dengan perasaan lega saat mendengar penjelasan keduanya.
Ada perasaan lega dan bahagia saat kami kembali bertemu setelah lebih dari 4 tahun tak bertemu. Kami berempat sempat berbagi pengalaman dan perjalanan yang pernah kami lalui. Saat itu lah aku sadar, bahwa masih ada banyak orang-orang yang selalu berada di pihak ku dan mendukung keputusan baikku untuk kepentingan bersama. Rupanya Allah begitu baik ditengah kedholimanku yang terkadang masih lalai kepada-Nya. Namun, rasa syukur ini tak akan pernah bisa kugantikan dengan apa pun. Ketenangan hatiku justru membuatku merasakan kebahagiaan yang aku butuhkan, bukan yang aku harapkan dan inginkan.
"Assalamualaikum."
Sebuah suara berat berhasil membuyarkan kesibukan kami masing-masing. Dan saat itu juga, senyumku luntur diantara wajahku saat menyadari asal dari suara itu. Sosok itu masih sama seperti 7 tahun yang lalu. Wajah dan tatapan teduh berserinya yang berhasil menyejukkan hatiku yang kalut. Senyumannya seakan membuat kami segan dan menghormati sosoknya yang diselimuti keilmuan dari kota sang sejarawan.
"Waalaikumsalam, gus Syafeed?" suara Nabil seakan memastikan sosok dihadapannya.
"Iya Bil, masak kamu lupa sama teman sendiri."
"Masyaallah gus!" Nabil segera memeluk temannya itu dengan penuh semangatnya. "Bagaimana kabarnya gus?"
"Alhamdulillah toyyib Bil, kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah gus," balas Nabil melepaskan pelukannya. "Sendirian aja?"
"Menurut kamu?"
"Ya kan barangkali gus Syafeed pulang bawa istri cantik dari Mesir," goda Nabil yang diselimuti kekehan pelan gus Syafeed.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romance"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
