"Aku mengagumimu dalam diam, utuh tak tersentuh, sebagaimana langit yang mengagumi bumi dan mencintai seisi alam"
-Muhammad Yusuf Alaudin Althaf-
*
*
*
(Malcolm, Boston)
Aku terdiam saat Dhaniya mengajakku menuju ke salah satu kajian yang diadakan di Islamic Society of Boston Cultural Center. Dhaniya bilang bahwa ia diajak oleh salah seorang teman muslimah yang berasal dari Turki yang baru ia temui di asrama Boston University. Beberapa saat kami berdiam di depan masjid saat Dhaniya bilang akan menunggu teman yang mengajaknya. Kudapati indahnya perbedaan diantara kami saat mataku selalu menangkap banyaknya orang dari perbedaan ras, kultur, tradisi, budaya, bahasa, dan negara yang akan menghadiri acara ini. Ternyata ini lah indahnya takdir Allah yang menyatukan kami dari berbagai belahan dunia dalam mulianya islam pada sebuah tempat yang begitu mulia, bahkan di bumi peradaban barat yang menjadikan kaum kami minoritas di atas bumi ini.
"Assalamualaikum Dhaniya," sebuah suara dari salah seorang muslimah cantik menyadarkan kami berdua dari kesibukan pikiran kami.
"Waalaikumsalam," balas kami berdua.
"Saudah," panggil Dhaniya dengan wajah berserinya.
"I'm sorry, aku terlambat."
"Tidak apa-apa, oh iya Saudah, ini sahabatku, Zhafira. Dia sahabat yang kini melanjutkan studi nya di Massachusetts Institute of Technology yang pernah aku ceritakan."
Aku tersenyum kepada gadis Turki ini sebagai balasan dari perkenalan singkat Dhaniya atasku kepadanya.
"Masyaallah Zhafira, you are so beautiful."
"Thank you Saudah. Thank you for inviting me at this amazing event here. And you are so beautiful too."
Saudah tersenyum dengan begitu indahnya kepada kami sebelum mengajak kami memasuki masjid indah di hadapan kami. Namun, takdir Allah begitu indah saat sebuah kerumunan begitu mengalihkan perhatian kami, menunjukkan wajah seorang guru dengan begitu indahnya dan penuh keilmuannya berjalan melewati kami memasuki masjid. Kutatap senyuman sang guru dengan begitu indah dan berserinya seakan hatiku ikut merasakan ketenangan aura ilmu yang tak mampu ku gapai. Beberapa kerumunan laki-laki di dalam masjid juga ku dapati tengah berbondong-bondong menyalaminya dan menyambutnya dengan penuh suka duka. Keindahan itu justru membuat pikiran kami bertiga tak berhenti-berhentinya bersyukur dan mengagumi keindahan agama yang Allah berikan kepada kami.
"Masyaallah," gumam Dhaniya menatap kagum sang guru.
"Beliau adalah Syeikh Abdullah Al-Rasyid, salah satu guru di sebuah lembaga keilmuan di Tareem Hadhramaut, Yaman, sekaligus pengajar di salah satu universitas besar di Yaman," jelas Saudah yang membuatku terpesona dengan sosok guru yang duduk di mihrab imam masjid tersebut.
Seketika di tengah hatiku yang masih mengagumi sang guru dengan besar keilmuan dan kedekatannya kepada Sang Pencipta. Seseorang berteriak memanggilku dengan begitu bersemangatnya.
"Zhafira!!!"
Aku menoleh menatap sang sumber suara.
"Abigail?" gumamku bingung.
Abigail berjalan mendekatiku dan menyerahkan ponselku yang entah sejak kapan berada di tangannya.
"Ponselmu ketinggalan, ada beberapa panggilan masuk dan kupikir itu sangat penting. Jadi aku bertanya kepada resepsionis untuk mengetahui kemana kamu izin pergi dan mengembalikan ponselmu. Maafkan aku sudah lancang kepadamu," jelas Abigail yang membuatku tersenyum simpul dan memeluknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romance"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
