"Tadi kemana aja?"
Makan malam mereka berlangsung lumayan hening dari biasanya, suara dentingan garpu dan sendok yang bertabrakan dengan piring lebih sering terdengar ketimbang suara Anin atau Gerald, dua orang berlawanan jenis itu duduk berhadapan.
Anin meraih gelasnya, menegak air putih beberapa kali tegukan lebih dulu, "Gak kemana-mana, cuma ke cafe terus ngobrol bentar terus langsung pulang."
"Ketemuan sama siapa sih? Temen lama banget?" Gerald menyandarkan tubuhnya ke kursi, sambil mulai meminum air dalam gelasnya. Mereka berdua sama-sama selesai makan.
"Iya, temen SMA aku dulu." Anin beranjak, mengambil piring bekas makannya dan Gerald, berjalan ke arah wastafel—hendak mencuci piringnya disana.
Gerald menyusul istrinya, berdiri di sebelah Anin kemudian tiba-tiba mendorong tubuh Anin pelan supaya lebih bergeser ke samping, "Biar aku yang cuci, kamu liat aja."
Pemuda itu baru pulang sore tadi, kata Gerald kerjaan hari ini selesai cepat makanya dia bisa pulang lebih cepat juga dari hari-hari sebelumnya. Anin gak kasih komentar apa pun, bersyukur Gerald bisa pulang cepat dan mereka bisa makan malam bareng hari ini.
"Seru tadi ketemu dia?" Gerald mengeluarkan pertanyaan lagi.
Anin berdiri di sebelahnya, memandangi tangan Gerald yang tampak jago mencuci piring dan alat makan kotor—mungkin efek pernah tinggal diluar negeri sendiri, Gerald bisa mandiri melakukan kegiatan rumah tangga yang harusnya jadi hal awam untuk anak orang kaya sepertinya.
"Iya, seru," jawab Anin datar.
Ponsel Gerald yang ada di saku celana pemuda itu berbunyi mengalihkan atensi mereka. Gerald menatap Anin sekilas, sedikit mencondongkan kakinya ke arah Anin, "Tolong ambilin? Tangan aku penuh sabun."
Anin menuruti permintaan Gerald, mengambil benda itu dari saku celananya.
"Siapa yang telfon?"
Anin gak langsung menjawab, dia menatap lama ponsel Gerald yang berbunyi di tangannya. Ekspresi Anin berubah sebal membaca nama yang tertera di layar ponsel suaminya, "Odi."
Alis Gerald tertarik ke atas mendengar jawabannya, "Ngapain dia nelfon?"
"Mana aku tau?" Anin mengedikkan bahunya.
Dering ponsel itu berhenti sendiri, terakhiri secara otomatis karena kelamaan enggak diangkat. Anin berniat menaruh ponsel Gerald ke atas pantry, namun tiba-tiba ponsel itu berbunyi lagi—nama pemanggilnya masih sama.
Gerald membilas tangannya yang penuh sabun, mengelapnya cepat lantas mengambil ponselnya dari tangan Anin, "Sini." decakan Anin terdengar saat Gerald merebut ponsel dari tangannya, dan Gerald tahu itu.
"Halo, Odi? Kenapa?"
Anin berdiri di depan laki-laki itu, bersedekap seraya menatap sinis suaminya yang sekarang tengah berbincang dengan Odi di balik ponsel. Sambil menjawab Odi, Gerald juga balik menatap Anin, paham sekali perempuan di depannya ini gak suka.
"Oke, bisa kok, nanti gua hubungin lo lagi ya." pip!
"Kamu bilang gak akan deket-deket sama Odi lagi?" cecar Anin langsung tepat setelah sambungan ponsel kedua orang itu selesai, "Lupa sama janjinya?"
"Dia minta tolong cariin apartemen baru," jawab Gerald santai, "Katanya udah gak nyaman, jadi aku bantuin, itu salah?"
"Hahhh...." Anin memijit pangkal hidung, mendongak kembali menatap Gerald, "Harus kamu banget Ge yang dipintain tolong? Gak bisa Hilmy atau yang lain? Regan kek, Naren juga boleh tuh dia kan belom resmi nikah, harus kamu banget yang terus-terusan dia hubungin? Istri kamu tuh aku atau Odi sih???"
KAMU SEDANG MEMBACA
Right One
Fanfiction[terbit/part wattpad masih lengkap] Karena trauma soal keluarga, Anin memutuskan untuk menjalani hidup monoton tanpa menambahkan bumbu asmara di dalamnya. Bangun pagi, kerja, hahahihi bareng temen, lalu pulang buat istirahat. Siklus yang Anin harapk...
