"KARENA KEBODOHAN DIA sendiri," ucap seorang wanita tanpa sedikit pun rasa simpati. "Kenapa juga dulu dia mau menikah sama laki-laki bermasalah? Kita semua yang sekarang kena batunya. Kalau udah begini, mau gimana? Dia nyoba bunuh diri, tapi kita yang repot, harus berurusan sama Jonathan lagi. Ini kedua kalinya. Kenapa dia selalu ngerepotin kalau niatnya mau mati—"
"Jessica," potong Anthony Winanta. Dia menoleh, menatap sang anak tiri dengan penuh peringatan. "Jaga ucapan kamu."
Jessica terpaku untuk sesaat. Dia terkejut. Namun, keterkejutan itu tak bertahan lama. Dia telah kembali menegakkan diri dan memperbaiki posisi duduknya. Air wajahnya masih terlihat tak acuh.
"Yang kukatakan itu betul, kan, Mah?" Dia menoleh pada Shinta, ibu kandungnya. "Wilona kelihatannya aja mandiri. Tapi, sebetulnya dia sangat merepotkan kita. Apalagi setelah kasus perceraiannya itu. Perusahaan keluarga kita hampir kolaps gara-gara diputus investasinya sama Candrakusuma. Ayah bahkan hampir dipenjara. Semuanya kacau, tapi Wilona cuma bisa lari dengan bunuh diri. Udah dibantu pun sekarang dia mengulanginya lagi. Kerjaannya cuma menyusahkan—"
"Lo pernah dipukulin Ezra?" potong Nares saat itu. Dia menatap lurus kakak iparnya yang sedang terang-terangan merendahkan Wilona.
Ruang tunggu kamar inap VIP itu terdengar senyap. Sejak kedatangan mereka ke sini, Nares belum berbicara banyak. Dia hanya menjabat tangan sang ayah dan ibu mertua, kemudian mempersilakan mereka melihat kondisi Wilona yang masih dalam keadaan koma.
Kakak iparnya ini datang bersama mereka. Dia tidak berkomentar banyak saat baru sampai. Ucapan pedas itu baru terdengar setelah mereka keluar dari kamar pasien.
Kondisi tak berdaya adik iparnya seolah memantik kemarahan alih-alih rasa iba. Nares mencoba untuk diam sejak mendengar Jessica berkeluh-kesah mengenai betapa lemah dan merepotkannya Wilona. Dia mencoba meredam rasa muak itu karena kemarahannya hanya akan mengeruhkan suasana. Hanya saja, dia tak lagi tahan ketika terus-terusan mendengar ocehan itu.
Jessica benar-benar tidak tahu cara untuk diam. Nares merasa perlu untuk mengajarinya diam.
Dia menatap sosok itu dengan sorot tak terkesan. Nada suaranya penuh penekanan. Orang-orang di dalam ruang tunggu itu tampak terpaku, tak menyangka bahwa Nares akan bereaksi dengan keras.
"Lo pernah dicekik, dianiaya, dipermalukan, dan dibuntuti setiap hari sampai orang itu tau tiap gerak gerik lo?" tanya Nares lagi, retoris. Pandangannya tampak tajam, menusuk. "Hidup dia udah terpuruk. Lo mau tau kenapa dia mau mati? Gimana kalau lo coba menggantikan dia dan merasakan semua yang dia rasakan? Lo bakal tetap waras sehabis diperkosa?" Nares berucap dengan blak-blakan, tidak peduli dengan ekspresi tidak nyaman di sekitarnya. "Lo bilang dia bodoh karena mau menikah dengan orang bermasalah. Kalau gitu, apa bedanya sama lo yang ikut memaksakan pernikahan gue sama dia? Lo mau sok nggak tau tentang riwayat idup gue yang seburuk apa?"
Jessica merapatkan bibir. Dia balas menatapnya nyalang.
"Karena kami tau kalau kamu nggak seburuk itu. Kamu pilihan orang tua kami. Buktinya, sekarang—"
"I'm the worst person to be matched with her. Gue bahkan sadar dan mengasihani dia. Nasibnya benar-benar buruk," timpal Nares, tak memberi Jessica waktu untuk menuntaskan ucapan. "Cuma karena gue nggak sebejat Jonathan, bukan berarti gue orang baik. Keluarga gue menginginkan pernikahan ini karena suatu kondisi. Dan gue yakin lo juga tau."
Nares kini tak hanya menatap Jessica, dia turut melihat kedua mertuanya.
"Sejak awal kalian nggak peduli dengan siapa Wilona menikah, selagi pernikahan itu menguntungkan kalian. Kalau tujuan kalian emang begitu, jangan berani-berani menyalahkan dia atas kegagalan pernikahan. Saya mengabari kalian tentang keadaannya karena kalian masih keluarga dia. Semisal kalian merasa direpotkan, seharusnya dari awal kalian nggak perlu datang ke sini. Wilona nggak akan rugi kalau kalian nggak datang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
RomanceBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)