53. Maaf

431 19 2
                                        

Vote
vote
and
vote
ya


Di sini Haechan serta kedua anaknya sekarang berdiri di depan orangtua serta kakaknya. Setelah menunggu hampir dua jam di rumah Taeyong akhirnya orang yang ditunggu-tunggu nya pun datang.

Bulir bening tak hentinya keluar dari kelopak mata Haechan, bahkan beberapa kali tarikan ingus terdengar sangat jelas disana.

"aku merindukan kalian" ujarnya dengan nada nyaris tak terdengar.

"maaf.. "

"tidak tidak.. bukan salah Mae ini semua.. kesalahan paman tua itu.. dia dalangnya" ujar haechan dengan isakan tangis.

"papi.. " bahkan Haechan melupakan dua buntutnya yang sedari tadi berdiri memegangi ujung bajunya.

Haechan menghapus air matanya lalu berjongkok menyamakan tingginya dengan Chenle dan Mingrui.

Menatap kedua anaknya bergantian lalu kepalanya menatap orangtuanya yang kebingungan.

"maafkan haechan"

Air matanya kembali meluruh "Appa Mae maafkan haechan" ucapnya menangis memeluk orang yang dipanggil Appa dan Mae itu.

"ada apa? jangan menangis"

"Mae tidak akan marah kan? jangan benci haechan ya! maafkan haechan" tangisan Haechan semakin menjadi-jadi.

Chenle dan Mingrui yang melihat itupun perlahan ikut menangis "kenapa papi menangis?" ujar Mingrui.

"tidak tidak jangan menangis" Haechan berusaha menenangkan anak-anaknya sambil mengelap sisa air matanya.

"ada apa ini Haechan?" Appa Haechan lun akhirnya berlutut memegang pundak anaknya untuk meminta penjelasan.

"appa..."

Dari belakang, seseorang menepuk bahu Johnny Appa nya haechan.

"Mark akan jelaskan" Haechan menatap mark dengan tatapan tidak suka tapi ia tidak bisa menceritakan semuanya kepada orangtuanya dadanya terasa sesak.

"dua anak kecil itu, Chenle dan Mingrui" menjeda kalimatnya, Mark menghela nafas kasar "mereka anak-anaknya Haechan, aku.. aku yang menghamili Haechan bahkan membuatnya celaka, aku.. " tenggorokan mark tercekat ia tidak bisa lagi meneruskan ceritanya "intinya Mark yang jahat disini tolong jangan sakiti Haechan atapun membencinya karena itu seharusnya diberikan pada Mark"

"apa yang kau katakan? mereka bukan anak-anakmu, mereka milikku hanya aku" amuk Haechan memeluk kedua anaknya dengan sangat erat. Bahkan tubuhnya terlihat seperti bergetar.

"can.. aku-" Haechan menatap Mark dengan tajam "diamlah, aku muak melihatmu tolong pergilah dan jangan pernah menapakkan dirimu lagi didepanku"

Haechan berdiri dengan terburu-buru sambil menarik pergelangan tangan anaknya "ayo kita pergi" ujarnya.

Chenle dan Mingrui yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi pun hanya pasrah mengikuti Haechan.

"apa yang kau lakukan pada anakku Mark? ujar Johnny dengan tenang.

"maaf.. " Mark menunduk lesu "pukul saja Mark untuk mengurangi rasa sakit kalian melihat Haechan, itu semua salah Mark, tak apa Mark tak akan membela diri jika kalian ingin membawa masalah itu pada polisi, ayo Mark tidak aka-" Mark menjatuhkan dirinya di kaki Johnny "paman ayo pukul Mark" pasrahnya.

"aku tidak ada hak Mark" Johnny berusaha untuk tenang walau sebenarnya ia ingin sekali membunuh Mark saat ini setelah melihat anaknya yang seperti depresi tadi, tapi ia masih ingat karena berkat bantuan Mark lah ia masih ada disini "selesaikan masalahmu dengan anakku dan setelah itu baru aku yang akan menyelesaikan sisanya" ujar Johnny.

"dramatis sekali" cibir Hendery duduk di sofa melihat segala kejadian tadi, sebenarnya Hendery ingin sekali memukuli Mark tadi, ia kira Johnny akan bertindak ternyata tidak "harusnya ku pukul saja kau brengsek"

"aku pamit" Hendery berlari keluar mencari adik serta keponakannya.

"kemana mereka? harusnya tidak jauh dari sini kan.


£

"jadi paman itu papa kita ya papi?" Haechan menghentikan langkahnya seketika.

Ia egois? Bolehkah? Tapi anak-anaknya harus tau kalau Mark adalah ayah mereka. Walaupun pria itu brengsek.

"kalau papi bilang iya bagaiamana? apakah kalian akan pergi bersamanya dan meniggalkan papi?"

"tidak tidak, bukankah kita sudah berjanji untuk selalu bersama? tak apa jika kita tak memiliki papa karena kita sudah memiliki papi" senyum Mingrui mengembang.

"bagaimana rasanya berpisah dengan mae dan appa? sakit kan? itu juga yang mereka rasakan aku tidak boleh egois, selama ini aku selalu bersikap buruk pada mereka jadi setidaknya mereka harus merasakan kasih sayang orangtua yang lengkap"

"papi tidak akan melarang atau memarahi kalian jika ingin bertemu dengannya kalian mau?"

Chenle mengangguk semangat bahkan senyumannya melengkung sangat indah.

"akhirnya lele memiliki papa dan kita tidak akan dijahati lagi oleh anak-anak lain"

Haechan menundukkan kepalanya, begitu ya nasib anak-anaknya di luar sana selama tidak ada Haechan. Bagaimana mereka di luar sana? apakah mereka dibully dan di jauhi?

Haechan kembali menangis namun kali ini suaranya benar-benar tertahan.

"maafkan papi"

My Problem and Our ProblemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang