44. Perasaan Xiaojun

330 13 0
                                        

🗿ᮢᮡᮣᮁᮀᮂ

Sebelum baca jangan lupa Vote and Comment,
yang mau ngasih ide juga boleh...

°°°°°°

Kalau ada yang mau memperbaiki beberapa kalimat yang rasanya kurang cocok juga boleh..

So.. selamat membaca~

"papi kita pergi dulu" pamit Chenle melambaikan tangannya kepada Haechan.

Haechan mengangguk dan membalas lambaian tangan Chenle.

"ayo cepat Lele kita sudah hampir terlambat" pekik Mingrui gemas melihat Chenle yang masih berjalan santai.

"hati-hati Chenle, Mingrui nanti pulang akan papi jemput" ucap Haechan setengah berteriak karena kedua anaknya sudah cukup jauh di depan sana.

Wajah Haechan begitu berseri dengan senyuman yang tak kian meluntur walaupun kedua anaknya sudah tak terlihat lagi olehnya.

"hufftt, maaf Chenle, Mingrui papi bukan orangtua yang baik"

"tapi.. mulai sekarang papi akan memperbaiki semuanya" teguh Haechan.

Setelah puas bergumam sendirian, Haechan lalu pergi meninggalkan kawasan sekolah.

Hari ini ia ingin datang ke restoran yang menerima dirinya bekerja kemarin.

"apa ecan akan membatalkan pekerjaannya?"

"kak Dery ecan bingung, ecan tidak mau merepotkan kakak, tapi kakak sendiri yang menyuruh ecan untuk tidak bekerja"

Hembusan nafas kasar Haechan lepaskan, dirinya masih menimang keputusan, ia tidak ingin menyesal sendiri nanti.

"baiklah ecan tau"

Haechan mempercepat langkahnya, sekarang tujuannya adalah restoran milik orang yang dipanggilnya bubu kemarin. Dirinya hanya berjalan kaki karena lokasinya lumayan dekat dengan sekolahan anaknya.


£

Suara ketukan sepatu dengan lantai terdengar samar. Suara itu kian mendekat ke arah pintu. Dan sebuah tangan kecil terulur mendorong gagang pintu. Setelahnya langkah itu berjalan mendekati penjaga kasir yang sedang duduk di bangku kasir.

"permisi"

"ahh.. ya, ada yang bisa saya bantu tuan?" ujar sang kasir sopan.

"eoh.. itu, saya Haechan bisa saya bertemu dengan pemilik kafe ini? kami sudah membuat janji kemarin" Haechan menjelaskan.

"maaf tuan, boss kami sedang tidak disini, jika tuan mau tuan bisa menunggu beliau selagi kami menginformasikan nya kepada beliau"

"hah? umm.. baiklah"

Haechan memundurkan langkahnya, ia mengangkat kakinya berjalan menuju sebuah meja yang berada di pojok dekat kaca.

Menghembuskan nafas kasar, Haechan mengeluarkan handphone nya dari dalam saku celana yang dikenakannya.

"bagaimana caraku mengatakannya kepada bubu?"

"tapi aku butuh pekerjaan ini"

Helaan nafas kasar kembali terdengar, Haechan menelungkupkan wajahnya pada tangan yang ia lipat di atas meja.

£

Disisi lain, Hendery sedang duduk santai di ruang kerjanya. Beberapa menit lalu ia baru menyelesaikan rapat penting bersama rekan kerjanya, tidak lupa juga dengan Xiaojun yang menjadi pemimpin utamanya.

Sekarang sudah masuk jam makan siang. Hendery menatap jam tangannya kemudian pandangannya
tertuju pada pintu di depannya.

"aku lelah.. " keluh Hendery menatap langit ruangan yang bernuansa putih itu.

"selalu saja mengeluh" jengah Hendery, ia kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan kerjanya.

Tujuannya sekarang adalah kantin, perutnya benar-benar lapar sekarang. Hampir empat jam waktu yang ia habiskan di ruang rapat tadi pagi.

Hendery sedang mengantri di kantin kantor. Hari ini ia akan makan siang di kantin kantor saja.

Setelah nampan makanannya berisi, Hendery segera mencari kursi kosong, ia hanya ingin duduk sendiri saat ini. Dirinya tidak ingin diganggu oleh siapapun itu.

Mendudukkan diri di kursi paling belakang, Hendery menikmati makanannya sendiri dalam keheningan. Sesekali matanya akan mengikuti pergerakan orang-orang yang berlalu-lalang di ruangan itu.

Ketika sedang asik menikmati makanannya, sebuah suara menghentikan kegiatan Hendery.

"hai!!" Tanpa menoleh pun Hendery tau siapa pemilik suara ini.

"ya?" saut Hendery.

"boleh aku duduk di sini?"

"silahkan, mau aku pesan kan makanan untukmu?"

"tidak perlu aku hanya sebentar"

Hendery mengangguk mengerti, piring makanannya ia pindahkan sedikit ke samping dan tatapannya sepenuhnya tertuju pada orang yang sedang duduk dihadapannya. Ia mengembangkan senyumannya agar tidak terlihat kaku.

"tidak usah menatapku seperti itu"

"umm.. aku ingin mengatakan bahwa minggu depan kita akan melakukan pekerjaan penting di Chicago"

Tatapan Hendery yang tadinya nampak sumringah sekarang jadi menyendu. Bahkan tatapan matanya menyiratkan kesedihan.

"ada masalah?"

Bahkan fokusnya jadi hilang.

"Hendery?"

"hai! kau baik-baik saja?"

"ha? tidak.. tidak ada apa-apa, maafkan aku"

"ada apa dengannya?"

"oke baiklah aku sudah memesan tiketnya jadi kau persiapkan saja dirimu"

"baiklah tuan Xiaojun yang terhormat" ujar Hendery dengan gelak tawa. Xiaojun hanya memutar matanya malas.

"aishh.. kau ini, sudahlah aku mau pulang"

Xiaojun pergi meninggalkan Hendery, suara tawa Hendery masih terdengar olehnya, Xiaojun hanya bisa mengembangkan senyumannya ketika sudah jauh dari area kantin.

"sepertinya aku takkan pernah bisa untuk berhenti menyukaimu Hendery"


TBC

yooo wassap gess..

My Problem and Our ProblemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang