'sebelum baca jangan lupa tap bintangnya gess'
£
Suasana kantin sekolah begitu ramai, jam istirahat sudah dimulai sejak lima menit yang lalu. Haechan dan Renjun duduk berdua di bangku kantin. Mereka menikmati makanan mereka masing-masing.
"enak sekali" gumam Renjun.
Renjun dan Haechan memiliki nasib yang hampir sama. Sebelumnya Renjun juga korban buli dari Mark serta rekan seperbuliannya. Namun Renjun selalu membalas perbuatan mereka sampai pada akhirnya mereka menyerah mengusik Renjun. Renjun bukan tipikal orang yang akan mengalah terhadap hal yang mengganggunya.
brakkk...
Meja kantin yang ditempati Haechan dan Renjun dipukul kuat oleh seseorang. Makanan mereka hampir saja tumpah jika mereka tidak menahannya dengan cepat.
Renjun mengepalkan tangannya menatap orang yang mengusik kebahagiannya.
"kau.. sialan" desis Renjun menatap tajam manik gelap yang menatapnya tak kalah tajam.
"apa maumu?" tanya Renjun acuh.
Haechan meneguk ludah kasar, ia jadi takut dengan suasana ini.
"kutanya sekali lagi apa maumu Mark?"
Mark mengangkat bahunya acuh, tangannya terulur menarik Haechan untuk mendekat padanya.
"akan kuselesaikan masalahku dengannya" ucap Mark menarik tangan Haechan untuk ikut bersamanya.
Renjun mengerang kesal, ia tak akan membiarkan Mark mengganggu Haechan.
Pemuda mungil itu mengikuti Mark dengan buru-buru. Namun, langkahnya terhenti ketika ia kehilangan jejak Mark dan Haechan.
Langkah Haechan terseret karena tarikan Mark. Ia tidak bisa mengikuti langkah lebar Mark. Pemuda jangkung itu menariknya menuju gudang sekolah. Sudah pasti Ia melakukan aksinya di ruangan ini.
"jangan lagi, ecan tidak mau Eomma" Haechan membatin
Haechan hanya bisa pasrah. Ia tidak ingin disakiti, tapi Ia juga tidak bisa melawan.
Mark menghentikan langkahnya, Ia melepaskan genggamannya pada tangan Haechan. Mark berjalan mendekat ke arah Haechan, seringaian iblis terpancar diwajahnya. Haechan semakin takut, ia melangkah mundur menjauhi Mark.
"ada apa? kau takut?"
Mark menahan pinggang Haechan dengan tangannya agar anak itu berhenti mundur. Sedangkan Haechan, Ia berusaha menjauhkan tubuhnya dari Mark yang semakin menempel.
"jangan lagi kumohon" lirih Haechan, mata Haechan berkaca-kaca.
Namun Mark abai, Ia tidak peduli, baginya kesenangannya nomor satu.
"jika kau takut, seharusnya dari awal kau tidak mencari masalah denganku" Mark melepaskan dasinya dan mengikat tangan Haechan kebelakang.
"ikuti apa yang aku katakan jika tidak mau ku pukul" ucap Mark dengan dengan tatapan tajamnya Haechan mengangguk ragu, setuju atau tidak pun ia akan tetap dipaksa.
Mark melepaskan ikat pinggangnya, Haechan yang melihat pergerakan Mark dibuat panik. Keringat dingin membasahi pelipis Haechan.
"Eomma Appa bantu ecan" doa Haechan dalam hati.
Mark melemparkan ikat pinggangnya sembarang arah, ia menurunkan resleting celananya. Haechan menangis, air matanya sudah membasahi pipinya namun suaranya tercekat ditenggorokan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Problem and Our Problem
Random"maafkan aku yang tak bisa bersikap layaknya orangtua untuk kalian, tapi mulai sekarang aku berjanji akan selalu menyayangi dan melindungi kalian, aku benar-benar minta maaf" Seo Haechan ceritanya aku ganti judul dari "why can like this" menjadi "my...
