"ANINDIYA! KELUAR GAK LO?!!!"
Odi masih keras mengetuk dan berusaha mendobrak pintu berwarna cokelat yang tertutup rapat itu, gak jarang pisau yang dia pegang juga ikut gadis itu hempaskan ke permukaan pintu. Teriakan kesalnya terdengar ke penjuru ruangan.
Dia lengah, Anin berhasil mengakalinya.
Sekali perempuan itu berhasil keluar dari sini, semuanya tamat. Odi harus benar-benar memastikan Anin dan bayinya merenggang nyawa disini sekarang.
Disini atau Gerald akan tahu semuanya nanti.
BRAK! BRAK! BRAK!
"ANINDIYA BANGSAT KELUAR GAK LO?!" Odi menendang-nendang pintu kamar mandi itu, bisa dia dengar dari luar sini suara air mengalir deras, entah apa yang dilakukan Anin di dalam sana.
"ANIN SIALAN! CEPET KELUAR DARI SITU!!!"
"KELUAR ANIN KELUAR!!!"
"ANINDIYA!"
Odi menghembuskan nafas kasar, keringat juga memenuhi tubuhnya, Odi menatap tangannya yang masih memegang erat pisau dapur milik Anin. Gadis itu berdecak kesal, mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Gue harus habisin lo atau gue yang habis disini, Anin," ujarnya lebih pelan, "Andai lo gak dateng ke hidup Gerald, urusan kita berdua gak akan serumit sekarang."
Odi mendorong pintu itu lagi dengan bahunya, "Gue punya alasan kenapa gue harus lakuin ini, gue harus dapetin apa yang Papa gue mau!"
"Anindiya, lo harus mati, harus mati, lo harus ilang."
Tok! Tok! Tok!
Bukan. Suara ketukan itu bukan berasal dari Odi. Gadis itu menoleh ke arah pintu apartemen yang mengeluarkan bunyi tersebut.
"Anin? Kamu di dalem?"
Odi menegang, dia sama sekali gak mengenali suara siapa di depan pintu.
Tangan Odi kembali mengetuk pintu kamar mandi Anin secara keras, "Anindiya cepet keluar dari situ!" Odi mengotak-atik knop pintunya, masih terkunci, namun suara air yang mengalir udah berhenti.
"ANIN!" pekik Odi memanggil lagi.
Tok! Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu apartemen semakin menjadi.
"ANINDIYA KELUAR! BUKA PINTUNYA!"
Anin sedaritadi gak menyahuti atau membalas Odi sama sekali, Odi benar-benar dibuat geram. Bahu gadis itu dia benturkan berharap usahanya bisa mendobrak pintu itu, dia harus cepat menyelesaikan urusannya disini.
TOK! TOK! TOK!
"ANINDIYA DENGER MAMA GAK?!"
Pip! Pip! Pip! Pip! Pip! Pip! Odi menelan ludahnya kasar, kali ini suara seseorang sedang memasukkan password apartemen Anin terdengar. Odi mendengus sebal, mengumpat kasar lalu mau gak mau melangkah menjauh dari pintu kamar mandi.
Odi hendak menahan pintu itu namun naas begitu dia mendekat pintunya malah lebih dulu terbuka.
Kontak mata terjadi antara Odi dan seorang perempuan paruh baya yang mengenakan rok biru panjang juga kaus putih bermotif bunga tulip, wanita di hadapan Odi nampak terkejut setengah mati mendapati dirinya di dalam apartemen Anin.
Terlebih sekarang, dia memegang sebuah pisau.
"Kamu siapa?!" matanya membelalak kaget.
KAMU SEDANG MEMBACA
Right One
Fanfiction[terbit/part wattpad masih lengkap] Karena trauma soal keluarga, Anin memutuskan untuk menjalani hidup monoton tanpa menambahkan bumbu asmara di dalamnya. Bangun pagi, kerja, hahahihi bareng temen, lalu pulang buat istirahat. Siklus yang Anin harapk...
