Gaza Adalah Saksi

36 3 0
                                        

"Teruntuk dia dengan segala kesempurnaan Sang Pencipta yang menciptakannya. Aku tau mungkin ini sudah terlambat. Tapi di tengah banyaknya celah Tuhan menciptakanku, biarkan lah aku mengatakan padamu bahwa aku mengagumimu karena Tuhanmu dan akan selamanya seperti itu."

-Muhammad Yusuf Alaudin Althaf-

*
*
*

Yusuf terdiam di hadapan mihrabnya. Matanya terpejam bersamaan dengan air mata yang mengalir dengan pedihnya. Jemarinya terus membulirkan bulir tasbih dengan begitu syahdunya. Malam menjadi sebuah perantara indahnya dialognya dengan Sang Pencipta. Malam telah menyuguhkan sebuah pesona sempurna karya Seniman terhebat di antara yang terhebat. Lantas beberapa saat ia menenangkan diri dengan indahnya dzikir dalam benaknya, matanya perlahan terbuka dengan gemilang baru penuh harapan dan rasa percaya diri. Tatapannya menunduk menunjukka rasa ikhlas beserta hati yang begitu merendah seakan dirinya tengah tertimpa kedholiman yang tak terbatas dengan segala pedihnya ia rasakan dalam pikirannya bak seorang pendosa.

"Bagaimana Suf?" tanya Zaidan yang duduk di sebelahnya.

"Kok lu udah bangun bang? Mending lu istirahat aja."

"Gue ga rela kalau harus menikmati mimpi di kala Tuhan telah menciptakan waktu terindah di antara segala waktu," ungkap Zaidan pelan. "Kemarin gue banyak ngobrol saat bersama Zhafira. Tentang Rencana Tuhan dan bagaimana hatinya akan berlabuh?"

"Bagaimana jawaban Zhafira?"

"Dia akan mengikhlaskan segalanya, karena bukan cinta makhluk yang ingin dia kejar, namun kedamaian adalah tujuan utama dia untuk mengangkat derajat orang tuanya. Dia akan terus menggenggam syari'at-Nya sebagaimana dia menggenggam nyawa di dalam tangannya."

"Gue akan memutuskan segalanya bang, dan Gaza akan menjadi saksinya."

Zaidan menatap sang adik dengan tatapan bangga atas apa yang ia ucapkan. Tangannya menepuk lembut bahu sang adik seakan menguatkan sosoknya yang kini dikacaukan oleh banyak hal. Namun melihat bagaimana sang adik begitu ikhlas dengan segalanya untuk memutuskan banyak hal membuat ia tau bahwa ini lah waktu yang telah Allah tetapkan dengan segala keindahan bumi di sekitarnya. Di tengah kacaunya negeri ini dengan segala pesona yang tersembunyi dengan begitu mulianya diantara catatan sejarah, ada hati mantap sang pendekar yang berusaha untuk menggapai singgasana-Nya atas nama cinta. Dan benar kata Jalaludin Rumi bahwa apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya, dan dia telah memperoleh jawaban dari setiap doanya dengan perasaan yakinnya akan seseorang. Mungkin ini lah waktu di mana Yusuf telah menemukan Zulaikhanya yang sesungguhnya, Muhammad telah menemukan Aisyahnya yang diridaai oleh Sang Maha Cinta dengan segala ujian yang ditimpahkan kepadanya.

***

Yusuf berjalan di tengah terpaan angin padang pasir yang berhembus lirih. Aku yang baru keluar dari post kami dengan menyangga diriku menggunakan tongkat yang membantuku ubtuk berjalan menatapnya dari kejauhan. Khimar dan gamisku terhempas dengan pelannya saat sang pendekar berjalan dengan begitu tegasnya di bawah langit pagi di mana matahari mulai muncul dari ufuknya. Langkahnya lebar dan pasti kala ia memanggil sosok itu dari kejauhan yang mampu ku dengar samar-samar.

"Shafa!" panggilnya.

Mereka saling berhadapan satu sama lain di bawah indahnya mentari dan langit yang mulai cerah. Lantas kulihat sosoknya tengah memberikan sesuatu yang diterima dengan penuh kesantunan oleh Shafa. Ku dapati perempuan itu menunduk dengan senyuman tipis dan mata tajam yang menatap indah wajahnya dengan teduh kala sang pendekar mengatakan sesuatu yang tak bisa kudengar. Sesaat timbul suasana tegang di antara keduanya hingga senyuman terukir di antara bibir keduanya. Aku sempat berpikir bahwa mereka berdua begitu cocok saat berdiri berhadapan di sana. Dan entah mengapa itu membuat hatiku lega sesaat.

