Anin terbangun dari tidur siangnya, kerongkongan yang terasa kering mengganggu ketenangan alam mimpinya hingga Anin harus terpaksa bangun. Gadis itu mengerjap pelan memperjelas pandangan di sekitar, sepertinya sekarang dia udah dipindah ke ruang rawat inap.
Tempatnya berada sekarang berbeda dari tempat sebelumnya.
Sebenarnya seberapa pulas Anin tertidur? Bisa-bisanya Anin gak sadar tubuhnya dipindah ruang.
"Ah—astaga," desis Anin, baru menyadari ada selang infus di tangan kirinya, pelan-pelan Anin mencoba memposisikan dirinya duduk.
Cklek! Anin menoleh ke pintu, Gerald yang ada disana buru-buru berlari kecil menghampirinya.
"Hey, mau apa?" tanya Gerald sambil membantu Anin duduk ke posisi lebih nyaman, "Jangan banyak gerak dulu, tiduran aja."
Tangan kanan Anin menunjuk nakas di sebelah ranjang rumah sakit yang dia tempati, "Mau minum, Ge."
Gerald mengangguk paham lantas mengambilkan Anin segelas air dari dalam teko yang disediakan pihak rumah sakit itu. Anin meminumnya pelan dibantu Gerald, selesainya minum Gerald kembali menaruh gelasnya di atas nakas tersebut.
"Feel better?" sahut Gerald mencoba memberi senyum manisnya ke Anin. Pemuda itu mundur sebentar menarik sebuah kursi supaya dia bisa duduk lebih dekat dengan ranjang Anin.
Anin mengangguk pelan, memperhatikan penampilan Gerald yang udah lebih santai bersama kaos dan jaket hoodie-nya itu semakin membuat Anin bertanya-tanya berapa lama dia tertidur tadi. Dia tidur atau pingsan ya?
Tapi rasa-rasanya enggak juga, Anin masih sadar saat dokter bilang bayinya baik-baik aja di dalam perut.
"Ini jam berapa? Udah malem?" akhirnya Anin mengeluarkan suara.
Gerald mengangguk, "Hampir jam delapan, lo kayaknya tidur lama dari siang tadi gara-gara efek obat."
Iya juga. Anin ingat dia diminta dokter meminum obat tepat setelah dokter tersebut memberi kabar kandungannya, karena selepas itu Anin gak mengingat apa-apa lagi, terkecuali kejadian siang tadi dimana banyak darah mengalir dari sela paha dalamnya akibat dia terjatuh.
"Hm?" Anin tersentak kaget tangannya tiba-tiba digenggam erat oleh Gerald, Gerald lalu mengelusnya lembut tanpa menatap ke pemilik tangannya.
"Gapapa, Ge—gak usah takut, dia baik-baik aja, maafin gue ya?" ungkap Anin memberi senyum tipisnya yang bukannya membuat Gerald tenang, malah semakin bersalah.
"Kok minta maaf? Gua yang salah gak jaga lo, maaf hari ini gua ada urusan diluar kantor dan ceroboh—"
"Enggak, bukan salah lo," sela Anin cepat, "Lo lagi ada urusan diluar itu emang tanggung jawab dan kewajiban lo, gue yang gak hati-hati sampe bisa jatuh."
Gerald beralih menatap lamat Anin, "Kenapa bisa jatuh?"
Sontak Anin terdiam, tanpa sadar tangannya yang digenggam oleh Gerald meremas tangan pemuda itu erat. Gerald menatap ke arah tangan Anin sekilas kemudian kembali melihat ke wajah cantiknya, kedua mata Anin mengerjap pelan lantas menatap ke arah lain.
Anin berpikir, haruskah dia lapor soal Elza dan Yesa?
Atau jangan?
"Kepleset, gue abis dari toilet terus kepleset gara-gara lantainya licin," jawab Anin, memilih jalan aman sepertinya.
"Petugas yang bersih-bersih belum ngepel lantainya? Gua selalu minta mereka pastiin lantai toilet kering." Gerald menghela nafas gusar, "Nanti gua marahin mereka."
KAMU SEDANG MEMBACA
Right One
Hayran Kurgu[terbit/part wattpad masih lengkap] Karena trauma soal keluarga, Anin memutuskan untuk menjalani hidup monoton tanpa menambahkan bumbu asmara di dalamnya. Bangun pagi, kerja, hahahihi bareng temen, lalu pulang buat istirahat. Siklus yang Anin harapk...
