38; a days without u

107K 6.4K 250
                                        

"Kak Anin mau apalagi?"

Anin melirik ke sekitarnya sebelum menertawakan Bintang yang nampak kesusahan membawa kantong belanjaan berisi barang yang dibelinya beberapa menit lalu. Bintang sontak memasang wajah cemberut, gak terima diejek Anin tapi dia juga gak berniat menghentikan tawa manis Kakaknya.

Bintang mengeratkan paperbag yang dijinjing kedua tangannya, mengekori kemana pun langkah si Kakak pergi. Anin berjalan santai menikmati suasana mall yang lumayan lengang di hari kerja ini, membiarkan kakinya berjalan ke sembarang arah.

"Abin, lo mau beli sesuatu lagi gak?"

"Kan gua tadi yang nanya, kok malah nanya balik?" heran Bintang, "Gak liat ini barang belanjaan lo udah banyak banget di tangan gue?"

Mereka berjarak lima langkah, gak jauh, Anin sengaja mengusap perut buncitnya, "Bayi jangan dengerin ya? Om kamu emang galak banget."

"Kak Anin!" rengek pemuda itu membuat Anin terkikik geli.

Anin mendekat ke Bintang, "Sini gue aja yang bawa paperbag baju tadi!" pinta Anin mengulurkan tangan hendak mengambil barang yang dimaksud, buru-buru Bintang menjauhkan tangannya dari jangkauan Anin.

"Eh gak usah! Biar gua aja, Kak."

"Lo ngeluh tapi pas gue mau bantuin gak mau, gimana sih??? Es krim gue juga udah mau abis ini, Bin."

"Gapapa, lo jalan-jalan aja sehari ini gua siap jadi babu lo."

Anin terbahak, "Woi serius lo ngomong gini????"

"Lo lagi hamil, gak boleh capek-capek."

"Iya emang hamil, bukan lumpuh sih Bin," balas Anin menyindir. Bintang berdecak karenanya.

Sepasang kakak adik itu kembali berjalan melewati gerai-gerai di dalam mall, lalu lagi-lagi sebuah toko yang menjual aksesoris bayi menarik perhatian Anin. Bintang merotasikan matanya saat Anin berjalan riang masuk ke dalam sana.

Ini udah kali keempat Bintang diajak masuk ke tempat semacam itu!

Bintang gak protes, tetap mengikuti Anin kesana. Membiarkan kedua mata Anin berbinar senang melihat pernak-pernik manusia-manusia mungil yang disebut bayi itu. Tangannya bahkan udah mengambil dua bando bayi berwarna pink, Anin menunjukkan benda itu ke Bintang.

"Lucu ya Bin kalo anak gue cewek?" kata Anin tertawa kecil.

"Loh, tadi katanya belum tau gender bayinya apa?"

"Iyaaa, ini kan gue berandai kalo misalnya anak gue cewek."

"Kalo beneran cewek gimana? Kayak yakin banget yang di dalem situ isinya lakik."

Anin berdecak, "Bukan yakin, gue kan sekarang masih gak tau ini di dalam perut isinya cowok atau cewek."

"Nah itu, yaudah beli aja, siapa tau cewek beneran," sahut Bintang.

Anin meletakkan kembali bando itu ke tempatnya, "Enggak deh, kita udah beli banyak kan tadi?"

Bintang memejamkan matanya, kalau udah tahu kenapa masih mengulang datang kesini? Pemuda itu mengulas senyum manis yang agak dipaksa, asal Anin merasa senang—Bintang gak akan protes apa pun, hari ini semua permintaan Kakaknya akan dia turuti.

Cukup semalam Bintang melihat Anin di kondisi menyedihkannya. Anin yang biasa selalu kelihatan galak dan tegas dalam urusan mendidiknya, tadi malam menumpahkan tangis pilu tepat di hadapan Bintang. Obrolan ringan mereka berubah jadi sesi dimana Anin menangis tanpa sebab yang Bintang tahu jelas.

Pastinya ini semua gara-gara Gerald. Bintang yakin soal itu.

Mendengar Anin yang udah tinggal di apartemen sendirian hampir satu minggu ini membuat kepala Bintang rasanya mendidih. Ingin rasanya mendatangi kakak iparnya dan memberi tonjokan di wajah tampan itu berkali-kali.

Right OneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang