"Kusimpan cintaku dalam diam, kulisankan harapanku dalam doa, kuperjuangkan dirimu dalam ridha-Nya."
-Ali bin Abi Thalib-
*
*
*
(Massachusetts, Boston)
"Aku akan membeli camilan," tawarku saat melihat begitu kacaunya para sahabatku kala menyiapkan makanan yang akan kami bawa untuk rencana piknik hari ini.
"Aku akan ikut dengan Zhafira," sahut Dhaniya yang terlihat begitu stress dengan kekacauan ini.
"Baik," balas Raifa sembari memotong sayuran. "Zhaf, jangan lupa panggil kak Haidar ya? Kita butuh dia."
"Siap," balasku sembari menggapai tas di atas sofa dan berjalan keluar bersama Dhaniya.
Kami berjalan melewati indahnya jalan yang mulai dihiasi oleh dedaunan kering yang mulai menguning karena hampir musim gugur. Angin bersemilir dengan lirihnya dengan pemandangan tenang dimana kami dapati beberapa orang yang lebih memilih untuk berjalan dari pada menggunakan kendaraan pribadi.
"Sudah menghubungi kak Haidar?" tanya Dhaniya.
"Sudah, dia sedang dalam perjalanan. Emang di saat seperti ini, peran kak Haidar sangat dibutuhkan ya?"
Dhaniya terkekeh pelan mendengar pernyataanku. "Setidaknya masakan dia yang paling bisa di makan kan?"
"Walau pun kadang sedikit aneh."
"Noted."
Kami tertawa kecil membayangkan betapa bingungnya Haidar kala melihat kekacauan mereka yang berkutat di dapur.
"Jadi Zhaf," ucap Dhaniya yang membuatku menatapnya. "Bagaimana dengan Yusuf?"
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Entahlah, boleh aku jujur?" ungkap Dhaniya pelan.
"Ya."
"Bohong jika orang-orang tidak menyukai sosok sesempurna Yusuf di kala pertama mereka melihatnya."
"Lalu? Kamu menyukainya?"
"Banyak orang yang menyukai sosoknya Zhafira, aku hanya sedikit dari mereka yang mengaguminya."
"Sebenarnya ke arah mana pembicaraanmu ini?"
"Aku sudah berusaha memendamnya Zhafira, tapi nyatanya perasaan ini tak bisa dibohongi. Bohong jika aku tak egois untuk mendapatkan hati Yusuf, entah berapa banyak Al-Fatihah yang banyak orang panjatkan untuknya."
Aku terdiam tak berkutit. Kutatap sahabatku itu seakan suaraku tercegat di tenggorokan sehingga tak bisa ku ungkapkan. Namun rasa kalut itu kian membuat dadaku terasa sesak saat aku mendengar ucapan itu.
"Jadi," ucapku sedikit ragu. "Camilan apa yang akan kita beli?"
"Bisakah aku menjadi Zulaikha sebagaimana Zulaikhanya yang lain?"
Aku masih terdiam ragu dengan segala hal yang kudengar, berusaha sekuat tenaga aku tak berusaha memikirkan banyak hal. Tapi nyatanya hal itu hanya membuatku semakin kalut dengan segala hal yang terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romance"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
