Manusia dan Kalbu

30 3 0
                                        

"Kami berdoa agar perdamaian segera terwujud dan konflik yang berkelanjutan akan segera berakhir, Amin."


*
*
*

Aku menatap nyalang langit siang kala ini. Tanganku masih dihiasi bercak darah dan pasir setelah hampir 7 hari aku dan para sahabatku berusaha menolong beberapa korban dari tragedi pengeboman itu. Tanganku masih bergetar hebat saat ku menatap bumi di hadapanku. Setelahnya, kulihat sebuah mobil dimana ada sekitar 5 tentara dengan bendera zionis turun dari mobil tersebut dan mulai berjaga di sekitar. Aku dengan cepat beranjak dari tempatku dan berjalan mendekati tentara-tentara tersebut.

"Zhafira!!!" teriak gus Syafeed yang tak kugubris sama sekali.

Aku masih dengan perasaan begitu campur aduk berjalan dengan pastinya menuju tentara itu. Dadaku begitu sesak kala aku membayangkan begitu banyaknya korban tak bersalah dari berbagai kalangan yang harus direngut nyawanya hanya karena keegoisan para zionis itu. Ini adalah pembantaian tanpa ampun yang bertujuan untuk menginjak-injak kemanusiaan yang tengah menegakkan keadilan.

"Hey, what are you doing?!!" teriak salah satu tentara.

"Pengecut!!!" bantahku kala kurasakan air mata menetesi pelupuk mataku yang menatap tajam para tentara itu.

"Kami hanya menginginkan negara kami!"

"Tapi ini bukan tanah kalian!! Kalian hanya parasit tak tau terima kasih yang tak memiliki perasaan!!!"

"Hey diam kau!!!"

Aku terkekeh pelan kala ku ambil sebuah pecahan kaca dan menyayat lengan tentara itu yang membuatnya berteriak kesakitan.

"Sakit kan?" tanyaku. "Itu tak seberapa dengan banyaknya nyawa tak bersalah yang kalian rengut!!!"

"Zhafira, hentikan!!!" cegah gus Syafeed yang menahan lenganku.

"Kalian memang nggak punya hati!!!" teriakku terisak dengan pedihnya. "Kalian bukan manusia!!!"

"Hey diam atau kami diamkan mulutmu, jalang!!!" bentak salah satu tentara tersebut.

"Kamu meminta aku untuk diam di kala ribuan nyawa kalian rengut hanya karena aku melukai satu teman kalian?!!!" aku terkekeh pelan. "Lucu ya?!! Pengecut seperti kalian tak pantas berbicara!!!"

"HEY!!!"

"Zhafira, sudah," gus Syafeed berusaha menarikku untuk kembali.

"Kenapa aku harus diam?!! Bayi-bayi itu memiliki masa depan yang cerah dan kalian merengutnya," isakku kala menatap tajam para tentara itu dengan penuh amarah. "KALIAN HANYA PENGECUT LEMAH!"

"DASAR JALANG RENDAHAN!!!"

Tentara itu hampir memukulku kala sebuah lesatan anak panah melesat tepat melewati lengannya yang hampir memukulku hingga melubangi baju tentaranya. Sementara gus Syafeed dengan cepat menarikku dan mendekapku untuk melindungiku. Suasana sesaat begitu hening kala semuanya terjadi dengan begitu cepatnya di depan mata kami.

"Hey siapa yang berani melakukan itu?!!" teriak salah satu tentara yang membuatku sadar dan mulai menjaga jarak dari gus Syafeed.

She Is not CleopatraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang