3 ; Kebebasan

14.8K 1.2K 51
                                        

SEBUAH RUANG TERASA kosong, meski terdapat dua insan yang berada di sana, duduk berhadapan dengan pembatas sebuah meja kerja.

Detak jarum jam dinding terdengar lebih nyaring akibat kesunyian. Diikuti oleh dengung suara pendingin ruangan. Suara yang biasanya tak diperhatikan itu tiba-tiba jadi lebih menonjol berkat sepasang orang yang menolak untuk berbicara ... atau mungkin hanya salah satunya saja. Sosok yang lain terlihat menunggu balasan, mengekspektasikan lawan bicaranya untuk memecah keheningan.

Detik demi detik berlalu. Pertanyaan yang terucap tak kunjung terjawab.

Seorang wanita dewasa di usia pertengahan empat puluhan mengembuskan napas pelan. Dia membenarkan letak kacamata dan menarik kursi ke depan. Dia mengistirahatkan kedua tangan di atas meja. Bahasa tubuhnya rileks. Dia terlihat bersahabat, seolah menyambut kehadiran seseorang yang kini menemani-nya.

"Kita sudah sering mengobrol sejak enam bulan lalu. Jadi, saya yakin kamu diam bukan karena lagi bersikap segan pada saya, Mas Nares," tutur sosok itu. Suaranya mengalun rendah, menenangkan. "Sekarang adalah sesi terakhir kita, setidaknya selagi kamu masih di sini. Kamu nggak mau memakai kesempatan ini untuk bicara?"

Sosok lain yang berada di ruangan itu, tak lain, adalah Nareswara Caturangga. Tak seperti perempuan yang memandangnya dengan sorot bersahabat, Nares terlihat enggan untuk sekadar melihat wajah orang itu. Pandangannya jatuh pada jendela yang terutup tirai. Dia duduk bersandar di kursinya. Air wajahnya kosong, cenderung malas, seolah jiwa dan raganya sedang berada di tempat yang berbeda.

Dibandingkan setahun yang lalu, helaian rambutnya terlihat sedikit lebih panjang. Tubuh jangkungnya tampak ringkih. Raut wajahnya pucat, dengan bibir kering dan jejak gelap di bawah mata. Hanya dengan melihat, orang yang dulu mengenalnya akan menyadari perubahan itu.

Nareswara seperti baru terjungkal ke dalam jurang tak berdasar. Kini, dia kembali, tetapi tidak dengan kondisi yang sama lagi.

Detak jarum jam masih terdengar nyaring. Nares memandang perempuan di hadapannya.

"Apalagi yang mau dibicarakan?" ujar sosok itu setelah sekian lama diam. "Ibu mau saya ngoceh apa? Saya kelihatan pengen ngomong?"

Nada suaranya sangat tidak acuh, terkesan kurang ajar.

Perempuan di hadapannya tersenyum simpul. Dia tidak terlihat tersinggung.

"Well, saya yakin setelah keluar dari sini kamu nggak akan mau ketemu saya lagi buat konsultasi. Saya perlu membuat report terakhir tentang kamu."

Nares menyipitkan mata. Dia lalu mendengkus dan mengibaskan tangan.

"Nonsense. Ibu cuma mau menjadikan saya bahan penelitian?"

"Saya hanya mau tau perkembangan kamu," timpal sosok itu. Dia menegakkan diri, lalu mengamati Nares dengan seksama. "Masa rehabilitasi biasanya hanya 90 hari. Proses pemulihannya bisa sampai dua tahun, biasanya pasien bisa keluar dari tempat rehab dalam kurun waktu 90 hari itu, sisanya kami akan melakukan pemantauan saja, biar nggak ada relapse. Kalau kamu 'kan udah mondok di sini hampir setahun. Pemeriksaan fisikmu juga sudah baik, kamu sudah bersih. Sekarang, yang perlu saya ketahui tinggal keadaan psikismu."

"Bu Lydia mau tau saya masih gila atau enggak?" balas Nares dengan sinis.

Lydia, seorang praktisi psikologi yang bekerja di tempat rehabilitasi ini, tak terlihat terkejut dengan balasan frontal pasiennya. Dia sudah lama bersinggungan dengan Nareswara Caturangga. Kurun waktu enam bulan sudah cukup untuk lebih memahami dan mengenalnya.

"Saya ingin memastikan kamu bisa kembali ke masyarakat dengan baik, Mas Nares," koreksinya sopan. "Apakah kamu ada keinginan untuk kembali memakai obat-obatan itu?"

Broken Glasses [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang