"Jangan lupa vitaminnya diminum terus ya, Bu Anin."
"Iya, Dok. Makasih ya," balas Anin ramah sebelum dirinya melangkah keluar dari ruangan praktik dokter tersebut. Gerald ada di belakangnya, sengaja menemani Anin yang punya jadwal kontrol ke dokter hari ini.
Mereka berdua berjalan beriringan di koridor rumah sakit menuju parkiran tempat Gerald menaruh mobil hitam mahalnya.
Gak terasa udah hampir satu bulan dihabiskan Anin bergelung di dalam apartemennya. Gadis itu menghabiskan sepanjang hari disana, hanya keluar unitnya apabila ada keperluan yang diharuskan seperti jadwal kontrol ke dokter.
Bosan udah pasti, tapi Anin nampaknya harus bersyukur Tita dan Shanum datang tiga minggu lalu. Karena sejak hari itu, baik Tita atau Shanum jadi lumayan sering datang berkunjung, entah datang hanya ingin mengajak Anin mengobrol atau membuatkan gadis itu makanan ringan.
Anin menyukainya, ditambah teman-teman Bintang juga masih sering main di apartemennya membuat suasana lebih ramai. Baru-baru ini Anin bahkan mulai akrab dengan Naya, si paling cantik sendiri di lingkup pertemanan Bintang.
"Gak mau makan apa-apa?" sahut Gerald begitu mereka berdua ada di dalam mobil. Pemuda itu sengaja gak masuk kantor hari ini untuk menemani Anin mengecek kandungannya, syukurlah hasilnya baik-baik aja—bayi mereka sehat.
Mual-mual yang dialami Anin juga semakin berkurang, Anin mulai bisa menikmati makanan normal sedikit demi sedikit. Dokter sempat bilang berat badan Anin juga bertambah, sebuah reaksi positif yang membuat Anin bisa cukup tenang sekarang.
"Enggak," jawab Anin menggeleng.
"Rujak? Susu? Yogurt? Atau es krim gak mau?" tawar Gerald lagi sambil menoleh ke arahnya.
Anin menggeleng, "Gak mau, Ge."
"Yaudah langsung pulang apart aja ya?"
"Jangan!" Anin menyentuh lengan pemuda itu, "Ge, jangan balik kesana dulu gue bosen," rengeknya.
Gerald menaikkan satu alisnya, "Terus lo mau kemana?" dalam hati udah memperkirakan respon Anin, beberapa hari belakangan ini gadis itu selalu mengeluh bosan di dalam apartemennya terus menerus. Keluar melihat dunia luar seperti ini jelas kesempatan emas.
Mereka berdua sama-sama diam, Anin bingung mau menjawab kemana dan Gerald sendiri juga bingung mau membawa Anin kemana kalau gadis itu gak mau pulang.
"Buat es kul-kul aja yuk?" ide Anin lalu menatap ke Gerald.
Gerald bingung, "Hah? Itu apaan?"
"Ck!" Anin merotasikan matanya, "Serius gak tau?" Gerald menggeleng pelan.
"Duh orang kaya," cibir Anin menghela nafas, "Itu loh buah dibalur sama cokelat! Pengen makan itu, ayok kita buat itu, Ge?"
"Kayak tanghulu?"
"Mirip-mirip itu!" Anin mengangguk, "Kalo tanghulu dibalur gula kan, ini dibalur cokelat."
Gerald membuka jendela mobilnya, menghentikan percakapan sejenak karena mereka baru sampai di palang parkir—Gerald menyerahkan karcis parkir dan uang sepuluh ribuan ke arah penjaganya sebelum orang itu membuka palang mempersilahkan mobil Gerald keluar.
"Jadinya gimana?" tanya Gerald lagi.
"Buat itu," kata Anin.
"Buatnya gimana? Gua gak paham."
"Liat aja di tiktok ih jangan susah!" decak Anin, "Katanya tadi nawarin gue mau makan apa."
"Iya, Nin." Gerald garuk-garuk kepala sendiri, "Tapi gua gak ngerti, ini berarti mau kemana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Right One
Fanfiction[terbit/part wattpad masih lengkap] Karena trauma soal keluarga, Anin memutuskan untuk menjalani hidup monoton tanpa menambahkan bumbu asmara di dalamnya. Bangun pagi, kerja, hahahihi bareng temen, lalu pulang buat istirahat. Siklus yang Anin harapk...
