Air Mata, Mihrab, Sujud, dan Jawaban-Nya

98 4 0
                                        

"Di kala aku merasa terjatuh dan terluka, aku bersimpuh di atas sajadahku dan mengangkat kefua tanganku, lantas ku pasrahkan segalanya kepada Tuhan sebelum bersujud dengan segala air mata yang kucurahkan di atas sajadahku. Hingga suatu saat Tuhan memberikan jawaban-Nya yang tak pernah kuduga."

-Muhammad Fairuz Zaidan Hasyim Althaf-

*
*
*

(Tareem Hadralmaut, Yaman)

Laki-laki tampan perlahan membuka mata indah nan tajamnya bak elang. Tatapan indahnya menyapu seisi ruangan dengan kilauan secercah harapan yang entah datang dari mana. Ia beranjak dari tidurnya dengan sajadah yang mulai mengering ketika ia mengingat bagaimana derasnya air mata yang ia curahkan dalam sujudnya di atas sajadah mulia yang selalu menjadi saksi dari setiap curahan doanya. Tiba-tiba sebuah suara berhasil menyadarkannya dari renungan yang mendasar. Suara sang sahabat yang begitu ia kenal seakan menjadi pengingat bahwa ia tengah berada diantara kenyataan yang harus ia hadapi saat ini juga.

"Zaidan," panggilnya.

Laki-laki tampan itu menatap sang sahabat dengan tatapan yang entah tak mampu dijelaskan.

"Kenapa Ibrahim?" tanyanya.

"Syeikh Ja'far memanggilmu."

"Syeikh Ja'far?"

Ibrahim mengangguk membenarkan ucapan Zaidan mengenai Syeikh Ja'far yang memanggilnya.

"Ada hajat apa hingga Syeikh Ja'far memanggilku secara tiba-tiba?"

"Aku tidak tau, lebih baik kamu segera datang menemui beliau," balas Ibrahim yang disusul oleh anggukan Zaidan sebelum beranjak dari mihrabnya dan mengikuti langkah kaki Ibrahim menuju tempat sang guru yang mulia.

Kala itu langit senja begitu indah di atas kota nan mulia ini. Sejenak ada senyuman indah diantara bibir Zaidan saat laki-laki tampan itu menatap indahnya senja dengan beberapa pemandangan burung yang terbang kembali ke sarangnya. Laki-laki itu juga sempat menghela napas pelan bersamaan dengan hembusan angin yang menerbangkan kemeja kumuhnya, ia bahkan tak sempat berganti baju yang layak untuk menghadap sang guru. Sesekali laki-laki itu dan Ibrahim menunduk tatkala mereka berpapasan dengan beberapa akhwat mulia yang sangat menutup diri mereka. Hingga langkah mereka sampai di sebuah bangunan sederhana khas timur tengah yang sudah pasti tak ada istimewanya.

"Assalamualaikum," ucap Ibrahim saat memasuki bangunan tersebut. Sementara Zaidan mengikuti langkah Ibrahim memasuki bangunan tersebut dengan perasaan yang bingung dan ragu.

"Waalaikumsalam."

"لقد مر وقت طويل منذ زيارتك يا زيدان. طلبت من إبراهيم على الفور أن يتصل بك عندما سمعت قدومك."

Suara Syeikh Ja'far terdengar begitu lembut dan menenangkan hati. Zaidan sempat tersenyum tipis dalam tundukannya karena rasa malu kepada sang guru, ada rasa bersalah yang mengganjal hatinya.

"Kamu ada masalah Zaidan?" suara itu justru membuat Zaidan membeku di tempat.

"Abah?" kejutnya saat menatap sang sumber suara.

"Bagaimana abah bisa disini?"

Yahya tersenyum tipis saat mendapati ekspresi terkejut putra sulungnya manakala ia mendapati dirinya berada di rumah Syeikh Ja'far beserta para ahlul bait yang mulia.

She Is not CleopatraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang