Tuhan dan Rencana-Nya

60 3 0
                                        

"Bagiku, cinta itu seperti Tauhid yang cukup percaya pada satu keyakinan dan bukan seperti Ilmu Hadits yang begitu mudah untuk disampaikan. Tapi ketahuilah, cinta itu seperti Ilmu Tafsir yang susah kamu ketahui maknanya jika kamu tidak menyelaminya."

-Muhammad Yusuf Alaudin Althaf-

*
*
*

3 tahun kemudian.

"Jadi, kapan kamu akan kembali ke Yaman?" tanya Dhaniya yang berjalan di sebelah Yusuf saat kami tengah menuju ke sebuah museum seni untuk sekedar meluangkan waktu.

"Besok Insyaallah," balas Yusuf masih dengan tatapan menunduknya nan santun tanpa menoleh menatap Dhaniya.

Dhaniya mengangguk mengerti saat mendengar kata santun nan terlontar dari bibir Yusuf. Sesekali ia melirik dari ujung matanya untuk menatap sosok sempurna di sampingnya. Sementara itu, aku masih dengan tak bersuaranya berjalan di samping perempuan itu. Sesekali aku mengobrol dengan Abigail tentang beberapa materi di kampus atau hal-hal random yang bisa kami lakukan di asrama kami.

"Zhafiy masih suka melukis?" tanya Haidar tiba-tiba.

"Masih kok."

"Mau coba melukis ga?"

"Melukis?"

"Iya."

"Dimana?"

Tampak senyuman indah Haidar terbentuk di antara bibirnya sebelum ia menggandeng tangan Abigail yang membuat perempuan itu menggandeng tanganku dan menarik kami memasuki sebuah toko seni tua yang indah. Kala itu pula Dhaniya dan Yusuf yang menatap kami hanya terdiam sebelum menyusul kami memasuki toko seni tersebut.

"Kenapa tiba-tiba pengen melukis?" tanya Dhaniya bingung.

"Karena Zhafiy pasti lagi stress," balas Haidar dengan senyuman indahnya kepadaku di kala aku dapat merasakan tatapan Yusuf yang tak terbaca kepadaku pula.

"Zhafiy itu kalau stress yang dipegang kuas, jadi cara unik dia adalah dengan meluapkan segala emosinya dalam bentuk seni, ya ga cantik?

Kutatap tajam Haidar yang kini tersenyum kepadaku. Tatapan laki-laki ini rupanya masih sama seperti kala itu saat kami masih bersama. Gemilang penuh semangat dan ide-ide aneh, serta antusiasme laki-laki ini masih dapat kulihat dari pancaran tatapan dan senyuman di bibirnya. Bohong jika aku tak menyukai sisi ini dari Haidar. Nyatanya, di kala aku sedang jatuh selama ini, Haidar lah yang menjadi tangan untuk memperkuat pondasiku.

"Kamu itu tolol atau gimana sih Zhaf? Dengan seenak ini kamu nyerah hanya karena ekspetasi orang lain? Dengerin aku ya! MIT ga butuh orang lemah seperti kamu dan masa depanmu ga pantes di jalankan oleh orang yang pesimis seperti kamu," suara Haidar kala itu masih menggema dalam pikiranku, kata-kata yang anehnya justru menamparku dan membuatku bertahan hingga titik ini.

"So which one do you prefer? Oil painting, water painting, or acrylic painting?" tanya Abigail dengan senyuman indahnya yang merekah.

"Oil painting," sahut Haidar cepat bahkan saat aku belum sempat mengatakan apa pun kepada Abigail. "Kamu pernah bermimpi menjadi seorang pelukis seperti Leonardo Da Vinci kan? Aku mungkin belum bisa membantumu menggapai mimpi itu, tapi apa salahnya untuk mencoba?"

She Is not CleopatraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang