"Huh?"
Tubuh Anin sedikit terdorong ke belakang, tangan Gerald tentu sigap menjadi bantalan supaya bagian belakang tubuh istrinya gak membentur ujung meja rias. Gerald oke-oke aja saat punggung tangannya berbenturan dengan kerasnya kayu, yang terpenting Anin gak kena.
Kedua tangan Anin reflek berpegangan pada kaos yang dikenakan Gerald, sementara Gerald mendaratkan tangannya di pinggang Anin. Memberi usapan lembut ke beberapa titik punggung Anin sembari bibirnya mulai melumat bibir mungil perempuan itu.
Anin terkaget-kaget menyadari ritme pagutan Gerald gak santai, terkesan menggebu-gebu melahap habis bibirnya. Anin melenguh pelan, kesusahan mengimbangi ciuman suaminya kali ini. Cukup lama gak melakukan kegiatan ini ternyata punya efek yang lumayan juga.
Gerald melepasnya sejenak, mengambil nafas dalam satu tarikan lantas kembali menyatukan bibir mereka, Anin bahkan belum sempat dibiarkan bernafas dengan benar. Gerald terlalu memburunya.
Mata Anin terpejam erat, merasakan telapak tangan Gerald yang hangat menyentuh pipinya turun ke bagian leher, tangan Anin yang semula berpegang di kaos Gerald juga pelan-pelan mengubah posisi mengalung erat di leher pemuda itu.
Posisi mereka yang dekat terpaksa membuat Gerald menahan bobot tubuhnya supaya enggak menyentuh perut Anin, rasanya cukup gila untuk Gerald karena harus menahan tubuhnya sambil memberi pagutan intens di bibir kesukaannya.
Gerald baru melepasnya saat Anin menepuk keras bahunya memintanya selesai, Gerald memutusnya, dia terkekeh renyah—suara berat nan serak itu terdengar tepat di telinga Anin, bulu kuduk perempuan itu kontan meremang.
Anin kira kegiatan mereka itu selesai begitu Gerald menarik lengannya, mengajak Anin pergi dari walk in closet ke kamar mereka, namun sepertinya Anin salah paham, mendadak bingung kala Gerald kembali memojokkannya ke dinding.
"Ge—kamu yang be-bener aja?!" Jantung Anin dibuat berpacu kencang, Gerald lagi-lagi melakukannya. Melumat bibirnya pelan, ritme halus yang gak lama dibawa lumayan kasar.
"A-ah," ringis Anin ketika bibir bawahnya digigit pelan sama Gerald, tanpa aba-aba lidah pemuda itu menyelusup masuk menemui pasangannya. Anin melenguh keras, tangannya sempurna berpegangan di kedua sisi bahu Gerald, sementara Gerald menekan tengkuk Anin.
Memperdalam ciuman mereka, menyalurkan hasrat yang menumpuk selama beberapa waktu belakangan, mata Anin dibuat terpejam lantas terbuka lalu terpejam lagi berulang kali. Gerald seakan menyampaikan emosi rasa rindunya dalam pagutan kali ini.
Menunjukkan sebuah perasaan yang belum pernah dia ungkap secara langsung.
"Hh... hah... hah.." nafas Anin terengah, dadanya naik turun hebat.
Dan Gerald belum mau selesai.
"Damn, i can't stop," umpat pemuda itu, suara beratnya berbisik.
Lagi, lagi, dan lagi.
Tungkai kaki Anin melemas sendiri, Gerald terus memagut bibirnya, melumatnya dengan ciuman panas. Akhirnya Anin pasrah, bahkan sewaktu Gerald membawanya duduk di ranjang, Anin hanya melenguh pelan—mungkin bibirnya udah sedikit membengkak sekarang, Gerald gila.
Tok! Tok!
Anin menatap Gerald, memberi isyarat menyudahi. Tapi Gerald malah balik menatapnya nakal, menyeringai di sela ciuman mereka.
Tok! Tok! Tok!
"U-udah, Ge—astaga ka-kamu ini—" ujungnya Anin mendorong Gerald kuat, menjauhkan tubuh Gerald darinya.
Gerald berdecak sebal, terpaksa menyudahi kegiatan menyenangkan ini. Pemuda itu mengusap kedua belah bibir Anin dulu sebelum menyeka bibirnya sendiri, Gerald berbalik badan dengan raut wajah tertekuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Right One
أدب الهواة[terbit/part wattpad masih lengkap] Karena trauma soal keluarga, Anin memutuskan untuk menjalani hidup monoton tanpa menambahkan bumbu asmara di dalamnya. Bangun pagi, kerja, hahahihi bareng temen, lalu pulang buat istirahat. Siklus yang Anin harapk...
