33; do you wanna try it?

114K 6.4K 480
                                        

Acara ulang tahun Aca berlangsung lancar, Tita Candala bukan orang yang segan atau perhitungan dalam memakai banyak asetnya demi membahagiakan orang terdekatnya. Wanita cantik itu justru akan semakin trabas mengeluarkan berapa pun banyak uang yang diperlukan untuk mendapat hasil yang memuaskan.

Termasuk untuk cucu pertamanya kali ini, gak heran acara ulang tahun anak berumur tiga tahun tersebut terkesan meriah—siapa pun yang melihat potret dekor dan keberlangsungan acara ini pasti akan langsung bisa menebak kalau pemiliknya dari kalangan atas.

Ya, belakangan ini Anin udah gak terlalu kaget lagi. Hidup dengan Gerald mulai jadi kebiasaan untuknya melihat hal-hal mewah sejenis ini.

Anin menatap tangan kanannya yang sekarang berbalut perban, enggak tebal tapi cukup membuatnya sedikit risih. Setelah kejadian ribut di basement tadi, Gerald membawanya ke kamar—mengobati luka Anin dengan telaten, kemudian membalut lukanya dibantu oleh Cilla.

Luka di tangan Anin lebih dalam daripada luka Odi yang hanya tergores. Anin tadi menggenggam gelasnya erat, hingga saat gelasnya pecah sontak pecahan itu menggores punggung tangannya juga, sedangkan tangan Odi juga sama terbalut perban di bagian telapak, gadis itu sepertinya sempat membuat gestur menghindari dan berakhir pecahan itu mengenai telapak tangannya.

Kejadian itu pun juga berhasil menghebohkan keluarga Gerald yang lain, Tita sampai mengomeli anak bungsunya itu karena dianggap ceroboh, padahal ini semua murni kesalahan Anin. Entahlah, Anin merasa sedikit bersalah sama Gerald, walau di sisi lain dia juga terhibur melihat raut pasrah suaminya diceramahi Ibu tersayang.

"Gak mau makan, Ge?" sahut Anin bertanya, karena Gerald sejak tadi menemaninya duduk di sofa, memantau dari kejauhan acara yang berjalan.

"Kamu mau makan? Aku ambilin ya?" Gerald malah menawari Anin, melemparkan pertanyaan balik.

"Nanti aja, tanganku kayaknya susah kalo mau megang sendok," eluh Anin menunjukkan tangannya yang diperban, "Kamu duluan aja."

"Yaudah aku suapin kamu sini, mau?"

Anin mengerjap lambat, bohong kalau gak kaget ditawari begitu, niatnya yang langsung ingin menolak dengan memberi gelengan ke Gerald tiba-tiba batal waktu melihat Odi melintas bareng Hilmy dan Nolla berjalan ke arah mereka.

"Sepiring berdua?" giliran Gerald yang kaget, tapi sedetik kemudian pemuda itu tersenyum lalu mengangguk setuju.

"Oke, aku ambil dulu kamu tunggu sini jangan kemana-mana!" sungut Gerald lantas mencubit pipi Anin sekilas sebelum pergi mengambil makanan.

Anin diam di tempatnya, duduk manis sambil memperhatikan Odi bersama Hilmy dan Nolla berjalan melewati, kedua laki-laki itu sempat tersenyum ke Anin lalu mereka bertiga duduk di lain sofa yang terletak gak jauh dari posisi Anin.

Gerald kembali sekitar lima menit kemudian, membawa piring berisi nasi dan lauk pauk di dalamnya. Dari sekian banyak hidangan yang tersaji, Gerald memilih membawakan Anin nasi ketimbang makanan yang lebih ringan.

"Oi, Ge! Bawain gua juga dong!" sahut Hilmy meledeknya, Gerald merotasikan mata membuat mereka tertawa.

Pemuda itu mengambil posisi duduk bersebelahan lagi dengan Anin, menunjukkan piring di tangannya, "Jangan protes, kamu belom makan nasi, dikit aja Nin," ucapnya mendahului Anin yang memang ingin protes, Anin kira Gerald akan membawakan sesuatu yang lain.

"Abis ini makan cokelat boleh kan?" tanya Anin sebelum membuka mulutnya.

Gerald mengangguk mantap, tangannya udah stand by memegang sendok di depan mulut Anin, "Boleh, kamu mau beli yang lain juga boleh."

Right OneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang