"Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai. Di dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi."
-Muhammad Fairuz Zaidan Hasyim Althaf-
*
*
*
(Al Yaman University)
3 Tahun yang lalu.
Zaidan terdiam menatap indahnya langit Yaman siang kala itu. Hari itu, Yaman tampak cerah, namun tak sepanas hari-hari sebelumnya. Tatapan Zaidan tertuju pada indahnya seekor merpati yang hinggap di salah satu tiang lampu sebelum kembali terbang menuju langit tanpa batas. Jemarinya menggulirkan satu persatu butiran tasbih dengan hati yang terus mengingat nama-Nya sebagai bentuk penguat di kala banyaknya keraguan yang tak mendasar.
"Bang," panggil laki-laki tampan sembari menepuk bahunya pelan. "Masih ga yakin soal Zhafira?"
Helaan napas terdengar lembut bersamaan dengan hembusan angin yang menjadi penengah keduanya. Beberapa orang terlihat berlalu lalang pada tangga di belakang keduanya, aroma buku tua dan tinta menjadi penanda indahnya pendidikan yang kini mereka tempuh di kokohnya bangunan ini. Mata laki-laki itu menatap indah dan tajamnya mata sang adik yang ia akui mampu mengikat perhatian banyak perempuan, namun Yusuf bukan orang yang bisa dengan mudahnya terpesona dengan banyaknya kecantikan yang tersuguhkan di hadapannya.
"Lu tau kan hati abang terlalu kuat buat Zhafira?" tanyanya.
"Lalu, kenapa abang masih ragu?"
"الأمر ليس بهذه السهولة يا يوسف"
Ada nada keraguan yang mampu Yusuf tangkap dari ucapan sang kakak. Mungkin ia tak mampu memahami perasaan Zaidan saat ini karena hatinya tak terikat untuk siapa pun.
"Lu ga akan pernah paham rasanya mencintai namun tak mampu menggapai," tambah Zaidan pelan.
"Lalu? Apa yang akan lu lakukan?"
Zaidan menunduk pelan, air matanya menetes penuh kelemahan. Tak biasanya seorang Zaidan menangis sepedih ini, apa lagi di hadapan sang adik yang terkadang sulit untuk menunjukkan emosi dalam hatinya.
"Ikhlas bang, itu yang selama ini selalu abah ucapkan kepada kita."
Zaidan terdiam tak menjawab, matanya sembab saat menatap sang adik. Namun senyumnya terukir tipis seakan mengatakan "aku baik-baik saja" secara tersirat.
"Gue akan pergi ke Tareem sore ini, gue butuh ketenangan sejenak."
Yusuf mengangguk seakan ia memahami apa yang kakaknya butuhkan di saat seperti ini. Ia benar-benar tak begitu mengerti sebenarnya bagaimana perasaan kakaknya kala ini. Namun, ia bisa memahami bahwa dunia ini sedang menguji sang kakak hingga menjatuhkan buliran bening indah di matanya.
"Lu ga mau pulang saja bang?" tanyanya yang dihujani tatapan tajam Zaidan yang sulit untuk diartikan.
"Gue ga tau, Gue ingin menenangkan diri sejenak."
"Gue paham bang," balasnya. "Boleh tanya sesuatu?"
"ماذا تريد أن تسأل يا يوسف؟"
"ما الذي يجعلك تحب زفيرة؟"
"Kenapa lu tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Zaidan masih dengan tatapan yang sama kepada sang adik.
"Ada hal kuat yang gue rasakan bang, seakan ada syari'at dan marwah yang harus gue jaga mati-matian."
"Karena Zhafira?"
"Bang Zaidan ingat saat pertama kali melakukan pertemuan dengan keluarga Zhafira? Aku melihatnya dari jauh, tatapan tajamnya saat menatap dunia, ada harapan di balik tatapannya. Perempuan itu menjunjung tinggi dan memuliakan mahkotanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romantik"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
