bonus chapter #4 - bianaka's

106K 5.4K 127
                                        

Singkatnya udah jadi tradisi bagi Candala Group untuk mengadakan acara gathering kantor setiap tahun. Gathering dengan tujuan mengakrabkan seluruh karyawan itu biasanya selalu diikuti oleh ratusan peserta yang semuanya berasal dari karyawan Candala.

Tema gathering yang selalu diusung setiap tahun juga sama, apalagi kalau bukan outbond? Gerald sengaja memilih outbond ketimbang workshop atau seminar, selain melanjutkan apa yang dilakukan Arkan pada tahun-tahun sebelumnya, menurut Gerald juga ada baiknya benar-benar memberi waktu refreshing yang baik sekaligus bisa mengakrabkan antar pegawai.

Lalu satu hal konyol yang jadi bahan tertawaan Anin dari kemarin malam adalah keikutsertaannya.

Gathering kantor Candala memang gak pernah mewajibkan semua karyawannya untuk ikut serta secara paksa, semua kembali lagi pada keputusan masing-masing, kalau mau ikut boleh—gak bisa ikut atau berhalangan hadir juga gak masalah. Karena alasan itulah, Anin si karyawan paling mager keluar apartemen itu gak pernah ikutserta gathering kantor selama dia menjadi karyawan disana.

Dan puncak komedinya saat ini, setelah jadi istri Gerald, untuk pertama kalinya Anin baru menampakkan batang hidung di acara tersebut.

"Sebenernya aku males banget ikut," dumel Anin seraya tangannya memasukkan perlengkapan P3K pada tas bawaan mereka, "Mending di rumah ngadem berduaan sama Noah di kamar."

Bibir yang mengerucut sebal itu membuat Gerald mengulas senyumnya, tangan pemuda itu tergerak menyentuh bibir Anin—reflek membuat empunya kaget lantas memberi pelototan horror pada pelaku, Gerald jadi tertawa geli.

"Masih manyun?" Gerald menaikkan satu alisnya menatap Anin yang masih berekspresi sebal sambil mengerucutkan bibirnya itu, "Itu bibir mau minta dicium atau apa?" Anin langsung mengembalikan ekspresi wajahnya semula datar, menghindari kegiatan yang bisa menghabiskan waktu mereka berdua kalau terjadi.

Gerald terkekeh renyah, mengacak pelan surai hitam panjang milik Anin, "Harus ikut, biar aku ada temen disana." Penyebab Anin hadir kali ini tentunya gara-gara si bungsu Candala itu, Gerald memaksanya ikut meski Anin berulang kali menolak ajakannya.

Wanita itu berdecak, "Omongan kamu kayak karyawan introvert no life yang gak punya temen, padahal mau kamu diem doang disana pasti banyak yang nyamperin, banyak yang ngajak ngobrol, dasar lebay."

"Beda, Nin." Gerald mencubit pipi kanan Anin gemas, "Tahun ini tahun pertama gathering kantor aku resmi bawa kamu sebagai istri aku, terakhir diadain kan waktu kita belum nikah, aku masih pusing ngejer kamu sama Noah," ujarnya sedikit mendengus.

Diingat-ingat benar juga, Anin menggaruk pelipisnya pelan mengingat kejadian lebih dari satu tahun lalu, gathering kantor Candala diadakan disela-sela kepusingan Gerald mengejar dirinya yang selalu berusaha menjauh.

"Tapi ini namanya pemaksaan, Ge," sahut Anin menatap malas suaminya itu, mereka berdua baru masuk ke dalam mobil, "Gak ada syarat wajib buat ikut gathering, selama aku kerja jadi karyawan kamu juga gak pernah ikut gak ada masalah, sekarang malah maksa aku ikut, idih banget."

"Buat kamu hukumnya jadi wajib, kamu karyawan paling spesial," balas Gerald santai, sambil menyalakan mesin mobil—sambil menatap Anin penuh pandangan menggoda, "Anindiya Dahayu kan karyawan yang mengabdi seumur hidup sama aku?"

Anin menoleh ke arah lain, "Noah sayang, Mama kangen."

Gerald tertawa geli, "Noah masih bobo ganteng sama Mami, kamu sama aku dulu seharian ini."

Right OneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang