12; i wanna see u (again)

167K 10K 230
                                        

Rumornya menyebar.

Sejak setengah jam lalu Gerald betah mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke mejanya, otaknya berpikir keras, hari ini dia sukses dibuat enggak fokus sama kerjaan. Isi kepalanya penuh dengan nama Anin, Anin, dan Anin.

Gadis itu menghilang entah kemana, menurut yang lain hari ini terhitung masuk ke hari keempat Anin gak masuk ke kantor tanpa memberi kabar siapa pun atau berpamitan kepada seseorang. Anin mendadak hilang begitu aja.

Semalam Gerald mendatangi apartemen Anin, ketukan dan bunyi bel yang dia tekan gak disahuti menandakan tempat itu kosong. Jujur Gerald mulai gak tenang sekarang, ingin rasanya dia pergi fokus mencari Anin tapi segala macam pekerjaan menunggu persetujuannya hari ini.

Gerald sempat mengajak Dewa selaku anak bagian Human Resourch membicarakan Anin, karyawannya yang satu itu ternyata juga menyadari keanehan Anin. Dewa mengadu terus terang ke Gerald mengenai perilaku Anin dan daftar absensinya yang jadi jelek sekali sekarang.

Dewa juga memberitahu Gerald rumor yang beredar luas di kantor saat ini, banyak yang mengecap gadis itu perempuan nakal dan cari muka karena kejadian minggu kemarin dimana Gerald memeluk Anin di depan umum.

Gerald seperti kaget enggak kaget, di satu sisi dia udah mengira ini akan terjadi, di satu sisi lain Gerald kesal karena banyak yang melabeli Anin cewek kurang baik. Ini salahnya, memang lo bodoh banget, Gerald.

Di ujung obrolan itu Gerald tanpa diduga membeberkan fakta kecil ke Dewa, berhasil telak membuat Dewa terkejut setengah mati, gak pernah tertebak skenario drama yang pernah dia tonton bisa terjadi di depan matanya. Pengakuan Gerald langsung menjawab jelas semua keanehan yang dialami Anin.

Jinan juga diberitahu, reaksinya gak beda jauh seperti Dewa, mereka adalah dua orang kantor yang Gerald percaya bisa menyimpan rahasianya dulu sekarang.

"Pak, ini bisa dibaca dulu," ucap Jinan meletakkan beberapa lembar kertas di hadapan Jinan, "Nanti kalo udah oke langsung tanda tangan aja, Pak."

Gerald hanya berdehem mengiyakan, posisi duduk dan ekspresi wajahnya ketara malas berhadapan dengan kerjaan sekarang. Jinan bisa memahami tapi dia gak bisa berbuat apa-apa untuk membantu kecuali Gerald sendiri yang bisa cepat menyelesaikan.

"Abis ini ada lagi gak? Kalo tenggat sampe jam satu belum selesai, saya postponed dulu, Nan."

"Pak, ada dua lagi proposal yang belum di check, masih tahap—"

"Batas jam satu, lewat dari situ saya gak mau ladenin," potong Gerald final memutuskan. Jinan terdiam lalu berujung mengangguk patuh.

Gerald melihat jam di pergelangan tangan, setengah jam lagi jam satu, setelah itu dia bisa keluar dari kantor ini mencari keberadaan Ibu calon anaknya itu. Beribu doa baik gak berhenti diucapkan Gerald lewat hati, berharap gak akan ada masalah yang menimpa Anin.

Lima hari gak melihat cewek itu ternyata bisa membuatnya rungsing seperti saat ini.

Jinan sampai merasa speechless, baru pertama kali dia melihat Gerald menjadi manusia gak sabaran dan uring-uringan gak jelas karena seorang perempuan. Di tambah pengakuan Gerald dan penjelasannya soal Anin, siapa sangka kedua orang yang Jinan tahunya enggak lumayan kenal itu malah punya anak sama-sama?

Jalan hidup Gerald dan Anin cukup complicated.

"Udah jam satu, sisanya saya check nanti atau mungkin kalo kamu mau check sendiri gapapa, Nan." Gerald berdiri meraih kunci mobilnya dari dalam laci meja, tanpa berpamitan langsung berlari keluar ruangan meninggalkan Jinan.

"Yang bener aja, Pak." Jinan menghela nafas pelan, "Pimpinannya kan elu bukan gue."

•••

Right OneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang