"Ini, Ge." Anin menyodorkan sebotol air mineral, kemudian ikut duduk di sebelah Gerald. Keduanya sedang ada di taman yang gak jauh dari kawasan rumah utama Candala.
"Makasih," ucap Gerald menerimanya, membuka tutup botol lantas meneguk air di dalam botol itu sampai tandas setengahnya. Gerald kemudian meletakkan botol di tangannya ke samping tubuhnya, pemuda itu menyandarkan punggung pada bangku taman.
Anin memandang ke langit di atas sana, cerah tapi sepertinya sebentar lagi matahari akan memberi sinar teriknya mengingat jam udah menginjak pukul sepuluh lewat. Mereka berdua bersama Noah yang sekarang sibuk menggenggam botol dot miliknya di dalam kereta stroller, sengaja berjalan-jalan di sekitar.
"Mau pulang gak? Takut Noah kepanasan kalo makin lama disini," ajak Anin lebih dulu beranjak. Gerald setuju-setuju aja, ikut berdiri mengambil botol mineralnya.
"Boleh, kita udah lama juga diluar sini."
Keluarga kecil ini tengah menghabiskan akhir pekan mereka di rumah utama Candala, atas permintaan Tita, kebetulan Shanum dan keluarganya juga lagi berkunjung menginap disini untuk beberapa hari ke depan. Singkatnya Tita mau keluarganya berkumpul lengkap akhir pekan ini.
"Panas ya, nak?" Gerald tersenyum manis sambil mengangkat Noah dari dalam stroller, "Kasian banget anak Papa keringetan," kikiknya pelan mengusap bulir keringat jagung di pelipis Noah. Bayi berusia lima bulan itu mengeluarkan suara lucunya, membuat kedua orang tuanya tertawa gemas.
Anin menyalakan pendingin ruangan di ruang tengah, menyusul Gerald yang lebih dulu duduk di karpet, membiarkan Noah tengkurap di atas karpet bulu itu sambil berusaha meraih benda apa aja yang ada di depannya untuk dimasukkan ke mulutnya. Maklum di usia segitu, Noah lagi senang-senangnya memasukkan benda apa pun yang dia temui ke dalam mulut.
"Kalian berdua darimana?" suara Tita terdengar, derap langkah kakinya dari arah tangga reflek membuat Gerald dan Anin menoleh.
Gerald yang menjawab, "Jalan-jalan di sekitaran bentar, nyari angin seger tadi cuaca paginya lagi enak."
Tita mengangguk-angguk paham, wanita yang tetap terlihat cantik meski usianya udah nyaris menyentuh setengah abad itu pergi menuju dapur, tapi gak lama kembali lagi mendatangi ruang tengah bersama setoples kacang almond di tangannya.
Gak lama dari kedatangan Tita, Shanum juga terlihat menuruni tangga, menambah kesan ramai di pagi menjelang siang ini.
"Halo, Noah," sapa Shanum ceria lalu tiba-tiba membawa Noah ke gendongannya, "Kamu abis darimana nih?" ucapnya bertanya seraya menciumi pipi gembul bayi gemas itu.
"Aca mana?" Tita yang tanya, gak melihat keberadaan cucu pertamanya.
Shanum menoleh, "Tidur, Mi—keasikan nonton paw patrol di iPad, gak sadar malah turu anaknya."
"Belom siang gini tumben ketiduran," sahut Anin.
"Mungkin cuacanya lagi enak ya, dia nyaman terus tidur deh."
"Yaudah biarin aja," ujar Tita kemudian bergabung duduk di karpet bawah, mengambil Noah dari gendongan Shanum, "Oma mau main sama Noah dulu sekarang." Noah tertawa lucu, kikikan khas suara bayinya sukses buat Tita gemas menciumi kuat pipi-pipinya, "Aduh, Oma kayak berasa muda lagi, berasa lagi liat Gerald kecil."
Shanum mengambil satu mainan khusus sensory play yang ada disana, memberinya ke Noah—langsung diambil bayi itu dan dimasukkan ke dalam mulut mungilnya. Saking gemasnya, Shanum sampai menggigit bibir bawahnya, greget kepengin gigit buntalan hidup ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Right One
Fanfiction[terbit/part wattpad masih lengkap] Karena trauma soal keluarga, Anin memutuskan untuk menjalani hidup monoton tanpa menambahkan bumbu asmara di dalamnya. Bangun pagi, kerja, hahahihi bareng temen, lalu pulang buat istirahat. Siklus yang Anin harapk...
