Malam dan Pelukan-Nya

50 3 0
                                        

"Apa yang menjadi milikmu, akan menemukanmu."


-Ali bin Abi Thalib-

*
*
*

Setelah begitu ricuhnya duniaku dikelilingi banyak ketidakpastian, kuputuskan diriku untuk sedikit lebih ikhlas dari sebelumnya. Sejenak kutatap sahabatku, Raifa, yang pasti telah mengetahui keraguan pada diriku kala ini. Langit terlihat begitu gelap seiring dengan dekatnya musim gugur yang kunanti pada peradaban ini. Kusadari indahnya senyuman Raifa yang membuatku merasa tengan saat perlahan kulepas cincin di jemariku dan kusimpan di sebuah kotak yang berisi banyakbya barang berharga dalam hidupku. Pernak-pernik yang pernah mewarnai hariku dengan segala kisah di baliknya.

"لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ"

Suara Raifa begitu terdengar menenangkanku. Kutundukkan tatapanku ragu dengan dada yang terasa begitu sesak dan menyakitkan.

"ماذا علي أن أفعل يا رايفا؟"

Tanyaku masih dengan penuh keraguan. Di tengah kacau balaunya hidupku ini, banyak hal yang harus kugapai untuk mengangkat banyaknya derajat. Namun malam seakan memelukku dengan penuh kekangan yang menggoreskan banyaknya luka dalam relung memoriku.

"وسع صدرك يا زافرة. الإخلاص هو المفتاح."

"Ucapan kak Aryan selalu membuatku memikirkan banyak hal. Tentang hatiku, tentang hidupku, perjalananku, dan rencana-Nya."

"Lalu, bagaimana tanggapanmu?"

"Tentang apa?"

"كيف كان قلبك عندما كنت مع يوسف؟"

"Abu-abu," balasku pelan.

"Zhaf," panggil Raifa yang membuatku menatap sosoknya.

Tangan indah sahabatku itu lantas menggapai sebuah selendang yang sangat kukenali dan kujaga itu. Sebuah selendang yang begitu indah dengan banyaknya cerita di baliknya. Ia tutup rambutku yang terlihat dengan selendang itu dan menatapku dalam.

"Ini adalah kisah sang musafir cinta yang mengejar cinta Rabb lebih besar dari pada cinta makhluk-Nya."

"Tapi aku terlalu jauh dari kata sempurna," ungkapku menatap sosok indahnya.

"والكمال لله وحده!"

"Aku bingung Ra."

"Zhaf," panggilnya lagi seraya menutup wajahku dengan sebuah cadar mulia yang dibawanya.

Aku tetap terdiam saat Raifa menatapku dengan senyuman teduh nan menenangkan. Mata indahnya menatapku dalam kala tangannya mendekap wajahku yang tertutup cadar itu.

"Indah," ucapnya.

"Tidak Raifa."

"Tatapanmu selalu mengingatkanku kepada sang singa dengan mental bajanya."

"Bukan ini yang diinginkan Yusuf," ucapku sembari melepas cadar yang dikenakan Raifa kepadaku.

"Lalu?"

She Is not CleopatraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang