"Nadi-nadi itu bagai seruling yang mendengarkan nada manis dan piluh: Musik dari lautan berpantai, yang gelombangnya bergemuruh dari semesta tak terhingga."
-Rumi-
*
*
*
Setelah mengalami jetlag yang memakan hampir 2-3 jam perjalanan, laki-laki itu telah sampai di tempat seharusnya ia berada. Yaman kala itu tampak begitu indah, manhattan di padang pasir ini entah mengapa begitu membuatnya rindu walau pun ia hanya pergi selama 3 hari ke Yordania. Ditatapnya jalanan nan berkilau karena pancaran sinar matahari pagi yang memancarkan kehangatan. Hanya saja, segala hal yang ia lihat seakan tak memancarkan keindahan di kala pikirannya telah dipenuhi oleh kekalutan dan keraguan akan banyak hal. Yusuf keluar dari mobil yang ia tumpangi menuju penginapannya saat seseorang dengan cepat memeluknya tanpa memberinya celah untuk mengatakan sepatah kata pun.
"Makalah kita diterima Syeikh Hasan dan akan di publikasikan ke majalah bulanan kampus," ucap Ravi dengan penuh kebahagiaan.
"Alhamdulillah."
"Kami sudah mencoba untuk menghubungimu, tapi kamu tak bisa dihubungi," sahut Haliza yang tiba-tiba datang.
Ada senyum tipis yang berusaha Yusuf paksakan di kala ia merasakan kekalutan yang begitu mendalam dalam pikirannya.
"Aku sedang menenangkan diri, jadi..."
"Tidak apa-apa," potong Haliza cepat dengan senyuman merekah saat perempuan itu menatap Yusuf. "Lagi pula kamu ke rumah paman kamu kan?"
"Iya."
"Ya sudah kalau begitu, aku masuk dulu," pamit Yusuf yang diikuti oleh anggukan Haliza.
"Oh iya Yusuf."
Yusuf segera menghentikan langkahnya saat Haliza berjalan mendekatinya dan menyerahkan sebuah kotak roti kepada laki-laki itu.
"Aku sudah mengantri selama satu jam untuk mendapatkan rasa kesukaanmu," ucap Haliza masih dengan senyuman yang merekah nan menampakkan kecantikan perempuan Mesir bak Cleopatra itu.
Yusuf menatap singkat Haliza dan kotak itu bergantian. Sesekali ia menatap Ravi yang hanya tersenyum seakan mengetahui isi benak Haliza dan apa yang harus Yusuf lakukan. Mungkin Ravi telah memahami arti ucapan Gheena beberapa saat lalu, ia juga memahami arti kekalutan dalam tatapan tajam Yusuf yang kini menatap Haliza dengan tatapan tak terbaca. Namun, laki-laki itu menerima apa yang Haliza berikan padanya lantas tersenyum tipis yang nampak begitu dipaksakan di mata Ravi.
"Terima kasih."
Senyuman Haliza kian lama kian merekah dengan tatapan nan bersinar diantara kesempurnaan pesona wajahnya bak Cleopatra.
"Sama-sama," balasnya sebelum Yusuf berjalan memasuki penginapannya.
Laki-laki itu lantas meletakkan tasnya di atas tempat tidur, sesekali ia menatap tempat tidur Husein yang menunjukkan bahwa laki-laki itu belum juga kembali dari urusan mendesaknya di Iran beberapa saat lalu. Kekalutan itu.masih ada saat Yusuf menatap kotak roti pemberian Haliza dengan sebuah kotak kecil bewarna putih nan indah di samping kotak roti tersebut.
Perlahan tangan kokohnya menggapai kotak putih tersebut dan membukanya, menampakkan sebuah cincin perak indah yang entah kepada siapa cincin itu akan ia berikan. Lantas air matanya kembali menetes saat ia kembali merasakan rasa sakit dan sesak menjalar mengisi rongga dadanya. Dengan cepat ia simpan kotak tersebut ke dalam laci mejanya sebelum tubuhnya tersungkur di atas lantai nan dingin dengan air mata yang mengalir deras membasahi pelupuk mata tajam nan indahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Is not Cleopatra
Romansa"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu memb...
