Syair dan Kisahnya

55 2 0
                                        

"Biarkan aku memelukmu lewat doa dan mengagumimu dari jauh. Karena mendoakanmu adalah cara memcintai yang paling rahasia."

*
*
*

Mencintaimu adalah keputusan tergila dalam hidupku. Dengan segala hal yang penuh dengan kekacauan di hidupku, aku melawan kewarasan untuk berani mencintai sosok manusia dengan segala kesempurnaan seperti dirimu. Dengan tak tau malunya, aku menyebut namamu dalam dialog indahku bersama Sang Pencipta.

Aku tak meminta dirimu seutuhnya karena hati tak bisa dipaksakan, hati adalah hal paling rumit yang sulit untuk diungkapkan secara lisan. Aku hanya meminta agar Tuhan senantiasa melindungimu sebab mencintaimu adalah hal terabstrak dalam hidupku. Ketulusanmu bukan hanya ego semata. Maka kamu adalah keabadian yang selalu tertulis dalam sajak diksiku. Kamu adalah pemeran utama dalam segala kisah sang penyair. Dan langit selalu menjadi saksi akan keindahan diriku yang mengagumimu.

Sajak diksiku
(Zulaikhamu)

-----

Perempuan itu menatap indahnya langit yang memancarkan temaram bulan yang bersinar dengan indahnya. Rembulan kala itu memang tak sepenuh dan seterang malam-malam sebelumnya, mungkin karena ia terkalahkan dengan binar lampu dari perkotaan yang tampak seperti lautan bintang di langit nan gelap gulita. Ia tutup buku birunya itu dengan secercah senyuman yang merekah indah di antara bibirnya. Hembusan angin malam menghempas rambut indahnya yang tertutup selendang terbuka tanpa ia kait. Dunia ini tampak begitu indah di matanya, namun siapa tau bahwa di antara indahnya dunia ini ada jutaan tetes air mata kesedihan yang mewarnai setiap hal yang tersaji.

"Belum tidur?" tanya seorang teman.

Perempuan itu tersenyum tipis dengan wajah pucatnya yang terlihat indah di bawah refleksi cahaya bulan yang temaram. Mata tajamnya masih dengan dalamnya menatap sang purnama tanpa memalingkannya kepada apa pun di sekitarnya, bahkan ia yak memedulikan dinginnya angin yang berhembus dan membuat kulitnya meremang karena dinginnya cuaca malam itu.

"Aku pernah mendengar kisah salah seorang sahabat yang mengatakan bahwa indahnya purnama layaknya indahnya wajah Rasulullah," gumamnya pelan.

Sahabatnya itu tersenyum tipis kala melihat sang sahabat yang membawa serangkaian bunga putih yang berisi 3-5 bunga. Bunga itu tampak indah di tangannya dengan siluet rembulan yang memancar dan meneranginya.

"Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya sang sahabat yang membuatnya menunduk menatap bunga tersebut.

Lantar perempuan itu kembali tersenyum di antara wajah pucatnya yang nampak indah dan berseri di bawah cahaya rembulan yang temaram.

"Aku menemukannya tumbuh liar di halaman belakang," jawabnya.

"Lalu, kenapa kamu mengambilnya?"

"Karena aku telah menyiapkan sebuah pot indah untuk menanamnya kembali tanpa bersaing dengan banyaknya ilalang liar di belakang."

"Bukankah justru lebih baik jika kamu membiarkannya tumbuh di alam?"

"Akan lebih baik jika kita menjauhkannya dari alam yang bukan tempatnya. Bukankah manusia juga demikian? Bagaimana jika kita membiarkan mereka tetap berada di lingkungan yang liar?"

She Is not CleopatraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang