"Kala aku mendengar segala kisah tentangmu dan kisah dunia yang mengantarmu hingga titik ini. Batinku menjerit menghadap Sang Pencipta di bawah indahnya bulan dan bintang intuk mengembalikan senyumanmu yang hilang, entah dengan cara apa."
-Muhammad Yusuf Alaudin Althaf-
*
*
*
Yusuf tengah berjalan dengan Dzulfikar yang berada di belakangnya. Sesekali laki-laki tampan itu menatap ke arah gersangnya padang pasir dengan jutaan kisah sang musafir di baliknya. Dzulfikar dengan gagahnya berjalan mengikuti arah langkah kaki sang tuan di tengah hamparan indah nan bumi nan tanpa batas ini. Langit menunjukkan indahnya malam dengan langit penuh hamparan lautan bintang dengan bulan yang bersinar penuh dengan sejuta pesonanya. Hati laki-laki itu tak berhenti-berhentinya bertasbih kala menatap keindahan di hadapannya. Bulir tasbih di tangannya menjadi saksi atas keikhlasan di dalam hatinya walaupu keraguan itu ada hingga ia memilih untuk menenangkan dirinya ke Yordania untuk menngunjungi sang paman dan kuda kesayangannya. Namun tiba-tiba ponselnya bergetar lembut. Mata tajamnya menatap lurus ke arah indahnya langit sebelum menjawab panggilan tersebut.
"Assalamualaikum," ucapnya lembut.
"Waalaikumsalam," terdengar suara berat seorang laki-laki di ujung panggilannya. "Apakah benar saya berbicara dengan Muhammad Yusuf Alaudin Althaf?"
"Betul, saya Yusuf Althaf."
"Saya Haidar Yahya Tsani."
Langit seakan runtuh tepat di atas kepala Yusuf kala itu. Hatinya seakan ditusuk dengan sebilah pedang nan tajam. Keindahan bulan dan bintang seakan redup oleh suatu hal duniawi yang tak mampu ia deskripsikan hanya dengan kata-kata.
"Ada urusan apa anda menghubungi saya?" tanya Yusuf masih dengan lembutnya, tangan gagahnya mengusap Dzulfikar lembut dan penuh kasih sayang.
"Ini tentang Zhafira. Saya tau kamu orang yang baik bisa melindungi Zhafira. Tapi saya ingin tegaskan kepadamu, ini tentang masa depan seorang muslimah."
Suara tegas Haidar berhasil menggetarkan hati Yusuf saat laki-laki di ujung panggilannya menyebut nama Zhafira dengan perasaan yang entah seperti apa. Namun Yusuf yakin bahwa Haidar hanya menginginkan kebahagiaan untuk perempuan hebat yang ia sebutkan itu.
"Anda mungkin tak pernah tau apa yang Zhafira rasakan. Tapi dia sudah melewati banyaknya kekerasan hidup tanpa kasih sayang yang nyata. Dia tumbuh bak seorang robot yang dirakit sedemikian rupa untuk masa depan keluarganya. Tapi dia juga manusia yang memiliki hati, walau pun ia tak pernah menunjukkan emosinya di hadapan orang-orang. Permintaan saya hanya satu kepada anda, bagaimana perasaan anda dengannya? Anda adalah orang pilihan keluarganya untuknya, walau pun ini bukan pilihannya. Setidaknya saya mohon berikan kepastian yang pasti untuk dia. Jika anda memang tak menginginkannya. Saya mohon dengan segenap diri saya, tinggalkan dia. Tapi jika anda benar-benar menyukainya, saya memohon kepada anda, lindungi dia, lindungi perasaan dia, rangkul dia, yang dia butuhkan hanya lah rumah untuk kembali. Maka tugas anda adalah menjadi rumah baginya."
"Anda mencintainya?" tanya Yusuf pelan dan lembut, walau pun ada segores rasa sakit dalam ucapannya.
"Cinta itu hanya sebuah formalitas, karena bagi saya apa pun yang membuat Zhafira kembali tersenyum akan saya lakukan. Jadi tolong, biarkan dia bahagia. Jangan gantungkan dia dengan kepastian anda yang tak ada ujungnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romance"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
