"Aku aja sini yang buatin." Gerald meraih pinggang Anin, sempat memberi kecupan sekilas di pipi kirinya sebelum menggeser tubuh wanita itu untuk sedikit menyingkir dari posisinya. Gerald mengambil alih pisau yang ada di tangan Anin, "Kamu selesain yang di kompor sana."
Anin mengangguk patuh tanpa protes, menyerahkan urusan buah-buahan di atas pantry pada pemuda yang telah siap dengan setelan pakaian kantornya itu. Anin berpindah menuju kompor, air di dalam panci itu udah mendidih, udah waktunya Anin memasukkan keping spaghetti pipih mentah itu ke dalamnya.
Dua hari belakangan ini mereka berdua sedikit kewalahan karena dua asisten rumah tangga mereka itu sama-sama sedang kurang sehat untuk masuk kerja. Gara-gara itu, baik Gerald dan Anin harus bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan, terutama Anin. Ini kewajibannya untuk mengurus suami dan anak.
Natha si pengasuh Noah juga gak sesering itu dipanggil datang, Natha hanya datang kalau Anin lagi kerepotan mengurus sesuatu dan perlu bantuan, kalau senggang seperti ini sih Anin memilih mengurus Noah sendirian, mumpung dia gak punya kesibukan diluar.
Sementara Anin menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, Gerald membantunya menyiapkan sarapan untuk si kecil. Bayi sembilan bulan itu tengah asik sendiri berceloteh di baby chair miliknya yang diletakkan tepat di depan meja makan.
Bahasa abstrak dan gak jelas itu sesekali membuat Gerald mau pun Anin terkekeh geli, keduanya beberapa kali bergantian menoleh, mengawasi anak mereka, takut Noah tanpa sengaja melakukan gerak-gerik yang membahayakan dirinya sendiri.
Gerald meletakkan potong-potongan kecil dari buah alpukat dan jeruk itu ke dalam wadah makan khusus, lalu beralih mengambil sebutir telur dan mangkuk kecil dari rak penyimpanan. Pemuda itu memecahkan butir telur, mengocoknya lepas, gak lupa memberi sedikit bubuhan garam ke dalamnya.
"Anin, tolong ambilin mentega deket kamu," pinta Gerald menjulurkan tangannya, Anin mengambil apa yang diminta Gerald.
Kemudian Gerald memanaskan teflon, memasukkan sedikit mentega kesana sampai mencair sepenuhnya, dan menuangkan telur yang udah dia kocok ke atasnya. Semerbak harum telur goreng mentega itu seketika memenuhi indera penciuman Anin.
Gak butuh waktu lama, setelah matang langsung diangkat. Gerald menaruhnya ke atas talenan lebih dulu, memotong-motongnya kecil, memindahkan potongan telur dadar kecil itu bergabung ke salah satu sisi wadah makanan Noah.
"Segini cukup?" lapor Gerald menunjukkan wadah makan Noah ke Anin, "Mau pake nasi gak?"
Anin menggeleng, "Gak usah, nasi buat Noah belum aku masak, biar siangan aja aku yang kasih nanti."
"Oke, sayang."
Ekspresi wajah Gerald berubah sumringah berjalan riang ke arah Noah, anaknya itu juga merespon senang, antusias melihat si Ayah datang membawa piring makanannya.
"Mamamamam..." celotehnya bertepuk tangan, tingkah menggemaskannya gak bisa membuat Gerald menahan diri untuk enggak menyerang kedua pipi bulat yang memerah itu.
"Mau mam? Anak Papa mau mam?" Gerald menggulung lengan kemejanya lebih ke atas, menghindari kemungkinan kotor yang akan timbul akibat ulah anaknya nanti, "Boleh dimakan, udah Papa bikinin spesial pake telor buat kamu."
Anin di seberang sana reflek tergelak mendengarnya, "Pake telor banget ya, Pa?" Gerald menatapnya balik dengan tawa renyah mengudara, "Abisin nak, Papa buatnya spesial pake telor," timpal Anin membuat mereka sama-sama tertawa.
Noah bahkan ikut tertawa melihat dua orang tuanya tertawa.
Selang sepuluh menit berlalu, Anin bergabung ke meja makan membawa dua piring spaghetti carbonara yang masing-masing adalah miliknya dan Gerald. Anin memposisikan diri duduk di sebelah Noah, sedang Gerald duduk di bagian ujung meja makan tapi masih terhitung berhadapan juga dengan anaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Right One
Fiksi Penggemar[terbit/part wattpad masih lengkap] Karena trauma soal keluarga, Anin memutuskan untuk menjalani hidup monoton tanpa menambahkan bumbu asmara di dalamnya. Bangun pagi, kerja, hahahihi bareng temen, lalu pulang buat istirahat. Siklus yang Anin harapk...
