"Sejauh apa pun aku mencoba menggapainya, nyatanya, aku sadar bahwa aku hanya seekor merpati yang tidak akan mungkin bisa terbang setinggi elang."
-Haidar Yahya Tsani-
*
*
*
Aku berjalan memasuki gedung putih nan megah ini yang sudah bertahun-tahun ku impikan, dan kini disini lah aku. Berdiri di atas kakiku sendiri dan menjadi bagian dari indahnya peradaban pendidikan di benua ini. Beberapa saat aku sempat mengobrol dengan Abigail sebelum kami berpisah di sebuah koridor di mana kami harus memasuki kelas kami masing-masing. Aku berjalan memasuki ruang kelas di mana aku duduk di salah satu kursi koaong yang bersebelahan dengan seorang perempuan berkulit gelap yang nampak begitu cantik di mataku.
"Hi," sapanya.
"Hi," balasku dengan senyuman ramah.
"I'm Elena, and I'm from Kenya."
"Kenya? Wow, I'm Zhafira, from Indonesia."
"Indonesia, negara yang indah, aku pernah melihatnya di sosial media. Kalian memiliki pantai yang indah."
"Terima kasih," ucapku
"Hey, you're from Indonesia? Me too," sebuah suara mengejutkan kami berdua dari belakang, membuat kami menoleh dan menatap sosoknya.
Seketika mataku terbelalak menatap sang pemilik suara yang menengahi kami berdua.
"Kak Haidar?" kejutku.
"Zhafiy?" balas kak Haidar yang memanggil namaku dengan nama akrab yang biasa ia panggil untukku.
"Kok kak Haidar disini?"
"Aku, ada projek penelitihan di sini."
Aku mengangguk pelan seakan memahami ucapan Haidar saat menatap sosok ini, yang anehnya aku masih dapat merasakan perasaan nan perih kali terakhir aku melihatnya. Tubuhku seakan tersengat oleh listrik saat pikiranku kembali membayangkan saat-saat indahku bersamanya. Ada sedikit penyesalan yang kurasakan, namun, ini adalah pilihanku untuk melepaskan semua kenangan itu dan tak ingin terjerat oleh siapa pun. Sesekali aku menunduk dan menghindari tatapan Haidar saat aku sangat yakin bahwa laki-laki itu tengah menatap cincin yang terpasang indah di jari manisku.
"Sudah lama tak bertemu," ucapnya berusaha mencairkan suasana.
"Iya," balasku.
"Boleh makan siang bersama nanti? Aku ingin mengobrol bersamamu. Sebagai teman lama."
Tanpa kusadari kepalaku mengangguk pelan menerima ajakan itu dengan senyuman tipis yang terukir di bibirku. "Tentu," balasku pelan.
Beberapa saat kami saling menyapa saat seorang profesor paruh baya dengan kacamata tebal memasuki ruangan kami. Tubuhnya nampak kurus dan rentan dengan wajah pucat dan rambut putih yang jarang. Sesekali beliau menatap seisi ruangan ini satu per satu.
"Morning everybody," sapanya tegas.
"Morning sir," ucap seisi ruangan bersamaan.
"Today, kita akan berdiskusi tentang filosofi kehidupan menurut ilmu filsafat," ucap beliau. "Kebetulan, hari ini, kita kedatangan salah seorang mahasiswa filsafat dari sebuah universitas besar di Timur, silahkan!"
Sesaat setelah sang profesor memanggil, sosok tersebut berjalan memasuki ruangan dengan gagahnya. Sepatunya terdengar menggema mengisi seisi ruangan dengan sosoknya yang penuh kewibawaan. Tak salah jika para murid perempuan di dalam kelas ini terdiam mengagumi sosoknya yang justru membuatku terkejut setengah mati di tempat. Dan hal itu mampu ditangkap oleh Haidar di belakangku. Yusuf? Batinku seakan tak ingin menerima apa pun yang ada di hadapanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romance"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