"Zhaf?" panggil Dhaniya yang berjalan mendekatiku. "Ngapain di sini?"

"Oh, selamat pagi Dhan," sapaku pelan sembari tersenyum.

"Selamat pagi. Kenapa di sini? Mending kamu istirahat di dalam."

"Aku ga apa-apa kok, kenapa aku harus istirahat?"

"Kaki kamu bagaimana?"

"Udah ga apa-apa, aku cuman luka Dhan bukan demam," ucapku.

"Iya deh. Jadi kamu ngapain di sini?"

"Tuh," ucapku menunjuk apa yang ku lihat saat ini.

Dhaniya terdiam kala melihat pemandangan yang ku lihat saat ini. Dia terdiam dalam keheningan atas pergelutan hatinya yang entah seperti apa. Aku tau bahwa Dhaniya juga menyukai Yusuf, tapi aku tak ingin jika sahabatku harus terus menerima ketidakpastian ini atas dasar cinta kepada makhluk. Aku mungkin sudah mengikhlaskan segalanya atas apa yang ku kejar. Tapi, bukan berarti apa yang kurasakan juga dirasakan oleh semua sahabatku yang memiliki perasaan yang sama dengan Yusuf.

"Yusuf kelihatannya cocok juga sama Shafa," gumamnya.

Aku tersenyum menatap sahabatku sebelum menepuk bahunya pelan.
"Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang direncanakan-Nya Dhan. Ikhlas."

"Menurutmu, siapa yang akan Yusuf pilih?" tanyanya.

Aku terdiam menatap kedua sosok itu dari kejauhan di bawah langit pagi nan syahdu dengan semilir angin yang berhembus lirih.

"Itu biarkan menjadi rahasia hati Yusuf dengan Laukhil Mahfudz Tuhan yang indah."

"Perasaanmu sendiri bagaimana Zhaf?"

"Tentang apa? Yusuf?"

"Iya."

"Bukan hati dan cinta dia yang aku kejar."

"Lalu?"

"Aku mengejar masa depanku di mana Tuhan, Syari'at, dan kedua orang tuaku ada di kedua pundakku.

"Bagaimana kamu bisa melepaskan seseorang sesempurna Yusuf, Zhaf? Padahal kalian berdua terikat satu sama lain."

"Oleh perjanjian duniawi, iya. Tapi bukan berarti kami terikat oleh benang merah Lauhil Mahfudz-Nya. Lagi pula, aku masih belum siap untuk terikat bersama siapa pun saat ini. Karena bagiku pernikahan bukan lah persoalan remeh, bukan tentang hati dan perasaan, tapi tentang tanggung jawab besar yang harus kita hadapi untuk menjalankan Sunnah Rasul yang mulia. Dan aku masih belum bisa menggapai itu dengan segala prinsipku yang masih terkesan kekanak-kanakan. Aku mungkin telah didewasakan oleh keadaan, tapi aku belum mendewasakan Syari'atku dengan benar. Itu lah mengapa aku harus mundur dari segalanya, bahkan dari hati Yusuf."

Dhaniya terdiam menunduk kala mendengar kata-kataku.

"Aku sadar, Zhaf. Aku jauh dari kata yang kamu ucapkan. Kamu benar ternyata. Aku terlalu menganggap remeh segala hal yang membuatku mengejar hati makhluk dengan mengatasnamakan Zulaikha yang mengejar cinta Yusuf. Bagaimana bisa seseorang yang bahkan menguasai Syar'iat lebih jauh dariku harus dengan ikhlasnya mundur dari segalanya, sedangkan aku yang tanpa bekal memaksa untuk maju."

"Ga apa-apa, Dhan. Ada kalanya kita merasa bahwa diri kita butuh pembelajaran lebih."

"Kamu benar."

Aku tersenyum tipis kala tatapanku kutujukan kembali ke arah 2 sosok itu yang jauh di sana. Ada tawa dan senyuman di antara mereka dengan indahnya. Entah bagaimana perasaan Yusuf saat ini, namun Gaza telah menjadi saksi atas segalanya. Dan bumi ini akan abadi dalam perasaan kami yang tengah terporak porandakan.

She Is not CleopatraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang