Zulaikha dan Doa

49 3 0
                                        

"Lebih baik kehilangan sesuatu demi Tuhan. Dari pada kehilangan Tuhan demi mendapatkan sesuatu."

*
*
*

(Boston University, Boston)

"I offer several investment businesses with several technologies here, are you willing?" suara itu begitu tak asing kala Dhaniya berjalan menyusuri lorong indah dari gedung sejuta peradaban itu.

"Kak Aryan?" panggilnya yang membuat laki-laki tampan yang tengah mengobrol dengan salah satu pria paruh baya disana menoleh menatapnya dan tersenyum.

Sesaat Aryan terlihat tengah membicarakan sesuatu sebentar sebelum saling berjabat tangan dan berjalan mendekati Dhaniya.

"Taliyah, Sabrina, dan Dini sudah pulang?" tanya Aryan dengan senyuman indahnya.

"Sudah tadi pagi."

Aryan mengangguk pelan dengan senyuman lega. "Aku sempat takut saat Haidar menghubungiku bahwa Askara datang."

Dhaniya menunduk pelan seakan mengetahui kemana arah pembicaraan Aryan. Lantas mereka duduk di sebuah kursi taman yang berada di halaman Boston University dan menatap indahnya peradaban di sekitar mereka.

"Dulu mungkin iya, Askara hampir membuat pertemanan kita terpecah belah. Namun saat ini bukan lagi Askara kak."

"Yusuf kan?" gumam Aryan yang membuat Dhaniya menunduk pelan.

"Aku mengenal Askara sebagaimana kamu mengenal Zhafira. Dan Askara mengenal Yusuf sebagaimana Zhafira mengenal Fariza," ungkap Aryan menambahi yang membuat Dhaniya membeku di tempatnya.

"Apa maksud kak Aryan?"

"Dhan, merpati tak akan pernah terbang setinggi elang."

"Tapi Zulaikha tetap mampu menggapai cinta Tuhan walaupun ia terlambat menggapai cinta Yusuf."

"Maka kamu akan tetap menjadi Zulaikha?"

"Aku mencintainya sebagaimana Zulaikha yang mencintai Yusuf dalam doanya."

"Tapi yang Yusuf butuhkan bukan seorang Zulaikha, Dhaniya!! Dia butuh Aisyahnya!"

"Kamu egois kak," gumam Dhaniya dengan mata yang mulai memanas kala menatap Aryan. "Kamu melakukan ini karena kamu di pihak Zhafira kan kak?"

"Dhaniya! Dari awal Yusuf dan Zhafira juga sudah terikat benang takdir mereka."

"Kamu melakukan ini karena kamu menyukai Zhafira kan kak?"

Aryan terdiam menatap Dhaniya dengan rahang yang mengeras seakan menahan luka yang terbuka kembali setelah tersimpan lama.

"Dhan, cinta itu bukan hanya tentang memiliki, tapi juga melepaskan. Aku telah melepaskan Zhafira karena aku ingin menjaga marwah sang penyandang nama, begitu pun dengan Haidar. Aku mungkin tak sesempurna Yusuf, Askara, bahkan Haidar. Tapi aku sadar di mana diriku di takdirkan. Dan Zhafira lebih pantas bersanding dengan orang yang sebanding dengannya."

"Kak Aryan!" tegas Dhaniya dengan bulir air mata yang menetes di antara mata indahnya.

"Aku tau apa yang kamu rasakan Dhan, karena itu lah aku peduli padamu. Sebagaimana sebuah mutiara di dasar lautan, kamu hanya bisa menatapnya tanpa menggapainya. Karena nyatanya yang hanya bisa menggapainya hanya lah seorang perenang yang handal."

She Is not CleopatraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang