Mendung penuh lara telah di lalui dengan beribu tangisan. Semua impian yang diinginkannya semasa kecil terpaksa harus di kubur dalam-dalam. Bukan keinginan Haechan untuk memiliki kehidupan seperti ini. Tapi Tuhan berkeinginan lain. Takdir hidup yang dijalaninya sekarang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.
Satu bulan telah berlalu sejak kepulangan orangtuanya. Perlahan Haechan sudah menerima semua kenyataan yang terjadi. Memang terasa menyakitkan tapi ia akan berusaha sekuat tenaganya. Ada Chenle dan Mingrui yang menjadi tujuan hidupnya dan keluarganya juga mendukung dirinya untuk terus berjuang.
Hari ini adalah jadwal anak-anak bersama Mark. Sesuai kesepakatan yang mereka janjikan Chenle dan Mingrui, dua hari dalam seminggu akan tinggal bersama Mark. Jika Haechan boleh egois ia tak ingin anak-anaknya bersama Mark ia tak ikhlas. Hanya saja Haechan tak tega, ia tidak ingin lagi anaknya mendapat perundungan di manapun.
"setelah sarapan taruh piring kotornya di wastafel dapur dan tunggulah di depan" titah Haechan sambil menghabiskan makanannya.
"baik papi" serempaknya.
Haechan memperhatikan langkah kedua anaknya dengan pandangan murung. Otaknya memikirkan sesuatu yang sangat menyakitkan untuk dirinya.
"jika pun nanti mereka lebih memilih Mark itu resiko mu Haechan, kau kan yang dulu tidak menginginkan mereka" sendunya dengan senyuman miris.
"seandainya kau dulu ikhlas menerima semuanya mungkin ini semua tidak akan terjadi dan andaikan Mae dan Appa tidak di culik mungkin hidupku tidak akan begini"luruh sudah pertahanan Haechan, matanya tidak bisa menahan tangis.
"aku membencimu Mark, harusnya mereka bersamaku bukan dirimu, kenapa kau jahat sekali ingin mengambil mereka dariku?"
"aku benar-benar membencimu benci" bentak Haechan.
Chenle dan Mingrui yang mendengar suara Haechan pun bergegas menyusul ke dalam.
"papi? kenapa? ada apa?" tanya Mingrui dengan suara kecil.
"pergilah, suasana hati papi sedang tidak baik" ujar Haechan pelan.
Setelahnya Haechan beranjak ke kamarnya. Ia melanjutkan tangisnya disana. Ia tak ingin menyakiti anaknya nanti pikiran dan hatinya saat ini benar-benar kacau.
"jangan ambil mereka Mark.. ku mohon.." ujarnya sisela sesenggukan.
"kau jahat Mark.. jahat"
Haechan menyandarkan punggungnya pada pinggiran kasur. Lantai yang dingin menjadi alas duduknya. Semenjak kedatangan Mark, kedua anaknya selalu saja tak mau lepas dari pria itu. Haechan iri tentu saja. Apalagi melihat perlakuan Mark kepada anaknya. Tak terbayang oleh Haechan jika nanti anak-anaknya lebih memilih ikut dengan Mark ketimbang dirinya terlebih dia tidak memiliki apapun selain keluarganya.
£
D
i ruang tengah, Chenle dan Mingrui tampak murung dengan pandangan pada pintu. Mereka masih memikirkan kenapa tadi Haechan menangis.
"kita tidak melakukan kesalahan apapun kan?"
"kenapa papi menangis?" ujar Chenle.
"mungkinkah papi merindukan Mae? seperti kita merindukan Daddy?" tebak Mingrui.
"apa kita harus menelfon Mae dan mengatakan papi merindukan Mae?"
"Rui tidak tahu"
"kita tunggu Daddy saja" Usup Chenle.
"hmm baiklah, tumben Daddy lama sekali"
Kedua bocah itu kembali menunggu Mark ditemani rasa bosan yang sangat mendominasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Problem and Our Problem
Aléatoire"maafkan aku yang tak bisa bersikap layaknya orangtua untuk kalian, tapi mulai sekarang aku berjanji akan selalu menyayangi dan melindungi kalian, aku benar-benar minta maaf" Seo Haechan ceritanya aku ganti judul dari "why can like this" menjadi "my...
