"Kenapa kita pulang?" Anin kebingungan, sepanjang perjalanan Gerald betah diam gak menjawab pertanyaannya sepatah kata pun, "Acaranya belom selesai, loh?"
"Gak sopan kamu main pulang-pulang aja, gimana juga itu acara punya kamu, apa nanti tanggapan yang lain liat kamu mendadak gak ada disana?"
"Gerald, aku kayak ngomong sama patung, kamu kenapa sih daritadi diem doang????"
Anin tambah frustasi saat mobil memasuki pekarangan rumah mereka, bukan frustasi karena tiba-tiba diseret pulang, Anin frustasi karena Gerald gak merespon. Diam selayaknya patung, pemuda itu fokus ke jalanan dengan tampang datarnya.
"Noah belom dijemput, harusnya kita ke rumah Mami dulu."
Gerald malah mematikan mesin mobil, mencabut kunci dari tempatnya.
"Aku salah apa sih, Ge?!"
Dua orang itu keluar dari mobil, Anin menyusul langkah besar Gerald yang masuk ke dalam rumah. Wanita itu menyugar poninya ke belakang, menarik tangan Gerald supaya berhenti dan menatap ke arahnya.
"Kamu marah sama aku?" Anin menatapnya lekat, "Aku abis ngelakuin apa sampe buat kamu marah?"
Gerald kontan mengerjapkan mata, "Enggak, aku gak marah," jawabnya lalu menepis pelan tangan halus Anin dari lengannya. Gerald memutus kontak mata mereka, berbalik badan naik ke tangga menuju kamar mereka.
Anin berdecak pelan, gak menyerah membuat Gerald buka mulut. Rasanya sangat aneh karena ini pertama kalinya Gerald berlaku selayaknya anak kecil ngambek, diajak ngomong gak mau, ditanya juga gak jawab. Kalau begini gimana Anin bisa tahu pokok permasalahannya dimana?
"Gerald," panggil Anin, dia meletakkan topi yang dipegangnya ke atas meja nakas, menghampiri Gerald yang sekarang berada di walk in closet, hendak mengganti pakaiannya disana.
"Kamu ngambek kenapa? Tiba-tiba ngajak pulang, tadi pagi kamu yang paling semangat ngajak aku kesana, kan aneh banget?"
Gerald yang kemungkinan risih juga ditanya terus menerus, lantas melempar kaos putih yang baru dia lepas dari tubuhnya ke lantai, mengagetkan Anin, pemuda itu lalu berkacak pinggang menatap Anin yang berdiri di hadapannya.
"Kamu beneran gak peka apa pura-pura gak tau sih?"
Ekspresi Anin langsung melongo, sedikit menganga kaget menatap suaminya yang santai berdiri di depannya tanpa mengenakan pakaian atas.
"Lah, memangnya aku ngapain? Perasaan aku gak ada buat salah, disana aku cuma ngobrol sama Calista, Farel, terus Kevin juga—" Anin mengerjapkan mata, berhenti bicara, menatap Gerald yang langsung buang muka tepat setelah dia menyebut nama-nama barusan.
Gerald membuka salah satu lemari, menarik kaos warna navy dari sana untuk dipakai.
"Ka-kamu marah aku ngobrol sama mereka?" tanya Anin hati-hati, nadanya pelan, berbanding terbalik dengan raut wajahnya yang menahan tawa geli.
Ucapan Anin seratus persen benar, Gerald langsung melengos pergi dari hadapannya. Berjalan kembali masuk ke kamar gak mempedulikan pertanyaan Anin. Anin menaikkan kedua alisnya, memutuskan untuk ganti pakaian juga sebelum menyusul Gerald lagi.
"Gerald, kamu tau kan mereka temen-temen aku, kenapa harus marah sih?" Anin buka suara lagi, wanita yang telah mengenakan dress rumahan bertali spaghetti itu ikut naik ke atas ranjang mendekati Gerald, "Kayak anak kecil aja masalah sepele dijadiin bahan cemburu."
"Dih, siapa yang cemburu?" Gerald mendelik tanpa mengalihkan pandang dari layar ponsel.
"Terus apa namanya kalo bukan cemburu? Kamu tiba-tiba banget nyamperin, main peluk-peluk depan orang banyak, nyeret aku pulang dari sana."
KAMU SEDANG MEMBACA
Right One
Fanfiction[terbit/part wattpad masih lengkap] Karena trauma soal keluarga, Anin memutuskan untuk menjalani hidup monoton tanpa menambahkan bumbu asmara di dalamnya. Bangun pagi, kerja, hahahihi bareng temen, lalu pulang buat istirahat. Siklus yang Anin harapk...
