"Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam."
-Rumi-
*
*
*
Pagi kala itu tampak begitu menenangkan kala kutatap wajah berseri Shafa dengan segala kesempurnaan sosoknya. Sesekali ia membantuku menyiapkan makan siang dan obat-obatan dengan selayaknya Shafa yang ku kenal. Ku tatap pula indah wajah Raifa yang kini juga membantuku dengan begitu tenangnya. Entah mengapa namun aku seperti telah menemukan kebahagiaan kecil di tempat ini, di mana aku dapat melihat senyuman dan tawa sahabatku di antara warga yang menerima kami dengan hangatnya. Beberapa saat kami bergelut pada urusan kami dengan obrolan ringan serta canda gurau yang menghiasi kami dengan begitu indah, Yusuf datang dengan wibawanya. Laki-laki tampan itu membantu kami untuk memindahkan beberapa keperluan pokok bersama Faris dan Zaidan serta teman-teman lainnya.
"Yusuf!" panggil Abigail tiba-tiba yang membuat kami menatap keduanya.
"Iya," balasnya santun. "Ada yang bisa aku bantu Abigail?"
Abigail memasang tersenyum tipis yang begitu indah dan meneduhkan kala menatapnya.
"Iya, aku butuh bantuanmu."
"Katakan Abigail."
"Tuntun aku," ujarnya pelan. "Tuntun aku untuk memeluk Islam dengan hatiku."
Suasana seakan berubah dengan begitu syahdunya kala ucapan Abigail mampu mengundang senyuman indah di antata kami. Mungkin Allah telah memberikan jawaban-Nya atas segala pertanyaan yang terlintas dalam benak Abigai yang dipenuhi logika dan teori duniawi. Perempuan itu tersenyum yakin dengan tatapan tajam indahnya yang menatap Yusuf pasti. Aku akui bahwa ucapan Abigail membuat hatiku diselimuti kebahagiaan. Dan kusadari anggukan kepala Yusuf menjadi sebuah.jawaban pasti atas permintaan mulia Abigail.
"Masyaallah Abigail, maka aku akan sangat siap untuk membantumu."
Dengan langkah tertatih aku berjalan mendekati sahabat cantikku itu dan memeluknya erat.
"Alhamdulillah," gumamku yang dibalas pelukan erat dari sosoknya.
"Abbyyy!!" sahut Dhaniya semangat yang langsung berhambur dalam pelukan kami.
Tepuk tangan seakan menjadi wakil dari setiap apresiasi yang ada, bahkan warga di sekitar kami juga mengucapkan indahnya rasa syukur itu dengan bahasa mereka yang mulia kala menatap kami.
***
Aku menatap Abigail di hadapanku sembari memasangkan sebuah kerudung indah untuk menutupi rambut pirangnya. Tampak senyuman berseri dan tatapan teduh Abigail menatapku dengan begitu indahnya seakan ia tak akan pernah menyesali pilihannya seumur hidup.
"Masyaallah, cantik sekali," ucapku kala menatap Abigail sebagai sosok baru dengan penampilan barunya.
"Terima kasih."
"Sudah siap, Abigail," kata Yusuf kala dia berjalan memasuki post kami yang kami jadikan musholla ini.
"Sudah."
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romansa"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
