Aisyah yang Kembali

45 3 0
                                        

"Aku menikmati sepi hati dalam malam gelap ini, dan kubiarkan kau kembali terbit lalu kembali tenggelam di sini, di dekap jantung paling puisi."

*
*
*


(Massachusetts, Boston)

Satu minggu kemudian.

Aku berjalan menjelajahi indah peradaban barat ini kala kutuliskan setiap kisah indah nan memilukanku di bumi padang pasir nan tandus kala itu. Setiap hal yang menjadi kenangan dengan porak-porandanya dunia seakan menjadi indah saksi dari perjalananku yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Kututup bukuku kala aku menyadari waktu yang harus menarikku memasuki indah lorong peradaban di mana mimpiku sedang kugapai satu persatu. Aku berjalan memasuki ruangan kelas dengan begitu tenangnya kala mendengatkan penjelasan profesor di hadapanku yang begitu luwes dalam memaparkan teori yang ada. Sesekali aku mengunjungi laboratorium dan mulai meneliti beberapa sampel yang kujadikan sebagai sampel bioindustri yang sedang dikembangkan. Beberapa kali pula aku berinteraksi dengan banyak mahasiswa dari berbagai belahan dunia dengan segala perbedaan yang disatukan dalam satu tujuan.

Kusadari indah benua ini kala dedaunan yang menguning mulai menutupi bumi di sepanjang jalanan Massachusetts. Senyumanku terukir indah kala kutatap indah langit saat aku duduk di kursi taman untuk mengetik setiap sirah perjalananku hingga di titik ini. Ku cantumkan setiap diksi dalam sastra yang kutulis sepanjang hidupku. Namun sirah ini menjadi perjalanan istimewaku dengan segala tantangan yang ada. Mungkin benar jika aku memang ditakdirkan untuk berjalan mundur demi menggapai sesuatu yang jauh di depanku. Cleopatra bukan lagi hal yang harus ku takutkan dalam hidupku. Karena ini bukan tentang Cleopatra dan dia yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupku, melainkan tentang dia dan kebahagiannya.

"Nduk," panggil seseorang yang membuatku menoleh.

"Ayah," ucapku yang beranjak dari tempat dudukku dan memeluk ayahku erat.

"Sudah menemukan jawaban atas segalanya?"

Aku ttersenyum dan mengangguk kala menatap ayahku dengan indah wajahnya yang berseri. Saat ini aku tau di tengah hancurnya duniaku yang dijatuhkan oleh ekpetasi kedua orang tuaku, aku telah menemukan indah kehidupanku yang membuatku paham kenapa orang tuaku selalu menjatuhkanku dengan ekspetasi mereka. Semua itu di lakukan hanya karena mereka ingin melatih mentalku hingga aku etrbiasa menghadapi sesuatu yang lebih menyakitkan kelak, dan aku telah melewatinya.

"Dhaniya masih di Gaza?" tanya ayahku pelan kala beliau menggandengku dan mengajakku duduk di kursi taman dimana aku duduk.

"Iya."

"Apa yang kamu kerjakan?"

Aku tersenyum kala menunjukkan mahakaryaku yang ku tulis di laptopku kepada pehlawan hidupku ini.

"Aku sedang menulis hiruk piruknya kisahku dengan orang-orang hebat yang pernah kutemui."

Ayahku tersenyum kala ia membaca tuliskan di laptopku. Sesekali senyuman beliau merekah lebar sebelum air mata menetes membasahi indah matanya yang kuusap lembut dengan tanganku.

She Is not CleopatraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang