Teruntuk Askara Alzian Mahendra
Dirimu adalah sosok pemilik nayanika di bawah bentangan bumantara, namun sayangnya tetap menjadi fatamorgana yang enggan menjadi nyata.
Aku ingin mencintaimu seperti seorang seniman. Seperti pelukis yang melukis indah semua kenangan. Seperti seorang penulis yang mengabadikan dalam tulisannya. Dan seperti musisi yang menyimpan seseorang lewat lagunya.
Tapi aku adalah aksara tanpa makna dan kamu adalah metafora yang fana. Layaknya baskara dan bentala, kita adalah dua atma yang tak diizinkan oleh semesta.
Singkatnya kisah kita telah membuatku sadar, kamu mungkin menyebut dirimu tak istimewa. Namun, setiap kali namamu tercoret di atas bait diksi dalam bukuku, itu membuat hidupku terasa istimewa bersamamu. Percaya atau tidak, tapi seberapa sering pun mataku menangkap sosok lain, kamu tetaplah pemenangnya.
Hanya saja, aku ingin meminta maaf atas nama hatiku. Sekali pun kamu selalu menjadi pemenang dalam indahnya kekagumanku atas sosokmu. Tapi hatiku bukan lah milikmu. Ini hanya tentang keindahanmu yang mampu membuatku terpesona, meski pun hanya sesaat, aku tetap mengagumi sosokmu yang indah di bawah bentangan Nabastala dengan pancaran Lembayung yang indah. Tak salah jika namamu berarti Askara, yaitu "Cahaya."
*
*
*
Pagi itu aku dan para sahabatku telah memasuki sebuah meeting hall mewah nan indah dengan banyaknya peradaban yang terbaur di dalamnya. Sesekali aku menyapa beberapa teman yang ku kenal lewat sahabatku, Dhaniya, sesekali pula kami hanya saling menyapa antar umat dan mengobrol ria. Saat ini lah aku memahami indahnya perbedaan walau pun aku tau bagaimana gundahnya hatiku kala ini. Sesekali kuamati indahnya arsitektur yang terukir megah dalam bangunan ini. Kuakui aku memang sempat ingin mengambil jurusan arsitektur saat mengambil program sarjana. Tapi takdir berkata lain. Apa pun yang kuperoleh dititik ini tak menghentilan diriku untul terus bersyukur. Satu per satu mimpiku tercapai dengan takdir indah-Nya bersamaan dengan langkahku yang menjelajai peradaban lain di dunia.
Kudapati kini para sahabatku tengah mengobrol ria saat sebuah pintu terbuka menampakkan salah seorang guru besar yang terlihat begitu mulianya berjalan melewati kami. Namun bukan itu yang membuat duniaku kembali kacau, namun 2 pasangan paruh baya yang berjalan di belakanh sang guru yang merupakan 2 guru muliaku, Abah kyai dan istri beliau yang mulia. Dadaku kian terasa sesak kala aku menatap sosok laki-laki dengan senyuman berseri nan penuh karismanya berjalan di belakang para guru.
"Jadi, beneran Gus Syafeed ya?" gumam Dini yang duduk di sebelahku yang tak mampu kubalas dengan kata-kata.
"Lu ga apa-apa kan ning?" tanya Taliyah yang duduk di sisiku yang lain.
Aku tersenyum tipis saat seakan memberikan jawaban tersirat yang aku sangat yakin tak mampu memuaskan hati Taliyah. Sejenak aku terdiam saat mataku mengikuti arah kemana Gus Syafeed berjalan sembari menundukkan pandangannya dengan santun sebelum menaiki panggung dan duduk di salah satu kursi di sebelah sang guru besar. Mataku sempat menatap indah dan teduhnya wajahnya saat tatapan kami tiba-tiba bertemu dan membuat sosok mulia itu menunduk santun sembari mengucapkan dzikir dalam hatinya.
Acara telah berjalan hampir 1 jam saat sang guru besar nan mulia memaparkan bagaimana perbedaan sistem belajar dari berbagai peradaban. Kala semua orang mulai mencerna ucapan sang guru besar dengan segala keindahan tutur katanya yang muliah, pintu utama ruangan itu terbuka, menampakkan sosok laki-laki dengan tegapnya berjalan melewati kami. Wajahnya menunduk dengan teduh sementara tangannya menggenggam sebuah buku tebal dengan kertas yang mulai menguning karena termakan usia. Aku sempat bertanya dalam benakku siapakah sosok itu, hingga mataku menatap jelas wajah indahnya yang selalu ku ingat bahkan hampir 5 tahun aku tak melihatnya.
"Itu...." kejut Taliyah yang merasakan hal yang sama denganku.
"Zian?" gumamku seolah membeku di tempatku.
Askara Alzian Mahendra, seperti itu lah nama indahnya yang sering kulihat dalam deretan kertas nilai yang tertempel di papan pengumuman setiap hari Sabtu di Boarding School kami 5 tahun yang lalu. Sebuah nama yang sempat memporak porandakan hatiku dengan segala kesempurnaannya. Bahkan karena nama itu, pertemananku dengan para sahabatku hampir terpecah belah karena rasa kagum kami kepadanya. Dan munafik jika aku tak mengatakan bahwa aku masih mengaguminya hingga detik ini.
Pancaran tatapan indah kami terus mengarah pada sosoknya yang mengingatkan kami pada indahnya langit tepat di atasnya kala itu. Senja yang menyingsir meninggalkan lembayung jingga seakan terlihat sempurna dengan sosoknya yang tengah bermunajad di mihrab masjid sekolah kami kala itu. Bagaimana ia mengenakan kemeja taqwa putih dengan sorban putih yang selalu tersampir di bahunya membuat kami tak berhenti bertasbih kala itu, bahkan bagi seorang Fariza. Hanya saja tak satu pun di antara kami yang mampu menaklukkan hatinya yang tersegel rapat oleh syari'at.
"Good morning everyone, sebelumnya saya minta maaf atas keterlambatan saya karena ada sedikit kendala di jalan," jelas Askara santun setelah ia dipersilahkan untuk berbicara oleh sang guru besar.
Setelahnya suasana mulai kembali syahdu sebelum sesuatu kembali menarik perhatian kami saat seorang wanita tua memaksa memasuki ruangan tanpa undangan dan ingin bertemu seseorang.
"You can't come into this room mam," bentak salah satu penjaga.
"I have to talk with someone inside," balas sang wanita tua tersebut.
"Astagfirullahaladzim," gumam Askara sebelum berjalan menuruni panggung dan berjalan mendekati sang wanita tua.
"She's my guest," ucap Askara lembut dengan senyuman indahnya yang sama seperti terakhir kali yang kami lihat.
Lantas sosok itu merangkul sang wanita tua untuk duduk di salah satu kursi dan bertumpuh lutut di hadapan wanita tersebut.
"Anda ingin bertemu dengan saya?" tanyanya lembut.
"Yes," jawab sang wanita tua tersenyum dengan tampak begitu cantiknya di mataku. "Aku hanya ingin mengembalikan ini."
Wanita tua itu mengeluarkan sebuah tasbih dari tas kulitnya yang juga nampak tua. Ia menunjukkannya kepada Askara yang membuat laki-laki itu menatapnya sejenak sebelum tersenyum lebar nan merekah indah.
"Masyaallah, saya bahkan tak tau jika itu terjatuh," ungkapnya lembut sembari menggapai tasbih tersebut dari tangan sang wanita tua. "Terima kasih."
"Tidak, terima kasih. Kamu harus datang terlambat ke acara sebesar ini hanya karena mengantarkanku ke Katedral."
"Tidak masalah, saya hanya ingin membantu."
"Terima kasih."
Wanita itu menatap wajah indah nan teduh milik Askara sebelum memeluknya lembut yang membuat kami semua spontan membanjiri situasi tersebut dengan tepuk tangan yang mulia. Sesekali pula aku menatap sang guru besar di atas panggung yang juga bertepuk tangan dengan senyuman merekah di wajah indahnya nan berseri yang aku sangat yakin bahwa beliau begitu sangat bangga pada sosok itu. Begitu pun dengan Abah, ummi, serta Gus Syafeed yang juga menyaksikannya.
Bagiku Askara adalah cahaya di tengah temaram kehidupan. Kebesaran hatinya sejak dulu selalu membuat kami segan dengan sosoknya. Bahkan dia tetap terlihat indah di bawah pancaran langit senja yang selalu kami sebut lembaying dalam nabastala. Dan kala itu, Bandung menjadi saksinya. Indahnya seorang Askara dengan Firman Allah dalam hatinya. Entah akan kah aku mampu menggapai sosoknya atau tidak. Sesekali pula kutatap wajah indah para sahabatku yang menatap kagum Askara dengan binar yang sama, bahkan Fazia di balik indahnya cadarnya nan mulia.
Setelahnya mataku menatap sosok Gus Syafeed di atas panggung yang juga menatap Askara dengan binar yang sama. Saat ini lah aku sadar bahwa Askara adalah cahaya dalam kacaunya dunia di sekitarku.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romance"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
