3. Kak Dery dimana?

759 41 0
                                        

'sebelum baca jangan lupa tap bintangnya gess'

£


Cuaca panas tak menjadi halangan untuk seorang pemuda bersurai cokelat madu untuk duduk selonjoran di tepi jalan menunggu seseorang menjemputnya. Jam pulang sekolahnya sudah berlalu sejak dua puluh menit-an yang lalu namun belum ada tanda-tanda orang yang menjemputnya datang.

"heii bocah manis, kenapa berpanas-panasan disana?" tanya satpam penjaga sekolah mendekati pemuda bersurai cokelat madu itu.

"Kak Dery menyuruh ecan menunggu disini tadi pagi, jadi ecan harus menunggu" ucapnya dengan tersenyum lebar.

"astaga, tidak mungkin Kakakmu itu tega menyuruh adik manisnya untuk berpanasan seperti ini" satpam itu berjalan mendekati Haechan "carilah tempat berteduh, kalau tidak kau bisa sakit nanti"

Haechan menggeleng "ecan tunggu disini saja" tolak Haechan sopan.

Satpam itu menggeleng "keras kepala sekali" ucap satpam itu dalam hati "baiklah paman pergi dulu, tapi kalau kau sudah lelah berdiri disini sebaiknya nanti pindah saja ke sana" tunjuknya pada halte bus yang terletak di sisi lain gerbang sekolah, hanya berjarak lima puluh meter-an dari tempatnya berdiri sekarang.

Haechan mengangguk mengerti, lalu satpam itu pergi dari hadapan Haechan. Matanya menatap kepergian satpam itu, pria tua itu masuk ke perkarangan sekolah.




hufttt...

"Kak Dery tidak lupa untuk  menjemput ecan kan?" gumam Haechan cemas, matanya berkaca-kaca, tidak, tidak, dia tidak ingin menangis, tapi matanya malah menghianati nya. Ia menggigit-gigiti kuku jarinya. Keningnya berkeringat, Ia jadi takut "ecan tidak tahu jalan pulang"

Haechan berjongkok, Ia melipat tangannya di atas sikut kakinya, kepalanya Ia taruh di lipatan tangannya. Ia lanjut menangis disana.

"dimana rumah ecan? Kak Dery dimana?"

"ECANNN!" Haechan mengangkat kepalanya, Ia mengenali suara ini, matanya menoleh ke kanan dan kiri mencari sumber suara. Tangannya sibuk mengusap air mata yang membasahi pipinya.

"KAK DERY" pekiknya berlari memeluk orang yang di panggil kak itu.

"maaf Kak Dery telat" Haechan mengangguk dalam pelukan itu.

"ayo pulang" Haechan melepas pelukannya, Hendery merangkul pundak Haechan untuk berjalan bersamanya "mau makan Bibimbap?" Haechan mengangguk.

"ecan juga mau Jajangmyeon"

"umm.. baiklah, akan kakak buatkan"

Mereka berjalan sambil bergandengan menuju apartemen yang letaknya kurang satu kilometer dari sekolahan Haechan.


£

Siang yang panas ini, Hendery kembali berjalan menuju tempat kerjanya, Ia bekerja sebagai pelayan di sebuah bar. Ia bekerja disana baru beberapa hari, disetiap jam pulang sekolah Haechan Ia meminta izin untuk menjemput Haechan. Haechan tidak bisa sendirian untuk pulang ke apartemen. Hendery juga tidak membiarkan Haechan bepergian sendiri.

Hendery semakin mempercepat langkahnya, waktu yang diberikan oleh manager bar untuknya izin hanya satu jam, sekarang waktu yang dimilikinya kurang dari lima menit. Lokasi tujuannya masih ada di depan sana.

"lari.. lari.. lari.. " gumamnya sambil berlari kecil menuju bar.

Hendery memperlambat langkahnya ketika Ia sudah berada di depan bar. Saatnya mengganti kembali pakaiannya menjadi pakaian kerja. Ia melangkah menuju ruangan para karyawan.

£

Cahaya terang matahari perlahan memudar digantikan awan mendung. Sore ini Hendery berjalan menuju tempat kerja berikutnya. Minimarket. Ia bekerja sebagai seorang kasir di sana.

Seperti biasa langkahnya Ia percepat agar segera sampai dilokasi tujuannya.

"huftt.." hembusan nafas lega keluar dari belah bibir Hendery "melelahkan juga"

Kaki Hendery berhenti didepan minimarket, ia melihat kanan dan kiri sebelum masuk.

"sepi"

Hendery masuk ke dalam minimarket dan berjalan menuju ruang ganti. Setelahnya Ia berjalan menuju meja kasir menggantikan temannya yang sudah bersiap-siap untuk pergi.

"Hendery aku pamit pergi, selamat bekerja" ucap teman Hendery sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu.

Hendery menekuk wajah, minimarket tempatnya bekerja sepi jadi Ia tidak ada teman untuk bicara.

Beberapa menit berlalu, awan gelap semakin mendominasi, entah awan malam atau awan hujan.
Seseorang masuk melalui pintu, itu bosnya, pemilik minimarket ini. Sial apa kesalahan Hendery, tumben sekali bosnya datang.

"sore tuan" sapa Hendery sopan dan sedikit membungkuk.

Hendery masih berdiri di meja kasir.

"sore"

"Hendery" Hendery menatap wajah bosnya dengan ekpresi bingung, alisnya terangkat sebelah.

"ada apa tuan?"

"huftt.. " hembusan nafas kasar Hendery dengar "Hendery minimarket kita belakang ini selalu sepi, jadi maaf sepertinya tempat ini akan di tutup"

Hendery mengangguk mengerti "gajimu akan akan aku berikan besok, kembali kesini besok sekitar jam tujuh malam, sekarang lebih baik kau tutup saja minimarket ini, tidak akan ada yang datang kesini"

Setelah mengatakan kalimat itu, sang bos langsung melangkah pergi meninggalkan Hendery. Berkali-kali terdengar hembusan nafas kasar dari Hendery.

"kemana aku harus mencari pekerjaan?" 

Hendery telah mengganti pakaiannya, Ia berjalan keluar minimarket. Ia beranjak pergi dari sana, tidak lupa Ia mengunci pintu minimarket terlebih dahulu. Sekarang tujuannya adalah apartemen tempatnya tinggal.

Suasana malam menemani langkah Hendery. Ia berjalan gontai. Tubuhnya terasa lelah. Pikirannya kalut. Pekerjaan apa yang akan Ia dapatkan untuk mengisi waktu malamnya. Ia bekerja di bar dari pagi sampai menjelang sore, lalu dari sore sampai tengah malam Ia menjadi kasir di minimarket, sedangkan minimarket tempatnya bekerja sudah akan di tutup.

Memang kenyataannya minimarket itu sudah sepi, tidak seperti awal-awal Hendery bekerja disana.

"Eomma Appa bantu Hendery" gumamnya.

Matanya menatap langit dengan senyuman miris. Malang sekali nasibnya. Tapi Hendery harus kuat, Ia punya tanggungjawab yang harus Ia jaga dan lindungi.



TBC

My Problem and Our ProblemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang