TAK PERNAH SEKALIPUN Nares membayangkan dirinya akan berada di kondisi ini, mengantar seseorang dengan putus asa ke rumah sakit, berharap jika sosok itu masih bisa tertolong, bahwa mereka tidak terlambat untuk menyelamatkannya.
Selama ini, rumah sakit adalah tempat yang sangat jarang dia kunjungi. Rumah sakit lekat dengan bau obat-obatan dan jarum suntik, dua hal spesifik yang mengingatkannya pada narkotika dan kehidupan kacaunya. Dia tidak menyukainya. Dan jika tidak diperlukan, dia takkan sudi untuk datang kemari.
Dulu, dia memang sering menyaksikan kenalannya diantar ke tempat ini ketika mereka terluka berat karena jatuh di medan balap liar. Namun, mereka bukanlah Wilona. Mereka hanya orang asing, sekumpulan orang yang mengaku sebagai teman, tetapi siap untuk menusuknya dari belakang.
Nares tak begitu peduli dengan keadaan mereka. Dia tak merasakan apa pun jika orang-orang itu meninggal. Dia takkan bersedih jika mereka berakhir cacat. Dia tak sedikit pun merasa putus asa, apalagi sampai memohon agar sosok tersebut diberi kesempatan untuk kembali membuka mata dan menjalani hidup normal.
Nares tak pernah merasa setakut ini, kecuali ketika dia di bawah pengaruh obat dan mulai berhalusinasi mengenai ketakutan terbesarnya, mengenai kesendirian dan pengasingan.
Nares hampir tak pernah merasa tercekik hanya karena melihat seseorang terluka parah dan berlumuran darah. Dia tak pernah merasa tak berdaya ketika melihat sosok lain berada di ambang kematian dan bisa meninggalkannya, kapan saja, untuk selamanya.
Takut yang dia rasakan sekarang adalah sesuatu yang baru. Dan Nares hampir tak bisa mengontrol gejolak emosi itu. Dia ingin berteriak dan menyuruh pihak medis untuk memastikan keselamatan Wilona, bagaimanapun caranya, tak peduli jika dia harus memojokkan mereka dan malah memperparah keadaan.
Isi kepalanya runyam.
Nares keluar dari mobil dan setengah berlari ke dekat ambulans yang sudah berhenti di depan pintu rumah sakit. Sekumpulan petugas medis yang lain keluar dari rumah sakit dengan mendorong sebuah brankar. Pihak ambulans memindahkan Wilona ke ranjang dorong tersebut, kemudian mereka segera membawa Wilona ke dalam ruang gawat darurat. Mereka bergerak dengan cepat selagi menanyakan kondisi Wilona pada petugas medis yang mengantarnya.
Nares mengikuti mereka, dengan si pekerja rumah tangga yang mengekor di belakangnya.
Ketika sampai di depan pintu ruang penanganan, pintu tersebut segera ditutup. Seorang petugas medis yang lain menghentikannya agar tidak ikut masuk.
"Kami akan menghentikan pendarahannya," jelasnya singkat. "Selagi menunggu, Bapak bisa mengurus administrasi pendaftaran pasien dulu. Kami akan sangat terbantu."
Di dalam ruang penanganan, seorang dokter dan beberapa perawat tampak mulai memeriksa denyut nadi Wilona dan menyiapkan selang infus untuknya. Nares ikut mendengar arahan-arahan tegas dari si dokter, juga melihat gerakan cepat para perawat yang mengikuti instruksi.
Nares melihat dari celah pintu. Dia juga turut mendengar mesin pencatat denyut jantung yang mulai berbunyi. Bising suara mesin itu menandakan denyut jantung yang tidak stabil. Nares menggertakkan gigi ketika mendengarnya, tahu betul bahwa bunyi itu menandakan parahnya kondisi Wilona.
Dia kembali menatap si perawat dan memberi anggukan kaku. Pintu kaca pun tertutup di depannya. Nares tak lagi dapat melihat situasi di dalam sana dengan jelas. Akan tetapi, dari celah kaca buram itu, dia melihat sang dokter yang menerima alat pemacu jantung dari si perawat. Dia kemudian mulai menggunakannya untuk memancing denyut jantung pasiennya yang mulai melemah.
Seluruh tenaganya seolah dirampas paksa ketika dia menyaksikan itu semua. Nares mengepalkan tangan saat terbayang paras pucat Wilona, wajah dengan bibir yang membiru dan terlihat tak bernyawa, tubuh lunglainya yang dingin, darah yang melumuri pakaian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
RomanceBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)