"Karena puisiku mampu mengutarakan rasa tanpa memendam dan tanpa takut kehilangan."
*
*
*
Mataku terpaku oleh indahnya langit yang menampakkan begitu bebasnya burung beterbangan. Refleksi senja kala itu terlihat sempurna dalam pancaran indah mata tajamku. Angin bertiup menghempas khimar dan gamis panjangku yang menyapu desiran pasir di tanah nan tandus ini. Rupanya aku benar-benar telah memperoleh indahnya sebuah rasa tabah dan tawakkal dalam hatiku atas segala hal yang ku ikhlaskan dengan segenap jiwa dan ragaku. Kali ini aku bahkan merasakan bahwa aku tengah mengangkat mahkotaku setinggi-tingginya dengan mulia syari'at yang kugenggam.
"Zhafira," panggil seseorang yang membuatku menoleh menstap ssng sumber suara.
"Dhaniya?" panggilku memastikan. "Masyaallah, Jamilatan jiddan."
Mata Dhaniya menyipit kala ia mencoba mengenakan cadar hitam yang menutupi wajah indahnya.
"Kamu memutuskan untuk mengenakan cadar?" tanyaku yang membuatnya mengangguk pelan.
"Aku ingin memperdalam syari'at dengan sungguh-sungguh."
Senyumku merekah kian lebar kala mendengar ucapan Dhaniya yang menciptakan kesejukan di antara kami. Mata perempuan itu masih tetap menyipit yang menunjukkan bahwa dirinya masih tersenyum indah.
"Semoga Allah menetapkan keistiqomahan kepadamu," tambahku.
"Amin."
"Zhaf, minta tolong ya untuk menyiapkan makanan untuk pasien," pintah Askara yang mendekati kami seraya menyerahkan data pengeluaran kepadaku.
"Fazia juga ya, minta tolong untuk temenin Daffa evakuasi korban tambahan," tambah Askara.
"Fazia?" tanyaku bingung.
"Loh, Fazia kan?" tanya Askara kala menatap Dhaniya untuk memastikan. "Eh, Fariza ya?"
"Bukan Zian," balasku. "Itu Dhaniya."
"Subhanallah," kejut Askara yang langsunh menunduk santun kala kusadari bahwa sahabatku ini juga tengah tersipu.
"Zhafira, Dhaniya di mana? Gus Syafeed membutuhkan dia," panggil Yusuf dengan napas memburu setelah berlari ke arah kami.
Sesaat suasana menjadi hening kala ini. Tak satu pun yang angkat bicara dan membuat sang pendekar menatap kami seakan membutuhkan kepastian atas apa yang ia sampaikan. Askara bahkan masih terdiam atas ketidakpercayaan sekaligus rasa lega yang membuat dirinya bungkam.
"Kenapa kalian semua diam?" tanya Yusuf bingung.
"Aku akan segera kesana," gumam Dhaniya pelan yang membuat Yusuf terpaku di tempat.
"Dhan..... Dhaniya?" panggilnya terbata yang membuat Dhaniya menatapnya dan mengangguk santun.
"Masyaallah," tatapan Yusuf kian menunduk santun seakan ia ingin mengangkat mahkota sosok di hadapannya itu.
"Kaki kamu sudah ga apa-apa Zhaf?" tanya Askara seakan memecah keheningan di antara kami.
"Ga apa-apa kok, aku juga sudah bisa jalan tanpa tongkat."
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romance"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
