"Memperhatikanmu diam-diam, mendoakanmu setiap saat, dan mencintaimu secara rahasia adalah hal terindah dalam hidupku. Karena dengannya, aku dapat mengetahui indah sosokmu dan dialogmu dengan Sang Pencipta begitu dalam. Aku tau mungkin ini tak mudah, tapi mengagumimu dari jauh dan melihatmu bahagia saja sudah sangat menenangkan perasaanku yang berkecamuk oleh keindahan duniawi. Aku mungkin bukan lah seperti apa yang kamu harapkan, namun kekangan ini biar lah aku yang merasakannya sendiri."
*
*
*
Kubuka pelan mataku kala dingin menerpa tubuhku dan menembus tebal selimutku. Sempat kulihat jam yang masih menunjukkan pukul 2 dini hari. Aku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan keluar dari post kala kutatap dua sosok laki-laki dengan indah parasnya berdiri bersebelahan sembari menatap kacaunya bumi di hadapannya. Rembulan tampak bersinar terang menerangi indah wajah keduanya yang berseri. Kemeja merah yang Yusuf kenakan mengingatkanku kepada kisah sang Kekasih Tuhan yang keindahannya bak rembulan malam. Sedangkan baju putih yang Askara kenakan seakan merefleksikan indah cahaya bulan yang menyinari sosok mulianya bak sang nabi dengan mimpi nan mulia. Perlahan senyuman terukir indah di antara bibirku kala menatap kedua sosok indah di bawah dinginnya fajar yang menyelimuti bumi ini.
"Zhaf?" panggil Askara kala ia membalikkan tubuhnya dan menatapku dengan senyuman indahnya.
Aku tersenyum mendengar panggilan lembut itu yang membuat Yusuf menoleh dan tersenyum dengan indahnya menatapku sebelum menunduk dengan santun. Kedua laki-laki itu lantas berjalan mendekatiku dengan indah senyuman yang merekah di antara wajah keduanya di bawah semburat rembulan yang indah.
"Terbangun?" tanya Askara lembut yang membuatku mengangguk pelan.
"Mau kemana?" kali ini Yusuf yang bertanya.
"Mau ambil wudhu," jawabku pelan.
"Yang lain belum ada yang bangun?"
Aku menggeleng pelan sebagai wakil dari jawabanku.
"Bisa sendiri? Atau perlu aku panggilkan mbak Fariza?" Yusuf menawarkan.
"Tidak perlu," cegahku, "aku bisa sendiri."
"Hati-hati, panggil kami ya kalau butuh sesuatu."
Aku mengangguk mengiyakan sebelum berjalan meninggalkan mereka berdua dan pergi mengambil wudhu. Tetes demi tetes dinginnya air kurasakan menyentuh kulitku kala ini. Gelap memelukku di dalam kesunyian saat pikiranku mulai di tenangkan oleh indahnya sang rembulan yang terpantul dari indah genangan air yang menetes di atas tanah nan tandus ini.
Beberapa saat setelah aku mengambil wudhu. Aku mulai menghamparkan sajadahku di post kami sebelum duduk di atas sajadahku untuk memulai indahnya dialogku dengan Tuhan. Kujulurkan kakiku yang masih terbalut dengan perban sebelum mulai kulantunkan takbir dan ayat suci Al-Qur'an dengan syahdunya. Tak terasa air mataku menetes kala diriku mulai terhantut dalam indah dan syahdunya dialogku dengan Tuhan di waktu yang sangat krusial ini. Salam menjadi penutup dari indah dialogku kala aku mulai menengadahkan tanganku dan mulai memperdalam dialogku.
***
"Pasien di ruang 403 sudah di cek?" ucap Daffa dengan langkah lebarnya sembari membaca rekam medis di tangannya.
"Pasien mengalami benturan parah setelah jatuh dari lantai 2, tulang rusuk sebelah kanannya patah dengan lengan sebelah kanan yang terkilir dengan sangat parah. Kita harus mulai melakukan operasi," jawab gus Syafeed yang berjalan cepat di sebelah Daffa.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romansa"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
