Gemintang tak menjanjikan jikalau ia selalu membentang cahaya. Andaikan hirap pun karna sekat, tandanya sporadis sebagai sifat, tiada melebur keberadaannya.
Singkatnya kisah ini menceritakan tentang alasanku menyukai malam dan kesunyiannya. Mungkin sebagian besar orang mencintai senja dan jingga yang timbul di cakrawala. Tapi bagiku saat menatap bintang, ada sajak tak terucap dan indahnya pola di langit yang tertangkap di ujung pandanganku. Refleksi bintang dalam pamtulan indah samudera kala itu membuatku mengingat betapa aku mengagumi malam dengan segala keindahan ucapan dan senyumanmu.
*
*
*
Aku menatap indahnya malam yang entah mengapa membuatku kagum. Kali ini bukan lagi gemerlap cahaya lampu gedung pencakar langit yang menjadi pemeran urama seperti biasanya, melainkan sebuah langit bertabut bintang yang indah. Sejenak kurasakan sapuan lirih angin yang menerbangkan lembut rambutku yang kubiarkan tergerai tanpa penutup. Sejenak pula kutatap aster yang tertanam indah di jendela yang mengarah pada pemandangan perkotaan. Aku berjalan mendekati bunga itu dan menyiramnya saat seseorang datang dan tersenyum dengan perlakuanku.
"Terima kasih," ucapnya yang membuatku menoleh.
"Shafa?" ucapku pelan.
"Sepertinya tadi kamu banyak mengobrol dengan Askara," tanyanya.
Aku mengangguk pelan sembari tersenyum simpul. "Kami hanya mengobrolkan masa-masa sekolah dan kegiatan kami saat ini."
Terlihat indahnya senyuman di antara bibir Shafa saat menatapku. "Aku mengerti."
"Sudah disiram?" sebuah suara membuat kami berdua menoleh dan tersenyum kepada sosoknya.
Terlihat Fazia masih dengan cadar yang menutupi wajahnya berjalan tergesa-gesa mendekati kami dan melihat aster yang kusiram dengan penuh kasih sayangnya.
"Sudah kusiram kok," balasku.
"Tenang aja Fa," sambung Shafa.
"Alhamdulillah," suara Fazia terdengar begitu lega.
"Sesayang itu ya kamu sama aster ini?" tanyaku.
"Eit jangan salah, ada banyak orang yang menyukai aster disini," jawab Fazia.
"Siapa?"
"Hampir semua orang disini menyukai aster, Zhafira."
"Aku menyukai bunga yang berbeda," ujarku sembari menunjuk Hydrangea blur yang kuletakkan di dalam vas kaca berisi air di atas meja ruang tamu.
"Kapan kamu membelinya?" tanya Shafa.
"Tadi bersama Zian."
"Kamu beli Hydrangea blue dengan Zian?" kejut Fazia yang mampu kutangkap dari balik cadar kesuciannya.
"Kami hanya lewat toko bunga dan aku melihat Hydrangea blue di sana."
"Dan kamu membelinya?" sahut Shafa.
"Bunganya sudah di sini."
"Setelah menaklukkan Haidar, Daffa, Syafeed, dan Zaidan, sekarang Askara."
"Apa maksudmu Fa?" tanyaku bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romance"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
