sebelum baca jangan lupa 'tap bintangnya gess'
£
Suasana kelas XII³ begitu berisik. Mereka menghabiskan waktu dengan bersenda gurau dan berpergian keluar kelas seperti biasanya ketika tidak ada pelajaran.
Seorang pemuda manis berkulit tan sedang berada di depan brangkas pribadi miliknya yang terletak di depan kelas. Ia mencari pakaian olahraga yang seingatnya Ia letakkan di dalam brangkas.
"ecan tarohh dimana bajunya ya?" gumam Haechan, tangannya masih sibuk mengotak-atik isi brangkas.
"Haechan kedinginan" keluhnya.
Hembusan nafas kasar keluar dari belah bibir Haechan. Dengan terpaksa Ia harus melepas bajunya di toilet, menunggu pakaiannya kering, sepertinya guru tidak akan masuk sampai pelajaran terakhir.
Kakinya berjalan santai dengan sesekali bersenandung menemani langkahnya. Tujuannya sekarang adalah toilet.
bughhh..
Tubuh Haechan terjungkal, ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang lagi. Baru saja beberapa menit yang lalu ia menabrak seseorang dan sekarang malah terulang lagi. Dengan susah payah ia berdiri dan membungkuk meminta maaf.
"ma-maaf.. maaf" sesalnya.
Salahkan Haechan disini karena ia berjalan sambil berlari-lari kecil di tikungan lorong.
"ecan tidak sengaja.. "
Sedangkan orang didepannya hanya diam, tak menanggapi Haechan. Haechan mengangkat kepalanya, ia menatap manik tajam didepannya.
Pandangan mereka bertemu.. tidak lama, karena Haechan dengan segera memutusnya. Haechan takut, tatapan mata di depannya begitu tajam seolah ingin menguliti Haechan.
"hei bodoh! kalau jalan itu lihat-lihat" maki seorang pemuda yang berdiri di sebelah orang yang Haechan tabrak. Perawakannya tidak terlalu tinggi hanya beda tipis dengan Haechan.
Haechan meringis dan mundur beberapa langkah, kepalanya ia tundukan, takut-takut pada dua orang yang berada di depannya.
"ma-maaf" gumam Haechan lirih.
"maaf? what the fu-"
"diam" titah orang didepan Haechan mengangkat tangannya mengintruksi lelaki yang berdiri di belakangnya. Pemuda itu berdecak kesal memutar malas bola matanya.
"kau bilang maaf? enak sekali, kau tahu siapa aku?" Haechan menggeleng, ia memang tidak tahu siapa orang ini.
"sialan" umpat nya penuh kekesalan, Ia meraih kerah seragam Haechan dan menarik Haechan.
Haechan berjalan dengan tersegesa-gesa mengikuti langkah orang itu. Nafasnya tercekat karena tarikan pada kerahnya sangat kuat. Langkah lelaki ini juga sangat lebar berbeda dengan langkah Haechan, karena Haechan lebih pendek darinya, mungkin Haechan hanya sebahunya.
dugghh..
Haechan dihempaskan pada dinding toilet. Tubuhnya meluruh ke lantai, Ia meringis menahan sakit di punggungnya. Matanya berkaca-kaca, sungguh rasanya benar-benar sangat sakit.
"aduhh.. sakit sekali" keluhnya.
Lelaki yang mendorong Haechan tadi bersikap tidak peduli seolah tidak terjadi apa-apa.
"bangun" suara dingin itu mengintrupsi Haechan, dengan susah payah Haechan menuruti permintaan orang itu. Haechan takut.
Ia meraih kerah Haechan dan menariknya, wajah mereka berdekatan, Haechan dapat merasakan deru nafas lelaki itu.
"aku beritahu satu hal penting" ucapnya dengan senyuman miring "pertama aku anak dari pemilik sekolah ini" lelaki itu mengangkat jari telunjuknya "kedua kita bukan orang rendahan sepertimu" dilanjutkan dengan mengangkat jari tengahnya yang berdampingan dengan jari telunjuknya "ketiga jangan pernah membuat masalah dengan kami" lalu ia menegakkan jari manisnya "dan terakhir jangan pernah membantah perkataan kami kalau tidak ingin dipermalukan" ucap lelaki itu menunjuk bahu Haechan dengan telunjuknya,tubuh Haechan sampai terdorong ke belakang. Haechan mengangguk mengerti, ia benar-benar takut.
Tubuh Haechan kembali Ia hempaskan pada dinding. Suara tangis lirih keluar dari belah bibir Haechan, sedangkan kedua orang itu tidak peduli dengan rasa sakit yang Haechan rasa.
"ayo pergi" anak yang setinggi dengan Haechan itu melangkah lebih dahulu meninggalkan Haechan dan pria yang menarik kerah Haechan tadi. Setelah satu orang tadi pergi, orang yang masih tinggal disana berjongkok, tangannya menarik dagu Haechan untuk menatapnya "dan perkenalkan namaku Jung Mark dan mulai sekarang jangan pernah berharap kau dapat hidup dengan tenang"
Wajah Haechan dihempaskannya dengan kasar hingga kepala Haechan menoleh kesamping.
Haechan menundukkan kepalanya. Tangisnya semakin keras ketika orang yang bernama Mark itu keluar dari pintu toilet.
"ecan salah ya?" tanyanya dengan suara serak "tapi ecan sudah minta maaf"
Haechan mengusap wajahnya, Ia mencoba berdiri dengan tangan menopang pada dinding. Tubuhnya terasa sakit dan ngilu.
"dia jahat sekali mendorong ecan seperti itu" rutu Haechan tangisnya sudah mereda.
Lelaki manis itu berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan, hilang sudah niatnya untuk mengeringkan bajunya yang basah.
"Kak Dery sedang apa ya? ecan mau pulang, ecan tidak mau lagi bertemu dengan orang jahat seperti mereka" air mata Haechan kembali turun membasahi pipinya, Haechan memang anak cengeng, Ia tidak bisa sedikitpun menyembunyikan tangisannya, apalagi menyangkut perasaannya, Ia benar-benar meluapkan emosinya dengan menangis.
"ecan tidak sengaja menabraknya, tapi dia malah mendorong ecan, punggung ecan jadi sakit sekarang"
Haechan mengoceh di depan wastafel sambil mencuci tangan, tidak, tidak, Ia tidak mencuci tangan, tangannya saja bersih, sangat bersih, Ia hanya bermain air disana. Walaupun tangannya sibuk bermain air, mulutnya tidak berhenti untuk meracau, mengurangi rasa kesalnya.
Dan hari menyedihkan Haechan dimulai dari sekarang, dari pertemuannya dengan anak penting di sekolahnya. Anak-anak itu akan menjadi sumber masalah Haechan. Mereka akan menjadikan Haechan sebagai bahan perundungannya.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
My Problem and Our Problem
Diversos"maafkan aku yang tak bisa bersikap layaknya orangtua untuk kalian, tapi mulai sekarang aku berjanji akan selalu menyayangi dan melindungi kalian, aku benar-benar minta maaf" Seo Haechan ceritanya aku ganti judul dari "why can like this" menjadi "my...
