"Aku ingin cinta yang akan berkata: Bahkan kematian pun tidak akan memisahkan kita, karena kelak kita akan dipertemukan kembali di surga, Insyaallah."
-Aisyah Al-Haddid-
*
*
*
"Kenapa kamu selalu memanggilku Aisyah? Padahal namaku bukan Aisyah," tanyaku pelan.
"Kamu akan selalu menjadi Aisyahku."
Yusuf tersenyum menatapku kala itu. Kini aku terdiam menatap indah padang pasir yang terbentang dengan begitu bebasnya. Sesekali lirih angin menghempas gamisku, khimar, dan cadar yang ku kenakan. Sesekali tatapanku mengarah kepada indahnya langit senja dengan berhiaskan awan dan burung-burung yang beterbangan. Tanganku menggenggam indah aster dengan setangkai hydrangea blue di antaranya. Sesekali mataku harus tertutup karena debu padang pasir yang terhembus.
"Aisyah."
Panggilan itu membuatku membuka mata tajamku yang berhias celak hitam sebelum menoleh menatap sosok itu. Sang pendekar dengan gagahnya turun dari Dzulfikar dan berjalan ke arahku. Tangan kokohnya menggenggam lembut tanganku sebelum menggandengku untuk berjalan di padang pasir di bawah langit senja. Gamis putihku menghempas indah padang pasir yang berdesir lembut oleh lirihnya angin. Tanganku masih menggenggam seikat aster dan hydrangea blue sebagaimana saat kami bertemu.
"Kupikir ini tentang kisahku dengan banyaknya hiruk piruk hidupku. Ternyata aku salah, ini tentang padang pasir dan kisahnya yang memeluk indah perjalananmu menggapai singgasana-Nya," gumamku kala kami berjalan menyusuri padang pasir nan indah ini.
"Padang pasir akan selalu menjadi saksi bisu di setiap perjalananku sebagaimana peradaban barat yang menyimpan indah perjalananmu."
Aku tersenyum menatap sosok indahnya kini menatapku dengan tatapan tajamnya yang meneduhkan.
***
"Atma yang mengukir cinta pada hati yang sunyi, membisu pada kerinduan abadi bersama kenangan yang terpintas. Aku akan terus membersamaimu dalam setiap lintasan doa penuh harap dengan bahasa terindah. Dalam lingkaran takdir ini aku harap kamu lah yang akan menjadi jatukrama ku, menghadapi nestapa dan lara, menjadi rumah untuk bercerita."
-Muhammad Yusuf Alaudin Althaf-
-----
"Aku adalah pengagum fatamorgana. Jumantara kelabu yang kulihat dulu tak lagi sama, nyatanya kita terlalu lengkara untuk asmaraloka karena aku dan kamu hanyalah sebuah enigma. Ku titipkan renjana yang menciptakan nestapa bersama dengan desiran anila. Lewat diksi ini, kutuliskan segala tentangmu dengan sederhana, menjadikannya indah pada sastra. Ini tentang ilusi dimana kamu adalah pelengkapnya."
-Aisyah Al-Haddid-
*****
"Ketika aku berpikir bahwa hidupku telah hancur, padang pasir ini seakan memelukku dalam keheningan yang menyejukkan. Ternyata benar apa kata Yusuf, bahwa kita tak bisa memercayakan segalanya kepada makhluk yang Fana alih-alih Tuhan yang kuasa. Padang pasir ini telah menjadi saksi bisu sebuah kisah indah yang tiada akhirnya. Membumbui perasaan cinta suci dalam aliran doa yang dilangitkan menuju singgasana-Nya dan dia selalu menjadi pemeran utamanya."
-Az Zahra-
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romance"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
