Kartini Pada Peradaban Barat

66 4 0
                                        

"Teruntuk dia yang ada dalam gemuruh porak porandanya padang pasir dan kisahnya, teruntuk seseorang yang melabuhkan perasaan dan melangitkan doanya dalam sebuah peradaban bumi para nabi. Aku hanyalah seseorang yang berusaha menjadi Kartini untuk menegakkan keadilan bagi perempuan dan menjunjung tinggi kedamaian di dunia. Aku tak memiliki banyak kekuasaan, karena aku bukan termasuk sederet perempuan sempurna Mesir dengan segala pesonanya. Aku bukan Cleopatra."

-Zhafira Aisyah Farida-

*
*
*

3 tahun kemudian.

"Jadi sang pendekar yang kamu maksud adalah?"

"Yusuf kan?" sahut Dhaniya memotong ucapan Abigail.

Aku terdiam menatap kedua temanku secara bergantian. Ada secercah rasa kagum dari sorot mata kedua sahabatku ini seakan ia baru saja mendengar kisah sang pendekar yang begitu luar biasa.

"So Zhafira, did you accept him?" tanya Abigail. "Laki-laki itu terlalu sempurna untuk kamu lepaskan."

Aku tersenyum menanggapi. Lantas menggeleng pelan.
"Ada hal yang sulit dijelaskan di antara kami. Perasaan kami berdua juga masih abu-abu, tidak ada kepastian. Lagi pula kami memiliki prinsip kami sendiri-sendiri."

Terdengar helaan napas Dhaniya pelan saat mendengar ucapanku. Gadis cantik itu lantas menatapku teduh sebelum tatapannya beralih kepada sebuah cincin di jari manisku.

"Tapi kamu masih sulit untuk melepaskan cincin itu kan?"

Kutatap pelan buku-buku jariku yang tampak disinari matahari pagi ini, cincin itu masih ada dan terbalut indahnya di jemariku. Aku bahkan paham nama siapa yang terukir di dalamnya beserta bagaimana prosesku mendapatkan cincin itu. Mengingatnya justru membuat langit runtuh tepat berada di atas kepalaku, aku bahkan bisa merasakan beratnya beban yang kutanggung di pundakku. Bukan ini yang aku inginkan, tapi munafik jika aku mengatakan aku sanggup melepasnya. Apa yang Dhaniya ucapkan sama sekali tak salah.

"Itu, cincin dari Yusuf?" tanya Abigail sembari menatap cincin indah yang kinj berada di jari manisku.

Aku mengela napas pelan lantas mengangguk sebelum memasang sebuah senyuman saat menatap kedua sahabatku.

"Aku bukan tak sanggup melepasnya, aku hanya butuh waktu untuk mencerna sebelum memutuskan segalanya."

"Lalu? Bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Kamu yakin dengan Yusuf?" tanya Dhaniya yang seakan menamparku jauh.

"Betul, aku juga penasaran dengan perasaanmu kepada sang pendekar."

Aku masih mempertahankan senyumanku walaupun aku tau betapa beratnya hatiku untuk menjawabnya. Kutatap satu per satu wajah kedua sahabatku yang masih menunggu jawabanku akan pertanyaan mereka. Namun aku bahkan belum siap untuk merangkai jawaban yang sesuai dengan hatiku. Belum sempat aku merangkai jawaban lain yang sekiranya mampu menjadi jawaban sementara bagi mereka sebelum sebuah suara tiba-tiba mengagetkan kami. Beberapa meter dari tempat kami berkumpul, seorang laki-laki menarik hijab seorang perempuan dengan paksa sembari memberikan caciannya kepadanya.

"Astagfirullahaladzim," gumamku sebelum beranjak dari tempat dudukku.

"Zhaf!!" cegah Dhaniya. "Itu bukan urusan kita, sangat beresiko."

"Tapi dia tidak berhak memperlakukannya seperti itu walaupun dia seorang perempuan!" tegasku sebelum berjalan mendekati kedua orang itu dan menarik sang perempuan untuk berlindung di belakangku saat sang laki-laki hampir melayangkan tangannya untuk memukulnya, sedangkan sang perempuan tengah berusaha untuk menutup rambut coklatnya yang terekspos di publik.

She Is not CleopatraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang