Gerald baru selesai memasangkan dasi pada kemejanya saat Anin yang berada di atas ranjang menggeliat pelan, menandakan wanita itu terusik dari tidurnya. Pemuda itu lalu mengambil langkah mendekat, bisa dilihatnya perlahan kedua kelopak mata Anin mengerjap—terbangun sepenuhnya.
"Pagi, sayang," sapa Gerald lembut, tatapan mata Anin kontan mengarah ke arahnya. Gerald duduk di tepi ranjang, mengusap pipi Anin lantas sengaja mengecupnya sekilas, "Kalo masih ngantuk tidur aja lagi."
Anin tersenyum tipis, kembali memejamkan matanya, "Ini jam berapa, Ge?"
"Setengah sembilan," jawab Gerald sambil melirik jam yang telah terpasang di pergelangan tangannya, "Bentar lagi aku berangkat, Nin."
Anin berdehem, membuka matanya cukup lesu, wanita itu mengeratkan pegangan pada bantal yang dipeluknya sepanjang malam. Sedang tangannya yang satu lagi bergerak mengusap perutnya yang udah lebih membuncit lagi karena usia kandungan yang udah masuk ke-7 bulan.
"Tadi Mbak Astri beli alpukat, minta buatin jus ya sama dia nanti," kata Gerald lalu iseng mencubit pelan pipi Anin, "Roti gandum yang kamu minta semalem juga masih ada kalo masih mau dimakan."
"Oke," balas Anin menyahuti. Gerald terkekeh kemudian beranjak dari ranjang.
Anin masih berbaring malas di posisinya menatap Gerald yang menjauh mengambil ponsel di atas sofa, suaminya itu udah rapi dan kelihatan tampan dengan setelan kerjanya. Kemeja hitam dan celana bahan dasar itu mungkin kelihatan biasa aja kalau dipakai orang lain, tapi di mata Anin—kalau Gerald yang pakai, gantengnya bisa berkali lipat.
"Gerald."
"Iya?" Gerald berbalik menatap Anin.
"Aku boleh gak main ke kantor," tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur itu.
Gerald menaikkan satu alisnya, "Mau ngapain?"
"Gak ada, pengen aja—udah lama aku gak ketemu temen-temen aku." Anin menjawab, "Farel, Calista, Hasya sama Nadine apa kabarnya? Pengen liat langsung."
"Kamu gak kontakan sama mereka lagi?"
"Ck, enggak gitu." Anin berdecak pelan, "Pengen ketemu langsung, mereka kerja mulu bisanya cuma weekend, sedangkan kalo weekend aku mah sama kamu terus sekarang." wanita itu mengerucutkan bibirnya manyun.
Gerald kedengaran bergumam lama seperti menimbang-nimbang permintaan Anin, "Tapi hari ini aku ada meeting penting, gak bisa nemenin kamu," jelasnya.
"Loh, siapa yang minta kamu temenin?" delik Anin menyipitkan matanya, "Aku kan cuma minta ijin kamu doang, gak minta temenin."
"Kenapa gitu?" nada Gerald kedengaran gak terima.
"Kamu sibuk, aku tau diri, Gerald," dengus Anin menoleh ke arah lain, "Aku bisa jaga diri kok, kamu gak usah kelewat protektif deh."
Dalam hati Gerald berdecak sendiri, gimana gak makin protektif kalau itu perut udah nambah gede?
"Paling sekitar jam satu atau setengah dua aku ada di ruangan, gapapa?" dengan berat hati Gerald mengijinkan, "Kamu dateng ke kantor jam segituan aja ya?"
"Gak mau, aku mau ke kantin tenggara lah." Anin ngeyel.
Gerald menghela nafas, yang tadinya berkacak pinggang jadi mengurut pelipisnya, pemuda itu menatap Anin yang memasang ekspresi tanpa dosa di depannya, "Nanti kabarin ke aku kalo kamu udah sampe, minta anterin Pak Arif, di kantor juga jangan banyak kesana kesini, duduk anteng di ruangan Calista aja bisa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Right One
Фанфикшн[terbit/part wattpad masih lengkap] Karena trauma soal keluarga, Anin memutuskan untuk menjalani hidup monoton tanpa menambahkan bumbu asmara di dalamnya. Bangun pagi, kerja, hahahihi bareng temen, lalu pulang buat istirahat. Siklus yang Anin harapk...
