'sebelum baca jangan lupa tap bintangnya gess'
£
Haechan mengulas senyumannya, hari ini sudah memasuki bulan ketiga ia bersekolah di sini. Ada perubahan besar di kehidupannya dalam dua bulan belakangan ini.
Pertama, ia tidak diganggu lagi oleh Mark serta teman-temannya. Bukan tidak diganggu, tapi sudah jarang. Tidak ada lagi Mark yang menyetubuhi nya dan tidak ada lagi Mark yang menendangnya, yang ada sekarang hanyalah Mark yang sering mendorong dan menguncinya di gudang sekolah.
Memang bukan perubahan yang baik, tapi itu jauh lebih baik dari sebelumnya. Apalagi di bulan pertama ia sekolah. Sungguh sangat menyedihkan.
"Chan kau sakit?" Renjun menatap dalam wajah Haechan yang terlihat pucat dan kelelahan.
Haechan menggeleng "aku baik-baik saja dan aku sangat bahagia" ujarnya.
Sekarang mereka berdua sedang menikmati bekal makan siang mereka di kantin.
Tadi pagi Hendery membuatkan Haechan bekal untuk makan siang.
"kenapa?"
"entahlah, yang aku tahu aku sangat bahagia sekarang, aku jadi merindukan kak Hendery"
"aneh"
Haechan mencebikkan bibirnya menatap Renjun. Sedangkan Renjun pemuda mungil itu nampak kesal melihat Haechan.
"Haechan, Renjun"
Sebuah suara berhasil mengalihkan perhatian mereka.
Keduanya kompak menoleh ke sumber suara yang berada di sisi kiri Haechan.
"apa maumu?"
Jaemin, dialah orang yang berhasil mengalihkan atensi dua pemuda yang tengah asik berbincang itu.
Di belakang pemuda itu berdiri satu orang lainnya, Jeno.
Jaemin melangkah mendekat pada Haechan, Haechan membolalakkan matanya lebar, apalagi ini? Baru saja ia bahagia bahwa dalam beberapa minggu belakangan ini ia sudah jarang diganggu lagi tapi ini?
Haechan menutup kotak bekalnya asal dan membawanya lari menghindari Jaemin, ia lupa disana ia meninggalkan satu temannya.
Jaemin menunduk dalam melihat kepergian Haechan.
"apa yang kalian berdua inginkan? jangan ganggu kami lagi" final Renjun berlalu meninggalkan kedua manusia itu.
Jaemin yang ingin berbicara jadi urung karena Renjun telah pergi dahulu tanpa mendengarkan ia berbicara.
"tak apa" Jeno menepuk bahu Jaemin untuk menenangkan pemuda itu.
"ayo kembali ke kelas" Jaemin mengangguk, keduanya berlalu berjalan bersama menuju kelas.
£
Renjun mengumpat pelan ketika melihat tubuh Haechan tumbang didepannya. Kaget? jelas ia kaget melihat bagaimana tubuh Haechan itu pingsan. Dengan secepat yang ia bisa, ia berlari menyusul Haechan.
"Chan bangun" lirih nya menepuk pelan pipi Haechan.
Haechan yang sudah tidak sadarkan diri tentu tidak mendengar apa yang Renjun katakan.
Beberapa siswa-siswi berkerumun di sana, melihat Renjun yang kepalang panik melihat Haechan. Tak ada yang berniat membantu, hanya menonton, menikmati seolah itu adalah pertunjukan gratis yang bagus.
"bantu aku membawa Haechan ke UKS" pinta Renjun pada beberapa siswa yang melihatnya.
"jangan bawa ke UKS, dokter sekolah tidak hadir hari karena ada tugas dirumah sakit" ujar seorang siswa yang berniat membantu Renjun dan Haechan.
Anak itu mengangkat tubuh Haechan dengan mudahnya. Ia berlari menuju parkiran sekolah lalu meletakkan tubuh tak berdaya Haechan didalam mobil.
"mobilmu?" tanya Renjun yang melihat tubuh Haechan sudah terbaring di kursi penumpang.
"ya, ayo cepat" Pemuda itu menyuruh Renjun untuk masuk di kursi depan sementara ia menyetir.
Renjun menggigiti kuku-kuku jarinya, hatinya benar-benar cemas. Matanya tak henti-henti melirik Haechan.
Perjalanan yang seharusnya hanya setengah jam terasa begitu lama. Ia mengumpat dalam diam. Apa yang harus ia lakukan, ia tidak ingin Haechan kenapa-napa. Dan apa yang harus ia katan pada Hendery, bisa-bisa nanti dirinya di interogasi oleh Hendery.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
My Problem and Our Problem
Random"maafkan aku yang tak bisa bersikap layaknya orangtua untuk kalian, tapi mulai sekarang aku berjanji akan selalu menyayangi dan melindungi kalian, aku benar-benar minta maaf" Seo Haechan ceritanya aku ganti judul dari "why can like this" menjadi "my...
