27; the past

97.6K 5.7K 190
                                        

"Hari ini gak dateng sama suaminya, Bun?"

Anin meresponnya dengan menggeleng pelan, sekarang dia tengah duduk manis di ruangan Dokter Elvin—Obgyn yang bertugas jadi dokter kandungan Anin sejak masa bedrest beberapa bulan lalu. Dokter pilihan keluarga Gerald untuk menangani kehamilan menantu mereka yang satu ini.

Selesai menjalani pemeriksaan kehamilan seperti biasa, Anin tinggal menunggu hasilnya.

"Bianaka sibuk ya?" tanya Elvin sambil menuliskan sesuatu di catatannya, "Gapapa Bun saya maklum, perusahaan sebesar Candala pasti banyak urusannya."

Keluarga Rappa yang merupakan keluarga Dokter Elvin udah lama akrab sama keluarga Candala. Bahkan kalau dengar cerita dari Gerald, dulu kakeknya juga dirawat pribadi oleh Ayahnya Elvin, istilah lainnya memang udah turun temurun keluarga Candala mempercayakan urusan kesehatan mereka sama anak keluarga Rappa.

Gak mengherankan Elvin bisa tahu jelas dan detail soal Gerald beserta kerjaannya itu.

"Nah ini foto usg tadi," kata Elvin menyerahkan dua lembar kertas foto ke Anin, "Syukurlah bayinya sehat banget ini, kamu rajin-rajin terus minumin vitamin sama makan-makanan yang sehat ya, Nin."

Anin menatap lembar foto di tangannya, senyumnya mengulas manis tanpa dia sadari. Di foto itu terlihat bayi dalam kandungannya, sosok yang selama ini merepotkan Anin dalam segala hal, sekaligus menjadi alasan perubahan besar di hidup Anin.

"Gak mual-mual kayak awal kan? Kamu ada keluhan dari terakhir jadwal pemeriksaan?"

"Gak ada kok, aman."

Elvin tersenyum mendengarnya, "Baguslah." wanita dewasa itu membuka ponselnya, "Nanti keseluruhan hasil pemeriksaannya saya kirim ke email kamu juga ya, Nin. Ditunggu."

Anin gak menyahuti perkataan Elvin, dia masih sibuk memperhatikan lamat lembar foto di tangannya. Sosok mungil yang detak jantungnya nyaris membuat Anin menangis setiap mendengarnya. Anin gak bisa membayangkan apa jadinya kalau dulu dia bertindak ceroboh dan tanpa pikir panjang melenyapkan makhluk kecil gak berdosa itu.

"Beneran kamu gak mau tau jenis kelaminnya?" Elvin bertanya memastikan, pasalnya kandungan Anin udah menginjak lima bulan, jenis kelamin bayi mereka udah bisa dilihat sekarang.

"Bulan depan aja, Dok," balas Anin masih dengan senyumnya, "Saya sama Gerald sepakat mau tau sama-sama bulan depan, biar kagetnya barengan."

Elvin terkikik geli, "Oke dimengerti."

Anin menyimpan buku dan foto usg miliknya ke dalam tas, bersiap beranjak sambil merapikan sedikit dress yang dia pakai hari ini. Gerak-geriknya tentu diperhatikan Elvin, wanita itu jadi bertopang dagu mengulas senyum menatap istri cantik si bungsu Candala.

"Oh iya Nin," ujar Elvin menginterupsi, Anin yang mau mengucapkan terima kasih dan berpamitan jadi mengurungkan niatnya.

"Iya?"

Elvin memperbaiki posisinya, "Saya hampir lupa bilang—kalo si Adek mau dijengukin Ayahnya udah boleh tuh."

Dahi Anin berkerut halus, matanya mengerjap beberapa kali, mencerna kalimat Elvin barusan. Raut polos Anin terpampang nyata, tapi gak lama karena beberapa detik berikutnya Anin malah tersentak kaget sendiri.

"Oh?" mulutnya membentuk huruf O, Anin baru menyadari maksud kalimat Elvin. Spontan wajahnya memerah malu.

"Asal mainnya jangan kasar-kasar, tapi mainnya jangan terlalu sering juga ya," lanjut Elvin lalu mengedipkan satu matanya menggoda Anin, "Satu lagi bilangin Bianaka juga, kalo keluar jangan di dalem, bahaya nanti kontraksi."

Right OneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang